Kisah Marco Sebastian, Pemuda Tulungagung yang Kini Jadi Pemasok Sayur MBG

TANIMERDEKA – Usaha Marco Sebastian tidak langsung besar. Pemuda asal Tulungagung, Jawa Timur, itu memulainya dari berjualan telur pada 2022 lalu.

Saat itu, Marco yang masih berusia 22 tahun mencoba peruntungan dengan berdagang. Ia menjalani usaha tersebut sedikit demi sedikit sambil melihat peluang yang bisa dikembangkan.

Perjalanan itu kemudian membawanya ke usaha sayur-mayur. Marco mulai mengambil hasil panen dari petani lokal untuk dipasarkan kembali.

Kini, pada usia 26 tahun, Marco menjalankan usaha sebagai pedagang sekaligus pemasok sayuran. Ia ikut memenuhi kebutuhan sayuran dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keterlibatan dalam program MBG membuat usaha Marco berkembang. Jumlah sayuran yang harus ia siapkan dan distribusikan bertambah.

Ia pun harus membangun hubungan dengan lebih banyak petani untuk memastikan pasokan tetap tersedia.

Bagi Marco, usaha tersebut bukan hanya tentang menjual sayuran. Ada petani yang menggantungkan penjualan hasil panennya melalui rantai pasokan yang ia jalankan.

Sayuran yang dibeli Marco dari petani kemudian didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan program MBG. Pola itu membuat hasil panen petani lokal memiliki pasar yang lebih luas.

Perjalanan Marco juga membuatnya melihat sektor pertanian dari sudut pandang yang berbeda. Menurut dia, menjadi petani bukan pekerjaan yang perlu dianggap sebelah mata.

“Anak muda jangan malu jadi petani. Pertanian juga punya peluang. Yang penting mau belajar, mau bekerja, dan berani melihat peluang,” ujar Marco.

Pesan itu lahir dari pengalamannya sendiri. Marco tidak tumbuh langsung sebagai pemasok sayuran. Ia memulai usaha dari perdagangan telur, lalu perlahan masuk ke bisnis sayur-mayur.

Ia melihat ada peluang ketika hasil pertanian tidak hanya dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar sehari-hari, tetapi juga masuk ke dalam rantai pasok program yang membutuhkan bahan pangan dalam jumlah besar.

“Jangan berpikir menjadi petani itu hanya soal mencangkul dan bekerja di sawah. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan dari pertanian,” kata Marco.

Menurut dia, anak muda juga bisa mengambil peran dalam rantai usaha pertanian. Tidak semuanya harus menjadi petani yang mengolah lahan. Ada yang bisa bergerak sebagai pedagang, pemasok, pengolah hasil panen, atau membuka akses pasar bagi petani.

Marco sendiri menjalani salah satu peran tersebut. Ia menghubungkan hasil panen petani dengan kebutuhan konsumen melalui usaha yang dijalankannya.

Perjalanannya menunjukkan bahwa membangun usaha tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Marco memulainya dari jualan telur. Dari sana, ia mencoba bidang lain hingga akhirnya menjadi pemasok sayuran untuk program MBG.

Bertambahnya permintaan sayuran membuat usaha Marco ikut berkembang. Pada saat yang sama, petani lokal yang menjadi sumber pasokannya mendapatkan kesempatan untuk menjual lebih banyak hasil panen.

Kini, Marco masih menjalani aktivitas tersebut. Ia terus mengembangkan usaha sambil tetap bekerja sama dengan petani lokal.

Bagi Marco, pertanian bukan sekadar urusan menghasilkan bahan pangan. Ada peluang usaha yang bisa dikembangkan jika anak muda mau terlibat dan melihat sektor ini dari sisi yang lebih luas.

“Kalau anak muda mau masuk ke pertanian, jangan malu. Dari sektor ini kita bisa membangun usaha dan ikut membantu petani lain,” ujar Marco.[]

Berita Terkait

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini