Petani Muda di Klaten Kembangkan Melon Sweet Lavender dan Golden Aroma

TANIMERDEKA – Petani muda di Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Klaten, mulai mengembangkan budidaya melon dengan sistem greenhouse. Cara tersebut dipilih untuk menjaga tanaman dari serangan hama sekaligus menghasilkan buah dengan kualitas yang lebih terjaga.

Salah satu petani yang mengembangkan usaha tersebut ialah Irfan Tri Kusuma dari Pamenang Farm. Ia membudidayakan dua varietas melon, yakni Sweet Lavender dan Golden Aroma.

Kebun melon milik Irfan menarik perhatian Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo saat kegiatan Sambung Rasa di Desa Joho.

Hamenang bersama Ketua TP PKK Klaten Fahrani Hamenang bahkan turun langsung memetik melon di Green House Pamenang Farm. Lokasi kebun tersebut tidak jauh dari tempat kegiatan Sambung Rasa.

Hamenang mengapresiasi usaha pertanian yang dikembangkan masyarakat Desa Joho. Menurutnya, pengembangan komoditas pangan tidak hanya dapat membuka peluang ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan desa.

“Maturnuwun (Terimakasih) di Joho ini luar biasa, ketahanan pangan (Ketapang) sudah bergerak dan berkembang. Ada jagungnya, ada buah-buahannya, dan sudah ada proteinnya. Kedepan semoga semakin berkembang. Ini bisa menjadi contoh bagi Desa yang lain,” ujar Hamenang.

Irfan mengatakan budidaya melon tersebut juga menjadi cara untuk mengajak anak muda melihat pertanian sebagai pilihan usaha. Ia ingin menunjukkan bahwa menjadi petani dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih modern.

“Kami budidaya melon jenis sweet lavender dan golden aroma. Perbedaannya yang sweet lavender lebih renyah dan golden aroma lebih lembut. Manisnya itu berbeda dengan melon-melon biasanya,” terangnya.

Budidaya melon tersebut sudah berjalan sekitar dua bulan. Irfan memilih sistem greenhouse karena tanaman lebih terlindungi dari hama dan kondisi pertumbuhannya dapat lebih mudah dikendalikan.

Panen perdana menjadi hasil awal dari budidaya tersebut. Irfan kemudian menyiapkan rencana untuk mengembangkan kebun melon menjadi lokasi wisata petik buah.

“Ini panen yang perdana, setelah ini kami buda wisata petik buah melon di Desa Joho, dengan membayar Rp. 35 ribu per kilo. Kemudian jika masih sisa kami akan jual ke pemborong,” terangnya.

Konsep tersebut membuat hasil panen tidak hanya bergantung pada pembeli dalam jumlah besar. Masyarakat dapat datang langsung ke kebun dan membeli melon dari hasil budidaya petani.

Pengembangan melon juga membuka peluang bagi desa untuk memiliki komoditas pertanian yang bernilai ekonomi. Sistem *greenhouse* memberi ruang bagi petani untuk mengembangkan budidaya dengan pendekatan yang lebih terkontrol.

Potensi tersebut menjadi salah satu bagian dari pengembangan pertanian Desa Joho. Pemerintah Kabupaten Klaten melihat keberagaman komoditas sebagai modal untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat desa.

Kegiatan Sambung Rasa di Desa Joho juga diisi dengan panen jagung bersama Bupati Klaten, pemberian bantuan, dialog dengan masyarakat, dan berbagai layanan Pemerintah Kabupaten Klaten.[]

Berita Terkait

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini