Beranda blog

Panen Singkong di Riau, Tani Merdeka Indonesia Dorong Petani Naik Kelas

0

TANIMERDEKA – DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Riau bersama Kelompok Tani Karya Maju Sehati menggelar panen raya ubi, pada Kamis 15 Oktober 2026. Panen ubi itu berlangsung di Kecamatan Rumbai Barat, Kota Pekanbaru, Riau.

Kelompok Tani Karya Maju Sehati merupakan kelompok tani binaan Tani Merdeka Indonesia Provinsi Riau. Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah unsur pemerintah daerah, pengurus DPN dan DPW Tani Merdeka Indonesia, serta para petani.

Mewakili Plt Gubernur Riau, hadir Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DPTPH) Riau yang juga menjabat Kepala Dinas Perkebunan, Supriadi, S.Hut., M.T.

Supriadi mengatakan, Pemerintah Provinsi Riau siap bekerja sama dengan Tani Merdeka Indonesia untuk mengembangkan industri pengolahan ubi di daerah tersebut.

“Riau salah satu penghasil ubi terbesar. Potensi ini harus kita kelola bersama, supaya nilai tambahnya dinikmati petani dan masyarakat Riau,” ujarnya Supriadi.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai usaha singkong, mulai dari produksi hingga pengolahan dan pemasaran. Keberadaan industri pengolahan di dekat sentra produksi juga berpotensi membuka pasar yang lebih pasti bagi petani.

Namun, pengembangan hilirisasi industri membutuhkan dukungan berbagai pihak. Kepastian pasokan bahan baku, akses pembiayaan, teknologi pengolahan, dan kemitraan dengan pelaku industri menjadi sejumlah hal yang perlu diperkuat.

Melalui hilirisasi, petani diharapkan tidak hanya bergantung pada penjualan singkong mentah. Hasil panen dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Dengan begitu, petani berpeluang memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.

Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Riau, Oksi, juga menyampaikan terima kasih dukungan terhadap pengembangan hilirisasi singkong di daerah tersebut.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia Bidang Hilirisasi, Andi Rahman, hadir mewakili Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir.

Ia mengatakan pengembangan hilirisasi singkong sejalan dengan program Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi rakyat.

Menurut Andi, singkong selama ini kerap dipandang sebagai bahan pangan kelas dua. Padahal, komoditas tersebut memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk industri.

Ia menyebutkan kondisi petani singkong di Riau yang dinilai belum menikmati manfaat optimal dari keberadaan industri di daerah sendiri.

Menurut dia, sejumlah pabrik kertas di Riau masih mendapatkan pasokan tepung tapioka dari luar daerah.

“Selama ini petani singkong menjadi tuan rumah di negeri sendiri, pabrik-pabrik kertas yang ada di Riau, itu mendapatkan pasokan atau supply tepung tapioca dari luar Riau. Petani singkong lokal menjadi penonton selama lebih dari 35 tahun,” kata Andi Rahman.

Andi menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Petani lokal harus mendapat kesempatan lebih besar untuk memasok kebutuhan bahan baku industri yang beroperasi di Riau.

Menurut Andi, pengembangan singkong tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi. Petani juga membutuhkan akses pasar, kepastian penyerapan hasil panen, dan kesempatan untuk terlibat dalam rantai industri.

Singkong memiliki beragam potensi pemanfaatan. Selain menjadi bahan pangan, komoditas ini dapat diolah menjadi tepung, pati, bahan baku makanan dan minuman, pakan ternak, hingga bahan baku energi seperti bioetanol.

“Indonesia harus mampu membangun industri yang menghubungkan kekuatan pertanian rakyat dengan kebutuhan energi nasional,” katanya.

Riau dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan industri berbasis singkong. Namun, peluang tersebut perlu didukung peningkatan produktivitas, kepastian harga, penyerapan hasil panen, dan investasi pada fasilitas pengolahan.

Tani Merdeka Indonesia memandang hilirisasi singkong sebagai salah satu langkah untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.

Pengolahan singkong dapat menghasilkan beragam produk untuk memenuhi kebutuhan pasar. Produk tersebut dapat berupa tepung singkong, tepung tapioka, dan bahan baku industri makanan serta minuman.

