Beranda blog Halaman 72

Kepala BRMP Aceh Prihatin Bendungan Krueng Pase Mangkrak, Petani Aceh Utara Gagal Panen Bertahun-tahun

0

TANI MERDEKA – Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Provinsi Aceh, Agus Susanto, menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi para petani di Aceh Utara yang sudah bertahun-tahun tidak bisa menggarap sawah akibat proyek pembangunan Bendungan Krueng Pase yang belum rampung.

Dalam kunjungan kerjanya baru-baru ini, Agus meninjau langsung lokasi bendungan dan melihat sendiri lahan pertanian yang terbengkalai karena tidak mendapatkan pasokan air irigasi.

Menurutnya, situasi ini harus segera diatasi agar para petani bisa kembali bekerja dan menghasilkan panen seperti sebelumnya.

“Kasihan kita melihat petani. Sawah mereka tidak bisa dibajak karena tidak ada air. Sudah lima tahun petani gagal panen. Ini tentu sangat berdampak pada kehidupan mereka sehari-hari. Saya berharap persoalan Bendungan Krueng Pase ini bisa diselesaikan tahun 2025,” kata Agus Susanto saat berbicara di sela kunjungannya.

Langkah ini juga dilakukan sebagai tindak lanjut dari pernyataan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), saat menghadiri panen raya di Aceh Besar beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Mualem menekankan pentingnya mempercepat pembangunan infrastruktur pertanian, termasuk irigasi dan bendungan, demi mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Aceh.

Dalam kunjungan itu, Agus tidak hanya meninjau fisik bendungan, tapi juga berdialog langsung dengan para petani di lapangan.

Ia mendengar keluhan para petani yang sudah bertahun-tahun hanya bisa pasrah karena tidak bisa menanam akibat saluran irigasi kering.

Kunjungan Agus ke Aceh Utara difasilitasi oleh Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh, Cut Muhammad.

Ia juga menyuarakan keresahan dan keprihatinan atas kondisi petani yang menurutnya menjadi korban dari ketidakpastian proyek bendungan yang tak kunjung selesai.

“Sudah 5 tahun petani di Aceh Utara tidak bisa turun ke sawah karena tidak ada air. Ini akibat kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, sehingga pembangunan Bendungan Krueng Pase terkatung-katung. Petani jadi korban dari ketidakpastian ini,” kata Cut Muhammad.

Menurut Cut Muhammad, kondisi ini bukan hanya berdampak pada hasil pertanian, tapi juga pada kehidupan petani secara keseluruhan. Banyak petani yang kehilangan mata pencaharian dan bahkan ada yang memilih meninggalkan profesinya karena tidak bisa bertahan.

“Ini bukan hanya soal gagal panen, tapi juga soal keadilan. Petani butuh kepastian dan keberpihakan. Pemerintah harus serius menyelesaikan bendungan ini,” tegas Cut Muhammad.

Para petani di Aceh Utara kini berharap besar agar pembangunan Bendungan Krueng Pase segera dirampungkan, sehingga mereka bisa kembali bercocok tanam dan mendapatkan penghasilan seperti dulu.

Wamentan Sudaryono Ajak Koperasi Tani Bersatu Lewat Koperasi Desa Merah Putih

0
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono.

TANI MERDEKA – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengajak koperasi tani di seluruh Indonesia untuk bekerja sama dengan Koperasi Desa Merah Putih.

Ia menyebut kerjasama ini penting untuk memperkuat ekonomi desa dan mempermudah petani dalam mengembangkan usahanya.

Menurut Sudaryono, koperasi tani bisa memanfaatkan forum musyawarah desa untuk membahas kerja sama dengan Koperasi Desa Merah Putih, sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing desa.

Saat ini, ada lebih dari 755 ribu kelompok tani dan 30 ribu gabungan kelompok tani di seluruh Indonesia. Namun, baru sekitar 5 ribu koperasi yang sudah berbadan hukum.

Sudaryono yakin, jika koperasi tani bergabung dengan Koperasi Desa Merah Putih, kekuatannya akan jauh lebih besar dalam mengelola usaha pertanian di desa.

Ia juga meminta para kepala desa ikut aktif bersama kelompok tani untuk merancang model koperasi yang sesuai dengan kondisi desa mereka.

Menurutnya, koperasi bisa membantu petani mendapatkan pupuk, menjual hasil panen, dan mengakses modal usaha.

Selain itu, koperasi juga bisa menjual bahan pangan pokok, membeli hasil panen petani sesuai harga yang ditetapkan pemerintah, serta menyediakan gudang penyimpanan dengan fasilitas penggilingan dan pengering. Sudaryono ingin koperasi menjadi alat yang bisa mempermudah kebutuhan petani di desa.

“Kementan mendukung penuh Koperasi Desa Merah Putih. Koperasi ini harus memberi manfaat besar untuk masyarakat desa, terutama petani,” kata Sudaryono.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas, menjelaskan bahwa pembentukan Koperasi Desa Merah Putih adalah bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025.

Zulhas mengatakan, koperasi ini akan dibuat lengkap. Di dalamnya akan ada warung sembako, kantor koperasi, klinik, apotek, cold storage, dan fasilitas lainnya. Tujuannya agar barang dari produsen bisa langsung sampai ke desa tanpa melalui tengkulak.

“Gapoktan bisa bergabung ke koperasi ini. Kita ingin petani dapat harga yang adil dan hidup yang lebih sejahtera,” ujar Zulhas.

Ia menambahkan, skema penggabungan Koperasi Desa Merah Putih dengan koperasi yang sudah ada, termasuk Bumdes, masih akan dibahas lebih lanjut.[]

Bupati Pandeglang: Tani Merdeka Harus Kawal Program Pangan dan Sejahterakan Petani

0
Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani
Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani

TANI MERDEKA – Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani meminta Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Pandeglang ikut mengawal program pemerintah untuk mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan.

Hal ini disampaikan Bupati usai melantik pengurus DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Pandeglang periode 2025–2030 di Oproom Setda Pandeglang, pada Rabu, 23 April 2025.

“Pandeglang ini lumbung pangan Banten, bahkan nasional. Jadi kehadiran DPD Tani Merdeka harus bisa memberi kontribusi nyata untuk menjaga ketahanan pangan,” kata Dewi.

Ia juga menegaskan pentingnya memperhatikan kesejahteraan petani. Menurutnya, DPD Tani Merdeka harus bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mewujudkan hal itu.

“Dengan hadirnya DPD Tani Merdeka, semoga menjadi harapan baru dan pelopor bagi para petani dalam mewujudkan kedaulatan pangan di Pandeglang,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPD Tani Merdeka Pandeglang, Kemih Kurniadi, menyatakan pihaknya siap langsung turun ke lapangan.

“Kami akan fokus meningkatkan produktivitas, kesejahteraan petani, dan kedaulatan pangan. Karena itu, kerja sama semua pihak sangat dibutuhkan agar swasembada pangan di Pandeglang bisa tercapai,” ujarnya.[]

DPD Tani Merdeka Kubu Raya Resmi Dilantik, Siap Perjuangkan Kepentingan Petani

0

TANI MERDEKA – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Kubu Raya resmi dilantik untuk masa bakti 2025–2030, pada Kamis 24 April 2025.

Pelantikan berlangsung di Hotel Dangau, Jalan Ahmad Yani 2, Kubu Raya, Kalimantan Barat, dalam suasana yang khidmat dan penuh semangat.

Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua DPW Tani Merdeka Kalimantan Barat, M Saupi. Turut hadir anggota DPD RI Daud Yordan, yang juga menjadi pembina organisasi ini.

Ia menyampaikan pentingnya peran organisasi tani dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Kepala Dinas Pertanian Kubu Raya, Awalludin, dalam sambutannya menegaskan kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi petani sangat penting untuk mendorong program-program pertanian yang berpihak kepada petani kecil dan menengah.

Sementara itu, anggota DPR RI sekaligus penasihat DPW Tani Merdeka, Yuliansyah, juga hadir dalam acara tersebut.

Ia menekankan pentingnya peran petani dalam perekonomian nasional dan perlunya dukungan regulasi untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Ketua DPRD Kubu Raya yang berhalangan hadir, diwakili oleh Ilham Kurniawan, Ketua Komisi II DPRD Kubu Raya. Ia menyampaikan komitmen DPRD untuk mendukung kebijakan yang memihak pada petani dan siap menjadi mitra kritis bagi organisasi tani.

Kapolres Kubu Raya juga menunjukkan perhatian terhadap kegiatan ini dengan mengirimkan perwakilannya sebagai bentuk dukungan terhadap stabilitas sosial di sektor pertanian.

Dari internal organisasi, Dewan Penasehat DPD TMI Kubu Raya, Abdurrahman Hafis, menyampaikan harapan agar kepengurusan baru bisa bekerja dengan jujur, solid, dan benar-benar berpihak pada nasib para petani.[]

Bertemu Kepala Badan Modernisasi Pertanian, Pengurus Tani Merdeka Aceh Timur Bahas Masalah Irigasi di Aceh Timur

0

TANI MERDEKA – Pengurus Kelompok Tani Merdeka Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, melakukan silaturahmi dengan Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Provinsi Aceh, Agus Susanto, pada Senin, 21 April 2025. Pertemuan itu berlangsung santai di salah satu warung kopi di Peureulak.

Dalam pertemuan tersebut, para pengurus Tani Merdeka dan Agus Susanto berdiskusi soal kondisi pertanian di Aceh Timur, khususnya masalah irigasi yang masih menjadi tantangan utama bagi petani.

Diketahui, Aceh Timur memiliki 19.453 hektare lahan sawah yang tersebar di 24 kecamatan. Dari jumlah itu, hanya 3.764 hektare yang mendapatkan irigasi teknis, 1.342 hektare menggunakan irigasi semi-teknis, dan 4.987 hektare mengandalkan irigasi sederhana atau pompanisasi.

Sementara itu, 1.094 hektare menggunakan irigasi desa dan 8.266 hektare sisanya merupakan sawah tadah hujan.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Agus Susanto, mengatakan pihaknya akan terus mendorong percepatan peningkatan hasil pangan di Aceh Timur.

“Kami di Dinas Pertanian terus berupaya mengoptimalkan hasil panen. Kita ingin produksi pangan di Aceh Timur terus meningkat,” ujar Agus.

Agus juga menekankan pentingnya kerja sama semua pihak untuk mengatasi persoalan pertanian, termasuk soal irigasi.

“Setiap langkah pasti ada masalah, itu hal biasa. Tapi kita harus terus bergerak. Jangan biarkan petani menunggu terlalu lama,” tegasnya.[]

Tani Merdeka Aceh Besar, Banda Aceh dan Sabang Dilantik, Don Muzakir: Pengurus Harus Masif dan Aktif Bekerja di Tingkat Bawah

0
TANI MERDEKA – Pengurus Tani Merdeka Indonesia untuk wilayah Aceh Besar, Kota Banda Aceh, dan Kota Sabang resmi dilantik pada Kamis, 24 April 2025.
Acara pelantikan berlangsung di Dekranasda Aceh Besar dan dihadiri langsung oleh Bupati Aceh Besar Muharram Idris atau yang dikenal Syech Muharram dan Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir.
Dalam sambutannya, Don Muzakir mengatakan Tani Merdeka merupakan organisasi yang menaungi berbagai kelompok tani, nelayan, peternak, hingga pekebun.
Tujuan utama dibentuknya organisasi ini kata Don Muzakir, untuk membantu pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan mendukung program swasembada pangan Presiden RI, Prabowo Subianto.
Don berharap para pengurus yang baru dilantik dapat bekerja secara aktif di lapangan, mendengarkan keluhan petani, serta menyampaikan informasi yang mungkin tidak terjangkau oleh penyuluh pertanian pemerintah.
Ia juga menyampaikan bahwa Aceh Besar memiliki potensi pertanian dan peternakan yang besar, sehingga organisasi ini harus hadir untuk membantu petani menjalankan aktivitas mereka secara lebih baik dan efisien.
Pelantikan tersebut menetapkan Nabhani sebagai Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Aceh Besar, Desi Anara sebagai Ketua Harian Kota Banda Aceh, dan Adriansyah sebagai Ketua Kota Sabang.
Dalam kesempatan itu, Nabhani menyampaikan pihaknya berkomitmen untuk membangkitkan kembali sektor pertanian, terutama di bidang pangan dan kehutanan, dengan pendekatan yang lebih modern dan terintegrasi.
Menurut Nabhani, ke depan Tani Merdeka Indonesia akan bekerjasama dengan pemerintah untuk membangun sistem data tunggal yang mencakup data air, luas lahan, dan akses pinjaman.
Ia menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah terhadap legalisasi kelompok tani agar proses kerja bisa lebih mudah dan sesuai aturan.
Nabhani juga membuka pintu kepada masyarakat yang ingin menyampaikan ide atau masukan terkait pertanian. Ia menegaskan bahwa Tani Merdeka siap menjadi jembatan antara petani dan pemerintah hingga ke tingkat nasional.
Sementara itu, Bupati Aceh Besar, Syech Muharram, menyampaikan dukungannya terhadap kehadiran Tani Merdeka di daerahnya.
Ia menyebut organisasi ini bisa menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan ekonomi kreatif.
Syech Muharram juga mengingatkan agar organisasi ini tetap bersikap netral dan tidak terlibat dalam politik praktis.
Ia menegaskan bahwa petani datang dari berbagai latar belakang dan warna politik, sehingga organisasi tani harus tetap menjaga independensinya dan fokus untuk kepentingan masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Syech Muharram juga menyampaikan pihaknya telah menyiapkan langkah konkret untuk mengatasi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah pertanian.
Pemerintah Kabupaten Aceh Besar akan membangun sumur bor dan melakukan program pompanisasi, terutama di wilayah yang dekat dengan sumber air seperti sungai, namun sulit mendapatkan pasokan air karena kondisi geografis.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah kawasan Kuta Cokli. Meski daerah ini memiliki sungai dan waduk, namun letak sawah yang lebih tinggi membuat air sulit mengalir secara alami.
Untuk itu, pemerintah akan menyediakan pompa air agar petani bisa mendapatkan pasokan air lebih cepat tanpa harus menunggu sistem irigasi konvensional.
Syech Muharram menambahkan bahwa langkah ini sangat penting mengingat saat ini sudah memasuki musim tanam.
Ia menilai ketersediaan air yang tepat waktu akan menentukan keberhasilan panen dan kesejahteraan petani. Upaya percepatan distribusi air ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka menengah sambil menunggu perbaikan sistem irigasi secara menyeluruh.
“Semua langkah ini merupakan bagian dari menjaga ketahanan pangan dan mencegah kerugian yang mungkin terjadi akibat gagal tanam, kami berharap hasil panen tahun ini bisa sebaik tahun sebelumnya,” pungkas Syech Muharram.

Tersentuh Kisah Petani Nyakna, Wamen Sudaryono Bantu Seekor Kerbau ke Aceh Barat

0

TANI MERDEKA – Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono, memberikan bantuan seekor kerbau kepada Nyakna, seorang petani di Gampong Alue Perman, Kecamatan Woyla Barat, Kabupaten Aceh Barat.

Bantuan ini diserahkan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, pada Rabu, 23 April 2025.

Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian pribadi dari Wamen Sudaryono, setelah beredar video di media sosial yang memperlihatkan Nyakna menangis karena kehilangan satu-satunya kerbau miliknya yang mati terperosok di lumpur.

Don Muzakir menjelaskan, bantuan ini merupakan bentuk nyata perhatian Wamen Sudaryono kepada petani kecil yang sedang mengalami kesulitan.

“Bantuan kerbau ini bukan hanya soal hewan ternak, tapi tentang harapan dan keberlanjutan hidup petani. Kita tahu bagaimana pentingnya kerbau bagi petani seperti Nyakna. Semoga kerbau ini bisa dirawat dengan baik dan benar-benar bermanfaat untuk keluarga beliau,” ujar Don Muzakir.

Ia juga menegaskan Tani Merdeka Indonesia siap menjadi jembatan antara pemerintah dan petani agar bantuan-bantuan seperti ini bisa lebih cepat dan tepat sasaran.

“Kami dari Tani Merdeka hadir untuk memastikan suara petani terdengar dan kebutuhan mereka dipenuhi. Kasus Ibu Nyakna ini membuka mata kita bahwa banyak petani masih sangat bergantung pada alat-alat tradisional seperti kerbau,” tambahnya.

