Beranda blog Halaman 52

Tani Merdeka Jambi dan Bulog Jalin Kerja Sama untuk Serap Hasil Panen

0

TANIMERDEKA – DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Jambi menjalin kerja sama dengan Perum Bulog Kanwil Jambi untuk memperkuat penyerapan hasil panen petani, ini sejalan dengan program pemerintah yang menargetkan swasembada pangan.

Kesepahaman itu terungkap dalam pertemuan silaturahmi di Kota Jambi, pada Selasa 19 Agustus 2025. Pertemuan membahas mekanisme penyerapan gabah dan jagung petani agar distribusi pangan lebih lancar dan kesejahteraan petani tetap terjaga.

Ketua DPW Tani Merdeka Jambi, Candra Andika, menegaskan Tani Merdeka Indonesia siap bersinergi dengan Bulog dalam upaya menjaga rantai pasok pangan. Ia menilai kerja sama ini akan membawa manfaat ganda, baik untuk petani maupun masyarakat.

“Ini merupakan komitmen kami untuk memperjuangkan kesejahteraan petani, sesuai arahan Ketua Dewan Pembina Tani Merdeka Indonesia, Mas Sudaryono, yang kini juga menjabat Wakil Menteri Pertanian dan Ketua Dewas Bulog,” kata Candra.

Candra menambahkan, Tani Merdeka Jambi sudah menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak di daerah. Tujuannya memastikan Bulog berperan sebagai jembatan antara petani dan pasar.

“Dengan kerja sama ini, kami ingin memastikan hasil panen petani dapat terserap dengan baik oleh Bulog sehingga harga dan pasokan pangan tetap stabil,” ujarnya.

Menurut dia, petani selama ini kerap menghadapi kendala pemasaran, terutama saat panen raya. Harga sering jatuh karena pasokan melimpah. Dengan intervensi Bulog, masalah itu bisa diatasi melalui pembelian langsung dari petani.

Peran Bulog dalam kerja sama ini bukan hanya menyerap hasil panen, tetapi juga mendistribusikan bahan pangan pokok kepada masyarakat. Bulog selama ini memegang tanggung jawab menjaga ketersediaan stok beras dan menjaga stabilitas harga di pasar.

Kolaborasi ini dianggap strategis untuk memperkuat cadangan pangan daerah sekaligus mengurangi potensi gejolak harga.

Candra berharap kerja sama ini berjalan konsisten. Ia menekankan sinergi antara petani, Tani Merdeka, dan Bulog jadi penting, agar target swasembada pangan nasional dapat tercapai.

“Kolaborasi ini kami dorong agar benar-benar berdampak. Tidak hanya untuk menjaga stok dan harga, tetapi juga untuk meningkatkan pendapatan petani,” katanya.

Kerja sama ini juga mendukung program pemerintah pusat yang menargetkan penguatan cadangan pangan melalui sinergi antara petani dan lembaga distribusi. Bulog diharapkan menjadi mitra utama yang menjamin hasil panen petani terserap, sementara Tani Merdeka berperan sebagai penghubung antara petani dan Bulog.[]

Data Petani Ikan, DPD Tani Merdeka Semarang Jalin Kerja Sama dengan Dinas Perikanan

0

TANIMERDEKA – DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Semarang menggelar audiensi dengan Dinas Perikanan Kota Semarang untuk membahas pendataan petani ikan dan pelaku usaha perikanan. Pertemuan berlangsung di kantor Dinas Perikanan Kota Semarang dan diterima langsung oleh Kepala Dinas Perikanan, Ir. Sih Rianung, ST, MT, bersama sejumlah kepala bidang.

Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Semarang, Tera Anggrea Cita, mengatakan audiensi ini untuk memperkuat sinergi antara petani ikan dan pemerintah daerah. Ia menegaskan pentingnya pendataan resmi agar pelaku usaha perikanan mendapatkan perlindungan, pembinaan, dan akses terhadap berbagai program pemerintah.

“Kami ingin petani ikan dan pelaku usaha yang tergabung di Tani Merdeka mendapat kepastian legalitas dan pendampingan. Dengan begitu, usaha mereka lebih maju dan berkelanjutan,” kata Tera, pada Selasa 19 Agustus 2025.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat dilakukan pemetaan petani ikan dan pelaku usaha perikanan yang tergabung dalam Tani Merdeka untuk didaftarkan secara resmi di Dinas Perikanan Kota Semarang.

Selanjutnya pendaftaran ini akan memberikan sejumlah manfaat, antara lain pembinaan rutin oleh penyuluh perikanan, kemudahan akses bibit unggul, legalitas usaha, dukungan pemasaran, hingga peluang mendapatkan bantuan pemerintah.

Menurut Tera, banyak pelaku usaha perikanan di tingkat daerah yang selama ini kesulitan mengakses bantuan maupun sarana produksi karena belum terdata resmi.

“Dengan terdaftar di dinas, mereka akan mendapat perlindungan hukum, akses pembinaan, dan kesempatan lebih besar untuk berkembang,” ujarnya.

Tera berharap kerja sama ini tidak hanya berhenti pada pendataan, tetapi juga berlanjut pada program nyata yang berdampak bagi kesejahteraan petani ikan.

“Kami ingin petani perikanan di Kota Semarang naik kelas. Tidak sekadar bertahan, tetapi mampu meningkatkan produksi dan membuka pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Menurut Tera DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Semarang berkomitmen untuk mendukung program pemerintah daerah di sektor perikanan. Melalui sinergi ini, diharapkan potensi perikanan di Kota Semarang dapat dimaksimalkan, sekaligus memberikan kontribusi terhadap ketersediaan pangan nasional.

Sementara itu Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, Ir. Sih Rianung, ST, MT, menyambut baik inisiatif ini. Ia menilai langkah pendataan penting untuk mempermudah pembinaan dan memastikan keberlanjutan usaha perikanan di Kota Semarang.

“Kami akan mendata para petani ikan dan pelaku usaha yang bergabung dengan Tani Merdeka. Mereka perlu masuk dalam sistem agar mudah dibina, diberi akses sarana produksi, hingga difasilitasi pemasaran,” kata Rianung.

Ia menambahkan, legalitas resmi menjadi salah satu syarat utama untuk mengakses program pemerintah.

“Dengan legalitas, pelaku usaha akan lebih mudah menerima program bantuan, baik berupa sarana produksi, pelatihan, maupun dukungan pemasaran,” katanya.

Sih Rianung juga menyebutkan pihaknya siap berkoordinasi dengan penyuluh perikanan di lapangan untuk melakukan pendampingan berkelanjutan. Menurut dia, pembinaan yang tepat dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing pelaku usaha perikanan di Semarang.[]

 

Benih Padi Baru Asal Pasuruan Siap Dibuktikan di Rapimnas Tani Merdeka Indonesia

0
Winaryo Sujoko Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Pasuruan Raya.
Winaryo Sujoko Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Pasuruan Raya.

TANIMERDEKA – Dari hamparan sawah di Pasuruan, Jawa Timur, lahir sebuah inovasi yang kini bersiap melangkah ke panggung nasional. Benih padi unggul bernama Jelita, hasil temuan anggota Tani Merdeka Indonesa, akan diperkenalkan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Tani Merdeka Indonesia di Jakarta, pada 27-29 Agustus 2025.

Benih Jelita bukan sekadar varietas baru. Ia lahir dari kegigihan petani yang tergabung dalam DPD Tani Merdeka Indonesia Pasuruan Raya yang ingin menjawab tantangan zaman. Setelah melalui uji coba di beberapa lahan, hasilnya menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi dengan kualitas gabah lebih baik dibandingkan varietas sebelumnya.

“Ini bukti bahwa petani daerah juga bisa berinovasi. Jelita kami hadirkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional,” kata Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Pasuruan Raya, Winaryo Sujoko, pada Selasa, 19 Agustus 2025.

Sebagai petani berpengalaman, Winaryo tahu betul bagaimana cuaca yang kian sulit diprediksi, keterbatasan pupuk subsidi, dan harga gabah yang naik turun membuat banyak petani tertekan. Ia percaya inovasi adalah jalan keluar.

“Kalau tidak adaptif, kita bisa tertinggal,” ujarnya.

Rapimnas Tani Merdeka Indonesia menjadi panggung penting. Dari forum itu, Winaryo ingin membuktikan inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium besar, tetapi juga dari petak sawah yang dikelola dengan hati dan tekad.

“Kesempatan ini adalah kebanggaan bagi petani Pasuruan. Kami ingin berkontribusi, bukan hanya untuk daerah, tetapi juga untuk Indonesia,” ucap Winaryo.

Dia berharap benih Jelita mendapat dukungan penuh agar bisa dikembangkan lebih luas. Jika berhasil, bukan hanya produktivitas padi yang naik, kesejahteraan petani pun akan ikut terdongkrak.[]

DPD Tani Merdeka Garut dan PT Guano Berkah Sejahtera Jalin Kerja Sama Demplot Bawang Putih Organik

0
Ilustrasi

TANIMERDEKA – Ketahanan pangan nasional tidak hanya berbicara soal ketersediaan bahan pangan, tetapi juga soal keberlanjutan. Kabupaten Garut menjadi salah satu daerah yang mulai mengambil Langkah menuju pertanian ramah lingkungan.

DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Garut bekerja sama dengan PT Guano Berkah Sejahtera menggelar demonstration plot (demplot) bawang putih organik di Desa Karyamekar, Kecamatan Pasirwangi. Program ini bukan hanya untuk uji coba. Demplot ini diproyeksikan menjadi model pertanian organik yang bisa direplikasi di berbagai daerah.

Ketua DPD Tani Merdeka Garut, H. Mamat Acek, mengatakan tujuan utama program ini guna mendorong petani beralih dari penggunaan pupuk kimia ke sistem organik. Cara ini penting untuk keberlanjutan pertanian dan kesehatan ekosistem tanah.

“Pupuk organik dari PT. Guano Berkah Sejahtera terbukti sangat efektif untuk budidaya bawang putih. Ini bukan hanya soal hasil panen, tapi juga soal masa depan ekologi tanah dan kesehatan masyarakat,” ujar Mamat Acek.

Menurut Mamat, ketergantungan pada pupuk kimia selama ini menimbulkan banyak dampak buruk. Struktur tanah menjadi keras, kandungan organik berkurang, dan biaya produksi meningkat. Karena itu, ia menilai transisi ke pupuk organik bukan pilihan, tetapi kebutuhan.

Di sisi lain, PT Guano Berkah Sejahtera melihat potensi besar dalam pengembangan sistem pertanian organik. Wakil General Manager PT Guano Berkah Sejahtera, Bunga Lenggana Novia Loreza, menyebutkan program ini sejalan dengan komitmen perusahaan mendukung pertanian berkelanjutan.

“Kami percaya bahwa pertanian yang sehat dimulai dari tanah yang sehat. Demplot ini adalah validasi dari visi kami untuk membangun kemitraan strategis yang berdampak nyata bagi petani dan lingkungan,” ungkapnya.

Program demplot ini dilakukan dengan pendekatan pendampingan langsung kepada petani. Tim teknis dari PT Guano Berkah Sejahtera bersama pengurus DPD Tani Merdeka memberikan pelatihan tentang cara pengolahan lahan, pemakaian pupuk organik, hingga manajemen hama terpadu tanpa bahan kimia berbahaya.

Hasil awal demplot menunjukkan pertumbuhan bawang putih lebih optimal dibanding lahan yang masih menggunakan pupuk kimia. Daun tampak lebih hijau, akar lebih kuat, dan serangan hama lebih terkendali. Produktivitas diprediksi meningkat dengan biaya produksi yang lebih efisien.

Keberhasilan program ini diharapkan bakal mendorong petani di Garut mengadopsi praktik serupa. Tidak hanya untuk bawang putih, pola ini bisa diterapkan pada komoditas lain seperti cabai, kentang, dan sayuran dataran tinggi.

Selain meningkatkan hasil panen, sistem pertanian organik juga mendukung keberlanjutan lingkungan. Tanah lebih subur, kandungan bahan organik meningkat, dan pencemaran air akibat pupuk kimia bisa ditekan. Dalam jangka panjang, langkah ini akan menjaga ekosistem sekaligus mendukung program pemerintah terkait kedaulatan pangan.

Program ini sejalan dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang menekankan keberlanjutan sektor pertanian. Indonesia tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga menyiapkan sistem pangan yang tahan terhadap perubahan iklim dan menjaga kelestarian alam.

Demplot bawang putih organik di Garut menjadi contoh nyata bahwa transisi menuju pertanian ramah lingkungan bukan sekadar wacana. Dengan dukungan teknologi, kemitraan strategis, dan komitmen petani, model seperti ini bisa menjadi standar baru pertanian Indonesia.[]

DPD Tani Merdeka Lamongan Siap Bawa Aspirasi Petani ke Rapimnas 2025

0

TANIMERDEKA – DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Lamongan memastikan hadir dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Tani Merdeka Indonesia 2025 yang berlangsung di Jakarta pada 27–29 Agustus.

Ketua DPD Tani Merdeka Lamongan, Alief Abdul Haris, menegaskan partisipasi ini bukan sekadar hadir, keikutsertaan peserta dari Lamongan menjadi bagian dari upaya memperjuangkan kepentingan petani di tingkat nasional.

“Kami siap membawa aspirasi petani Lamongan agar bisa diperjuangkan dalam forum nasional ini,” kata Alief, yang akrab disapa Gus Haris, Selasa 19 Agustus 2025.

Rapimnas 2025 akan digelar di Auditorium F Kementerian Pertanian RI, Jakarta. Forum ini akan dihadiri pengurus Dewan Pimpinan Nasional (DPN), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dari seluruh Indonesia.

Agenda tahunan tersebut membahas arah kebijakan organisasi, memperkuat konsolidasi, serta merumuskan langkah strategis memperjuangkan kesejahteraan petani di tengah tantangan sektor pertanian yang semakin kompleks.

Gus Haris menilai kehadiran Lamongan dalam forum nasional sangat penting. Lamongan merupakan salah satu lumbung pangan terbesar di Jawa Timur.

“Lamongan bukan hanya penopang pangan Jawa Timur, tapi juga bagian penting dalam ketahanan pangan nasional. Maka suara petani Lamongan perlu didengar,” ujarnya.

Ia menambahkan, Rapimnas juga menjadi ajang konsolidasi organisasi Tani Merdeka Indonesia. Selama ini, organisasi aktif menyuarakan isu strategis, mulai dari akses permodalan, perlindungan harga hasil panen, hingga modernisasi alat pertanian.

Pengurus DPD Lamongan berharap forum ini dapat mengakomodasi aspirasi lokal. Mereka ingin isu kebijakan pupuk bersubsidi dan pembangunan infrastruktur pertanian masuk ke agenda nasional.

“Petani di tingkat bawah membutuhkan kepastian, mulai dari ketersediaan pupuk hingga harga gabah yang stabil. Itu yang akan kami dorong,” tegas Gus Haris.[]

Cut Muhammad Suarakan Masalah Bendungan Krueng Pasee dan Irigasi Aceh di Rapimnas Tani Merdeka Indonesia

0
Cut Muhammad Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh
Cut Muhammad Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh

TANIMERDEKA – Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh, Cut Muhammad, mengaku akan membawa isu Bendungan Krueng Pasee dan sistem irigasi yang hingga kini belum tuntas, meski sudah bertahun-tahun menjadi proyek prioritas, ke forum Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Tani Merdeka Indonesia yang digelar pada 27–29 Agustus 2025.

Menurut Cut Muhammad, kondisi ini telah lama merugikan petani. Proyek Bendungan Krueng Pasee yang diharapkan dapat mendukung pengairan sawah justru tak kunjung selesai.

“Proyek Bendungan Krueng Pasee sudah berjalan lima tahun, tapi sampai sekarang belum selesai. Petani mengeluh karena sudah lima tahun tidak bisa ke sawah dan gagal panen. Ini masalah besar yang tidak boleh diabaikan,” kata Cut Muhammad, pada Selasa, 19 Agustus 2025.