Singkong juga dapat diolah menjadi pakan ternak, komoditas ini juga berpotensi menjadi bahan baku bioetanol. Sementara itu, pati singkong dapat dimanfaatkan oleh industri kertas, tekstil, farmasi, dan bioplastik.

Pengembangan berbagai produk tersebut membuka peluang bagi petani untuk memperoleh nilai tambah dari hasil panen. Namun, manfaatnya bergantung pada kemampuan industri menyerap bahan baku, kelayakan usaha, kualitas produk, dan akses pasar.

Hilirisasi juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor untuk produk tertentu. Peluang tersebut dapat dimanfaatkan apabila produk olahan singkong dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan industri dari sisi mutu, harga, dan pasokan.

“Karena itu, pengembangan industri pengolahan perlu berjalan seiring dengan penguatan produksi di tingkat petani. Kemitraan yang jelas antara petani, koperasi, pemerintah, dan pelaku industri diperlukan agar hasil panen terserap secara berkelanjutan,” pungkas Andi.[]

Kementan Gelontorkan Rp 3 Triliun untuk Jawa Timur untuk Peternakan

0
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman

TANIMERDEKA – Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan dukungan anggaran sekitar Rp 3 triliun untuk Jawa Timur sepanjang 2025–2026. Pemerintah juga menyiapkan tambahan Rp 600 miliar untuk memperkuat sektor peternakan, termasuk pengembangan pembibitan ayam.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, dukungan tersebut diberikan karena Jawa Timur menjadi salah satu daerah penopang utama produksi pangan nasional. Pemerintah berharap penguatan sektor pertanian dan peternakan di provinsi itu dapat meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani dan peternak.

“Dukungan anggaran Kementan untuk Jawa Timur mencapai sekitar Rp 3 triliun sepanjang 2025–2026. Ada tambahan Rp 600 miliar untuk memperkuat sektor peternakan, termasuk pengembangan perbenihan ayam,” kata Amran melalui keterangan tertulis yang dikutip pada Rabu, 13 Oktober 2026.

Amran menilai Jawa Timur memiliki peran strategis dalam pembangunan pertanian nasional. Provinsi ini berkontribusi besar terhadap produksi sejumlah komoditas, mulai dari padi, jagung, ayam, hingga gula.

“Kami bangga dengan Jawa Timur. Produksi padinya tertinggi, sektor ayamnya kuat, jagungnya juga besar, dan gulanya nomor satu. Karena itu, dukungan anggaran Kementan untuk Jawa Timur juga menjadi yang terbesar,” ungkap Amran.

Amran menjelaskan, tambahan anggaran Rp 600 miliar akan diarahkan untuk memperkuat sektor peternakan. Salah satu fokusnya adalah pengembangan *grandparent stock* (GPS), yaitu ayam bibit yang menjadi sumber untuk menghasilkan bibit ayam generasi berikutnya.

Pengembangan GPS diharapkan dapat memperkuat pasokan day-old chick (DOC) atau anak ayam umur sehari. Dengan dukungan tersebut, Jawa Timur diharapkan semakin berkembang sebagai pusat pembibitan ayam yang mampu memasok kebutuhan berbagai daerah di Indonesia.

Selain memperkuat pembibitan, Kementan mendorong pembangunan pabrik pengolahan telur menjadi tepung telur. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil peternakan dalam negeri.

Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Tengah diharapkan dapat berperan dalam pengembangan industri tersebut. Ketiga provinsi itu dinilai memiliki potensi untuk mendukung pengolahan telur menjadi produk yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor industri.

“Kita ingin ada pabrik pengolahan telur menjadi tepung telur supaya ke depan kita bisa menghentikan impor. Potensi produksi dalam negeri harus kita perkuat dan kita dorong agar memberikan nilai tambah,” ujar Amran.

Pada sektor tanaman pangan, Amran menyebut Jawa Timur sebagai salah satu kekuatan utama dalam menjaga swasembada pangan nasional. Pemerintah, kata dia, berhasil mencapai swasembada beras lebih cepat dari rencana awal.

Menurut Amran, pemerintah semula memperkirakan swasembada beras dapat dicapai dalam empat tahun. Namun, target tersebut berhasil dicapai dalam satu tahun. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan capaian itu agar kebutuhan beras dalam negeri tetap terpenuhi.

Amran juga menyampaikan bahwa penyerapan beras oleh Perum Bulog saat ini mencapai sekitar 4,1 juta ton untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Cadangan tersebut menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga ketersediaan beras dan mendukung stabilitas pangan.

Meski produksi meningkat, Amran menilai sektor pertanian tetap membutuhkan pembaruan kebijakan dan penerapan teknologi budi daya. Cara bertani yang digunakan puluhan tahun lalu perlu dievaluasi agar sesuai dengan kondisi saat ini, terutama dalam menghadapi perubahan iklim dan tuntutan efisiensi produksi.

Peningkatan produktivitas juga perlu diikuti dengan kenaikan pendapatan petani. Karena itu, pemerintah menyiapkan dukungan benih bagi petani yang siap menerapkan teknologi untuk meningkatkan hasil panen.

“Kami ingin pendapatan petani meningkat. Dengan teknologi yang tepat, hasil produksi bisa lebih tinggi dan pendapatan petani juga semakin baik. Benih akan kami dukung melalui anggaran yang disiapkan, terutama bagi petani yang rajin dan siap menerapkannya,” kata Amran.

Pada sektor perkebunan, Amran menyoroti kontribusi Jawa Timur terhadap produksi gula nasional. Ia menyebut sekitar 50 persen produksi gula Indonesia berasal dari provinsi tersebut.

Besarnya kontribusi itu membuat penguatan sektor tebu di Jawa Timur menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan swasembada gula. Pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas kebun dan penguatan industri pengolahan agar hasil produksi memberikan nilai tambah.

Amran menekankan pentingnya menjaga kinerja pabrik gula sekaligus mempercepat peremajaan tanaman tebu milik rakyat. Peremajaan diperlukan untuk memperbaiki produktivitas tanaman dan menjaga pasokan bahan baku bagi industri gula.

“Kita kawal gula di Jawa Timur karena kontribusinya sangat besar. Ke depan, kita dorong hilirisasi dan peremajaan tebu rakyat. Targetnya, pada 2028 peremajaan ini bisa dituntaskan,” katanya.

Selain meningkatkan produksi, Amran menilai pembenahan tata niaga perlu mendapat perhatian. Peningkatan hasil pertanian dan peternakan harus diikuti distribusi yang baik agar memberikan manfaat bagi petani, peternak, dan konsumen.

Ia mencontohkan persoalan harga telur dan pakan yang membutuhkan pengawasan terhadap rantai distribusi. Pemerintah perlu memastikan produksi dapat terserap pasar dengan baik, termasuk melalui program-program pemerintah yang membutuhkan pasokan pangan.

Menurut Amran, persoalan pertanian tidak berhenti pada peningkatan produksi. Kebijakan juga perlu memastikan petani dan peternak memperoleh manfaat yang layak dari hasil usaha mereka, sementara konsumen tetap mendapatkan produk dengan harga yang wajar.

Karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha diperlukan untuk mengatasi hambatan distribusi maupun tata niaga. Kerja sama tersebut juga dibutuhkan agar tambahan anggaran dan dukungan pemerintah dapat mendorong hasil yang nyata bagi sektor pertanian.

“Kalau seluruh Indonesia bergerak bersama seperti Jawa Timur, saya kira hasilnya bisa eksponensial. Kita ingin daerah-daerah semakin kuat, petani dan peternak semakin sejahtera, dan swasembada pangan yang sudah dicapai dapat terus kita jaga,” tutur Amran.[]

Panen Jagung Bersama, Tani Merdeka dan Penyuluh Bahas Penguatan Pangan di Aceh Tamiang

0

TANIMERDEKA – Koordinator Lapangan (Korlap) Pangan DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Tamiang, Niken, bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Karang Baru, dan kelompok tani setempat menggelar panen jagung bersama di Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Niken mengatakan, kerja sama antara organisasi tani, penyuluh, dan kelompok tani diperlukan untuk mendukung pelaksanaan program pangan nasional. Kesamaan pemahaman di antara para pihak juga dinilai penting agar pengelolaan pangan berjalan terarah dan berkelanjutan.

“Panen jagung ini adalah bukti nyata komitmen kita bersama di lapangan. Ke depan, melalui penyelarasan persepsi program sentralisasi pangan, kita ingin menjadikan Aceh Tamiang khususnya Karang Baru sebagai salah satu lumbung pangan yang siap menyerap dan mengelola investasi pertanian secara profesional,” ujar Niken.

