TANIMERDEKA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat pengembangan teknologi untuk mendukung transformasi sektor pertanian. Fokusnya tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga memastikan inovasi dapat diterapkan dan dimanfaatkan langsung oleh petani serta dunia usaha.
Komitmen itu dibahas dalam Rapat Kerja dan Sarasehan Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan (PRTMP) bertema Optimalisasi Peran Manufaktur Peralatan dan Standardisasi Instrumen Menuju Pertanian Presisi di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong.
Pertanian presisi merupakan sistem budidaya yang memanfaatkan teknologi modern, seperti sensor, Internet of Things (IoT), kecerdasan artifisial (AI), robotika, sistem otomasi, serta instrumen pengukuran yang terstandar. Teknologi tersebut menghasilkan data yang lebih akurat sehingga petani dapat mengambil keputusan dengan lebih tepat. Penerapan sistem ini juga diharapkan meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, mengatakan paradigma riset harus berubah. Menurutnya, hasil penelitian tidak cukup berhenti sebagai inovasi, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
Karena itu, BRIN mendorong pengembangan teknologi dilakukan bersama mitra sejak tahap awal melalui skema co-development. Cara tersebut dinilai dapat mempercepat pemanfaatan hasil riset.
“Mitra perlu dilibatkan sejak awal untuk melakukan pengembangan bersama agar inovasi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan pengguna,” ujar Cuk.
Kepala PRTMP BRIN, Taufik Hidayat, mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat koordinasi antarperiset sekaligus mempercepat hilirisasi hasil penelitian.
Menurutnya, hasil riset harus segera diterapkan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di sektor pertanian.
“Melalui kegiatan ini kami berharap kualitas riset terus meningkat, proses hilirisasi semakin cepat, dan PRTMP mampu menjadi pusat riset yang unggul serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional, khususnya dalam mendukung pertanian presisi dan swasembada pangan,” ungkap Taufik.
Sebagai tindak lanjut, PRTMP menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan sembilan mitra. Mitra tersebut terdiri atas perusahaan, UMKM, BUMDes, koperasi, hingga organisasi profesi.
Kerja sama ini diharapkan mempercepat proses produksi dan penerapan berbagai teknologi hasil riset BRIN sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan pelaku industri.
Pada kesempatan yang sama, BRIN juga menandatangani perjanjian lisensi Mesin Panjat Pohon Kelapa. Alat ini merupakan salah satu inovasi yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan sekaligus produktivitas petani kelapa.
Inventor teknologi tersebut, Astu Unadi, menjelaskan mesin menggunakan penggerak mekanis dengan rangka yang mengikuti kontur batang kelapa sehingga lebih stabil saat digunakan.
“Penandatanganan lisensi menjadi langkah penting agar teknologi ini dapat diproduksi oleh mitra industri dan dimanfaatkan secara luas,” jelas Astu.
Dalam sesi utama, Tenaga Ahli Utama Bidang Organisasi dan SDM BRIN, Walneg S. Jas, memaparkan arah Transformasi BRIN 5.0 tahap kedua untuk periode 2026–2030.
Program tersebut menitikberatkan pada penguatan tata kelola riset, pengembangan ekosistem inovasi, peningkatan dampak hasil penelitian, serta kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Riset dan inovasi terbaik dan sukses adalah yang dirasakan dampak nyatanya oleh masyarakat dan bangsa Indonesia,” tegas Walneg.
Kegiatan itu juga menghadirkan Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang menyoroti pentingnya standardisasi instrumen dalam mendukung pertanian presisi. Sementara itu, Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian memaparkan pentingnya mekanisasi berbasis data untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan sektor pertanian.
Penguatan kolaborasi, hilirisasi teknologi, dan standardisasi instrumen menjadi langkah yang terus didorong BRIN agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium. Inovasi yang lahir diharapkan mampu diterapkan di lapangan, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mendukung target swasembada pangan nasional.[]