Pria yang akrab disapa Mukim Amad menjelaskan, ketergantungan petani terhadap irigasi membuat keterlambatan proyek ini berdampak luas. Tidak hanya menghambat produksi, tetapi juga menurunkan pendapatan dan mengancam keberlangsungan usaha tani di Aceh Utara.

Selain Krueng Pasee, Bendungan Keureuto yang digadang-gadang sebagai bendungan terbesar di Aceh. Namun, pemanfaatannya jauh dari harapan.

“Petani tidak bercocok tanam di sawah sejak sepuluh tahun lalu karena bendungan Keureuto tidak berfungsi seperti yang dijanjikan. Ini membuat ketahanan pangan kita sangat rentan,” kata Cut Muhammad.

Ia menilai, kegagalan mengoptimalkan kedua bendungan ini mencerminkan lemahnya pengelolaan pembangunan infrastruktur pertanian. Dampaknya bukan hanya gagal panen, tetapi juga hilangnya kepercayaan petani terhadap program pemerintah.

Masalah ini bukan sekadar keterlambatan proyek. Cut Muhammad menegaskan, ribuan petani di Aceh Utara kehilangan mata pencaharian. Banyak sawah yang berubah menjadi lahan tidur karena tidak mendapatkan suplai air.

Ia mengungkapkan, kondisi tersebut memperburuk ketahanan pangan Aceh. Dengan lahan produktif yang tidak digarap, produksi padi Aceh menurun drastis, sementara kebutuhan beras terus meningkat.

“Kita bicara soal penghidupan petani dan ketersediaan pangan masyarakat. Kalau bendungan ini dibiarkan terbengkalai, kita tidak hanya rugi secara ekonomi, tapi juga menghadapi ancaman serius terhadap ketahanan pangan,” ujarnya.

Cut Muhammad meminta pemerintah pusat dan daerah segera bertindak. Ia mendesak agar proyek Bendungan Krueng Pasee dipercepat dan pemanfaatan Bendungan Keureuto dioptimalkan.

“Pemerintah harus hadir. Jangan biarkan petani terus menunggu tanpa kepastian. Kita butuh komitmen nyata untuk menyelesaikan proyek ini,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan ketat terhadap proyek irigasi agar sesuai rencana dan tepat sasaran. Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian Aceh sangat bergantung pada penyelesaian masalah ini.

“Kalau masalah ini tidak diatasi sekarang, petani akan semakin sulit bangkit, dan kita akan kehilangan potensi besar di sektor pangan,” tutupnya.[]

Pengurus Tani Merdeka Tinjau Sawah di Matangkuli, Petani Masih Tergantung Hujan

0

Aceh Utara – Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Kabupaten Aceh Utara meninjau langsung kondisi sawah di Gampong Geulumpang VII, Kecamatan Matangkuli, Selasa (19/8/2025). Dalam kunjungan tersebut, petani mengeluhkan keterbatasan sumber air yang masih bergantung pada curah hujan.

Ketua Kelompok Tani Gampong Geulumpang VII, Junaidi, mengatakan para petani setempat sangat berharap pada ketersediaan air untuk mengairi sawah mereka. Namun, hingga kini kebutuhan air hanya mengandalkan musim hujan karena proyek Bendungan Krueng Pase belum rampung.

“Kalau hujan tidak turun, petani akan mengalami kerugian karena tidak ada air untuk mengairi sawah,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Sekretaris DPD Tani Merdeka Aceh Utara, Asnawi, meminta agar pembangunan Bendungan Krueng Pase segera diselesaikan sesuai jadwal.

“Kami berharap bendungan ini bisa selesai tepat waktu dan difungsikan dengan baik, sehingga dapat membantu petani dalam menggarap sawah dan meningkatkan hasil panen,” tegasnya.

Asnawi menambahkan, Tani Merdeka akan terus mengawal persoalan yang dihadapi petani di lapangan. Menurutnya, hal ini sejalan dengan visi dan misi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya peningkatan kesejahteraan petani sebagai salah satu pilar ketahanan pangan nasional.