Don berharap kejadian ini bisa menjadi pengingat bagi semua pihak agar lebih peduli pada kondisi petani, terutama mereka yang berada di pelosok.

Hadir pada penyerahan bantuan ini Ketua DPW Tani Merdeka Provinsi Aceh, Cut Muhammad, serta pengurus DPD Tani Merdeka Aceh Barat. Hadir pula sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, camat, dan aparat desa setempat.

Nyakna sendiri tampak sangat bersyukur dan terharu menerima bantuan ini. Ia berharap dengan kerbau baru tersebut, ia bisa kembali mengolah sawah dan mencukupi kebutuhan keluarganya.

Kini, dengan semangat baru dan dukungan dari berbagai pihak, Nyakna bisa kembali menatap masa depan dengan harapan yang lebih cerah. []

Malaysia Ingin Impor Beras dari Indonesia, Tapi Pemerintah Masih Fokus Jaga Stok Dalam Negeri

0

TANI MERDEKA – Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan Malaysia berminat membeli beras dari Indonesia karena harga beras di negara mereka sedang tinggi.

Hal ini disampaikan Amran usai bertemu dengan Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia, Datuk Seri Haji Mohamad Bin Sabu, di Jakarta, pada Selasa, 22 April 2025.

“Malaysia bertanya apakah bisa impor beras dari Indonesia. Tapi saya bilang, untuk sementara kami masih utamakan menjaga stok beras dalam negeri,” kata Amran.

Menurut Amran, kebutuhan beras di Malaysia cukup besar, tapi produksi dalam negeri mereka hanya bisa memenuhi 40 sampai 50 persen kebutuhan.

Amran juga menyampaikan bahwa perwakilan dari Jepang dijadwalkan datang ke Indonesia. Ia menyebut harga beras di Jepang saat ini terus naik, bahkan mendekati Rp100 ribu per kilogram.

Amran menambahkan bahwa saat ini stok beras nasional mencapai 3,36 juta ton dan diperkirakan bisa naik menjadi 4 juta ton pada Mei 2025.

Sementara itu, Menteri Malaysia Mohamad Bin Sabu memuji teknologi pertanian Indonesia, terutama dalam meningkatkan produktivitas padi.

“Saya dengar hasil panen di Indonesia bisa mencapai 12 hingga 13 ton per hektare, dan rata-rata sudah di angka 7 ton,” ujarnya.

Walau belum bisa mengimpor beras dari Indonesia, Mohamad menyebut Malaysia tetap mengimpor produk lain seperti kelapa, sayur-sayuran, dan ikan dari Indonesia.

Bendungan Krueng Pase Mangkrak, Ratusan Ribu Hektare Sawah di Aceh Utara Terbengkalai

