TANIMERDEKA – Lahan yang selama bertahun-tahun sulit dimanfaatkan karena sering terendam air kini mulai digarap untuk pertanian di Desa Kayu Rabah, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Kawasan tersebut masuk dalam program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dengan target pengembangan lahan mencapai 1.366 hektare.
Hingga saat ini, sekitar 515 hektare lahan telah selesai diolah dan siap ditanami. Brigade Pangan bersama kelompok tani juga telah menanam padi di sekitar 421 hektare.
Pemanfaatan lahan ini upaya memperluas areal produksi pangan di Hulu Sungai Tengah. Sebelumnya, genangan air menjadi kendala utama bagi masyarakat untuk mengolah lahan secara maksimal.
Pembangunan tanggul keliling dan sejumlah tanggul kecil mulai mengubah kondisi kawasan tersebut. Lahan yang sebelumnya kurang produktif kini mulai dimanfaatkan untuk bercocok tanam.
Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Qut Nandra Willi Yanti, mengatakan perubahan kondisi lahan tersebut membuka peluang baru bagi petani.
Ia menghadiri gerakan tanam serempak yang digelar di lahan CSR Desa Kayu Rabah, pada Senin, 31 Agustus 2026.
“Ini merupakan langkah yang sangat baik. Lahan yang sebelumnya sulit dimanfaatkan karena sering terendam, sekarang mulai bisa digarap dan ditanami. Tentunya ini harus kita dukung bersama,” ujar Qut Nandra.
Menurut dia, pekerjaan tidak boleh berhenti setelah lahan dibuka dan benih ditanam. Petani membutuhkan pendampingan agar tanaman dapat dipelihara hingga masa panen.
“Kita berharap tidak berhenti sampai tanam saja. Setelah ini harus ada pendampingan, bagaimana pemeliharaannya, bagaimana nanti sampai panen. Petani harus benar-benar merasakan manfaat dari program ini,” katanya.
Qut Nandra menilai keberhasilan program cetak sawah baru akan terlihat dari kemampuan petani mengelola lahan secara berkelanjutan dan menghasilkan panen.
“Kami dari TMI HST tentu sangat mendukung program-program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani. Karena kalau petani maju, pertanian juga maju, dan ketahanan pangan daerah semakin kuat,” tuturnya.
Sementara itu Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang, Andi Amal Hayat Makmur, mengatakan lahan yang telah siap harus segera dimanfaatkan untuk kegiatan tanam.
Menurut dia, musim kemarau tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan upaya pemanfaatan lahan yang sudah siap.
“Kita sekarang ada di HST. Kami sangat berharap untuk setiap tanam itu di lokasi Oplah 2024 maupun 2025 dan CSR 2025, saat ini juga ada CSR 2026, meskipun di musim kemarau kita tetap tanam,” jelas Andi.
Ia mengatakan, jajaran UPT Kementerian Pertanian yang bertugas di lapangan diminta terus mencari dan mengidentifikasi lahan yang dapat segera ditanami.
“Sebab, arahan Bapak Menteri Pertanian, di musim apa pun, di kondisi apa pun, kita diminta untuk segera mengidentifikasi lokasi-lokasi yang siap tanam,” tambahnya.
Andi juga meminta persoalan yang dihadapi petani segera dicatat dan dilaporkan. Langkah itu diperlukan agar kebutuhan di lapangan dapat diusulkan kepada pemerintah pusat.
“Sehingga, semuanya bisa tanam di lokasi Opla dan khususnya di lokasi Opla serta cetak sawah,” ujarnya.
Gerakan tanam di Desa Kayu Rabah menjadi bagian dari pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum dapat digunakan secara optimal.
Pekerjaan besar berikutnya adalah menjaga ketersediaan air, memastikan kondisi tanggul tetap berfungsi, serta mendampingi petani selama masa tanam.
Keberhasilan program ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh luas lahan yang berhasil dibuka. Hasil panen dan keberlanjutan pengelolaan lahan akan menjadi ukuran apakah perubahan kawasan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi petani.
Gerakan tanam serempak di lokasi tersebut turut melibatkan pemerintah daerah, jajaran pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, TNI-Polri, penyuluh pertanian, Brigade Pangan, kelompok tani, dan unsur terkait lainnya.[]
