TANIMERDEKA – Swasembada pangan tidak hanya bergantung pada bantuan alat, benih unggul, pupuk, atau pembangunan irigasi. Keberhasilan program tersebut juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelola sektor pertanian di lapangan.
Kondisi itu menjadi salah satu alasan Tani Merdeka Indonesia terus memperkuat kapasitas kader melalui Pendidikan dan Pelatihan (Diklat). Organisasi ini menilai petani dan pendamping pertanian harus memiliki kemampuan memimpin, menguasai teknologi, serta mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi petani.
Komitmen itu diwujudkan melalui Diklat Angkatan ke III yang digelar di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, Jawa Timur, mulai pada Kamis, 16 Juli 2026 hingga Minggu 19 Juli 2026.
Sebanyak 165 peserta dari Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti pelatihan tersebut. Mereka terdiri atas pengurus Tani Merdeka Indonesia, petani muda, dan penggerak sektor pertanian dari berbagai kabupaten dan kota.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi kepemimpinan organisasi, penguatan kelembagaan petani, pengembangan usaha tani, penerapan teknologi pertanian, hingga pemahaman terhadap kebijakan pemerintah di sektor pertanian.
Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir mengatakan, pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan teknologi maupun bantuan pemerintah. Menurutnya, kualitas manusia yang mengelola pertanian menjadi faktor yang menentukan keberhasilan berbagai program di lapangan.
“Petani harus menjadi pelaku utama pembangunan bangsa.”
“Karena itu, kader Tani Merdeka harus hadir sebagai penggerak perubahan, mampu mendampingi petani, menguasai ilmu pengetahuan, serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas,” ujar Don Muzakir dalam sambutannya.
Ia mengatakan, kader Tani Merdeka Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengurus organisasi, tetapi juga mampu menjadi pendamping bagi petani di desa. Kehadiran mereka dinilai penting untuk membantu petani memahami teknologi, meningkatkan produktivitas, serta mengembangkan usaha tani yang lebih berdaya saing.
Menurut Don Muzakir, tantangan sektor pertanian ke depan semakin kompleks. Perubahan iklim, perkembangan teknologi, hingga dinamika pasar menuntut petani memiliki kemampuan yang terus berkembang. Karena itu, peningkatan kualitas SDM menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Ia juga menyebutkan pentingnya regenerasi petani. Indonesia, menurutnya, membutuhkan lebih banyak anak muda yang mau terjun ke sektor pertanian dan melihat pertanian sebagai bidang yang memiliki prospek.
Peserta diklat diharapkan menjadi bagian dari proses regenerasi tersebut. Mereka dibekali kemampuan memimpin organisasi, membangun jejaring, dan mengembangkan usaha tani agar mampu menjadi motor penggerak pertanian di daerah masing-masing.
Don Muzakir mengingatkan agar ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diterapkan langsung di tengah masyarakat.
“Jangan berhenti belajar setelah diklat ini selesai. Bangun jejaring, saling berbagi pengalaman, dan terus hadir di tengah petani. Jadilah solusi atas berbagai persoalan pertanian di lapangan dan buktikan bahwa petani Indonesia mampu maju dengan ilmu pengetahuan dan inovasi,” katanya.
Menurut dia, keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya diukur dari meningkatnya produksi pangan, tetapi juga dari lahirnya petani yang mandiri, mampu beradaptasi dengan perubahan, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Don Muzakir berharap seluruh peserta mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian di daerah masing-masing setelah menyelesaikan pelatihan.
“Kalian yang hadir di ruangan ini adalah calon pemimpin pertanian Indonesia. Jadilah petani yang berintegritas, berkarakter, dan mampu membawa perubahan bagi masyarakat di daerah masing-masing,” ujarnya.
Tani Merdeka Indonesia menargetkan lahirnya kader-kader yang tidak hanya memahami persoalan pertanian, tetapi juga mampu menjadi penghubung antara kebutuhan petani, perkembangan teknologi, dan berbagai program pembangunan pertanian di tingkat desa.[]