0
Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh, Cut Muhammad Bersama Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Provinsi Aceh, Agus Susanto dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Utara, Erwandi, meninjau langsung Bendungan Krueng Pase, pada Jumat, 18 April 2025.
Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh, Cut Muhammad Bersama Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Provinsi Aceh, Agus Susanto dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Utara, Erwandi, meninjau langsung Bendungan Krueng Pase, pada Jumat, 18 April 2025.
TANI MERDEKA – Bendungan Krueng Pase yang berada di Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, hingga kini belum juga rampung. Padahal bendungan ini sangat dibutuhkan para petani sebagai sumber utama air irigasi.
Akibat belum selesainya bendungan tersebut, sekitar 900.000 hektare sawah di Aceh Utara tidak bisa ditanami. Para petani pun kesulitan untuk bercocok tanam karena tidak ada air yang mengalir ke sawah mereka.
Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh, Cut Muhammad, menyampaikan keprihatinannya usai meninjau langsung lokasi bendungan di Desa Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, bersama Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Provinsi Aceh, Agus Susanto dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Utara, Erwandi, pada Jumat, 18 April 2025.
“Sudah empat tahun petani di Aceh Utara tidak bisa turun ke sawah karena tidak ada air. Ini akibat kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, sehingga pembangunan bendungan Krueng Pase terkatung-katung. Petani jadi korban dari ketidakpastian ini,” kata Cut Muhammad.
Ia mengatakan, kondisi ini membuat petani sangat terpukul. Tidak bisa menanam, tidak bisa panen, dan akhirnya tidak punya penghasilan. Bahkan, ada sebagian petani yang sudah meninggalkan profesinya karena tidak bisa bertahan hidup.
“Ini bukan hanya soal gagal panen, tapi juga soal keadilan. Petani butuh kepastian dan keberpihakan. Pemerintah harus serius menyelesaikan bendungan ini,” ujarnya.
Menurutnya, bendungan Krueng Pase seharusnya menjadi solusi utama untuk mengairi sawah petani di wilayah itu. Tapi sejak dimulai, proyek tersebut berjalan lambat dan belum kunjung selesai.
“Kami sudah lihat langsung di lokasi, dan memang pembangunan belum selesai. Padahal lahan pertanian sangat luas. Kalau ini tidak cepat diselesaikan, kita bisa menghadapi ancaman krisis pangan,” lanjut Cut Muhammad.
Ia pun meminta pemerintah pusat dan daerah untuk bertindak cepat. “Air itu kebutuhan dasar, bukan kemewahan. Jangan tunggu petani makin sengsara baru turun tangan. Tani Merdeka akan terus mengawal persoalan ini,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Provinsi Aceh, Agus Susanto, mengatakan bendungan Krueng Pase sebenarnya memiliki potensi besar untuk mendukung pertanian di wilayah itu.
“Bendungan ini punya dua sayap. Sayap kanan sebenarnya tinggal membuka saluran dan menormalisasi aliran air. Kalau itu dikerjakan, bisa menghidupi sekitar lima kecamatan, dengan luas sekitar 5.000 hektare sawah,” ujar Agus.
Namun sejak empat tahun terakhir, kata Agus, petani hanya bisa mengandalkan air hujan untuk bertani. Ia menilai sudah saatnya pembangunan bendungan dikerjakan lebih cepat agar masyarakat bisa segera merasakan manfaatnya.
“Kami di Dinas Pertanian terus mendorong percepatan ini. Kita juga sedang mengoptimalkan Brigade Pangan. Ada lebih dari 10 brigade di Aceh Utara yang harus bekerja maksimal. Alat dan mesin pertanian yang dibantu dari pusat harus digunakan sebaik-baiknya,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa semua pihak harus bekerjasama agar masalah pertanian ini bisa teratasi.
“Setiap langkah pasti ada masalah, itu sudah biasa. Tapi kita harus terus bergerak. Jangan biarkan petani menunggu terlalu lama,” tutup Agus.[]

Petani Lega, Bulog Beli Gabah Capai Rp 6.500 per Kilo

0

TANI MERDEKA – Panen raya tahun ini membawa kabar gembira bagi petani. Pemerintah melalui Perum Bulog turun langsung ke lapangan membeli gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram, sesuai harga yang ditetapkan.

Langkah ini dilakukan agar harga gabah tetap stabil dan petani tidak rugi di tengah panen melimpah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, upaya ini juga untuk memperkuat cadangan beras nasional. Ia menyebut cadangan beras pemerintah akan mencapai 3,3 juta ton pada awal Mei 2025.

“Ini belum pernah terjadi selama 20 tahun terakhir,” kata Mentan Amran, pada Kamis, 17 April 2025.

Saat ini Bulog sudah menyerap lebih dari 1 juta ton beras dari petani. Stok nasional pun kini sudah mencapai 2,8 juta ton dan tersebar di gudang-gudang Bulog seluruh Indonesia.

Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Arwakhudin Widiarso, menjelaskan bahwa pihaknya membentuk tim jemput gabah. Tim ini bekerja sama dengan penggilingan padi, dinas pertanian, penyuluh pertanian, hingga TNI dan Babinsa.

“Petani tak perlu repot, kami langsung datang ke sawah,” ujar Arwakhudin.

Bulog juga menyiapkan gudang tambahan untuk menampung gabah petani, agar tak ada hasil panen yang terbuang.

Sosialisasi juga dilakukan ke sentra-sentra produksi. Tujuannya agar petani tahu bahwa pemerintah hadir dan siap membeli hasil panen mereka.

Dengan cara ini, petani merasa lebih tenang dan semangat. Mereka tidak lagi khawatir harga gabah jatuh.

“Petani harus dilindungi. Mereka yang menjaga ketahanan pangan negara ini,” ujar Mentan Amran.[]