BPP dan PPL Karang Baru turut mengapresiasi keaktifan petani serta peran Pangan Tani Merdeka dalam mendampingi sektor pertanian setempat. Penyuluh pertanian juga menyatakan kesiapan untuk melanjutkan pendampingan teknis, termasuk dalam kegiatan budi daya.

Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu petani meningkatkan hasil panen jagung dan komoditas pangan lainnya. Peningkatan hasil tidak hanya dilihat dari jumlah produksi, tetapi juga kualitas panen.[]

Don Muzakir Apresiasi Kekompakan Tani Merdeka Kalbar Kawal Program Presiden Prabowo

0
Don Muzakir Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia saat silaturahmi dengan pengurus DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Kalimantan Barat.
Don Muzakir Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia saat silaturahmi dengan pengurus DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Kalimantan Barat.

TANIMERDEKA – Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, mengapresiasi kekompakan pengurus DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Kalimantan Barat dalam mengawal kebijakan Presiden Prabowo Subianto, terutama di sektor pertanian dan ekonomi kerakyatan.

Hal tersebut disampaikan Don Muzakir saat bersilaturahmi dengan jajaran pengurus DPW Tani Merdeka Indonesia Kalimantan Barat di kantor DPW setempat, pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Daud Jordan Dewan Pembina DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Kalimantan Barat yang juga Anggota DPD RI dan sejumlah ketua dan pengurus DPD dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat turut hadir dalam pertemuan tersebut.

Don Muzakir mengatakan, kekompakan organisasi perlu diikuti dengan kerja nyata untuk memperjuangkan kepentingan petani. Menurut dia, Tani Merdeka Indonesia harus hadir di tengah masyarakat dan membantu menyampaikan aspirasi petani kepada pihak terkait.

“Saya mengapresiasi pengurus DPW Tani Merdeka Indonesia Kalimantan Barat yang terus menjaga kekompakan dan semangat kebersamaan. Organisasi ini harus bergerak bersama, tidak hanya membangun struktur, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi petani,” kata Don Muzakir.

Dia menegaskan, Tani Merdeka Indonesia memiliki tanggung jawab untuk ikut mengawal program pemerintah yang berkaitan dengan kesejahteraan petani, ketahanan pangan, dan ekonomi kerakyatan. Pengurus juga perlu memahami persoalan di lapangan, seperti kebutuhan sarana produksi, akses pasar, dan peningkatan hasil pertanian.

“Program pemerintah di sektor pertanian harus kita kawal bersama. Kami ingin petani tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut merasakan manfaat dari kebijakan yang dijalankan. Karena itu, pengurus Tani Merdeka harus dekat dengan petani dan memahami kebutuhan mereka,” ujarnya.

Don Muzakir meminta pengurus di Kalimantan Barat memperkuat koordinasi hingga tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa. Langkah ini diperlukan agar persoalan petani dapat teridentifikasi dan disampaikan kepada pihak yang berwenang.

“Yang paling penting adalah bagaimana organisasi ini bisa dirasakan manfaatnya oleh petani. Kita harus bekerja, membangun komunikasi, dan mencari solusi atas persoalan yang mereka hadapi,” kata Don Muzakir.

Sementara itu, Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, M. Saupi, mengatakan pihaknya akan memperkuat konsolidasi dan meningkatkan koordinasi dengan seluruh DPD. Upaya tersebut dilakukan agar program organisasi lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan petani di daerah.

“Pertemuan ini menjadi momentum bagi kami untuk memperkuat kebersamaan dan menyatukan langkah. Kami akan terus membangun koordinasi dengan pengurus DPD agar Tani Merdeka Indonesia semakin dekat dengan petani dan mampu memperjuangkan aspirasi mereka,” ujar Saupi.

Saupi mengatakan, Kalimantan Barat memiliki potensi pertanian yang perlu dikembangkan. Namun, upaya tersebut juga membutuhkan perhatian terhadap peningkatan kapasitas petani, ketersediaan sarana produksi, dan pemasaran hasil panen.

Dia berharap Tani Merdeka Indonesia dapat menjadi wadah bagi petani untuk menyampaikan aspirasi dan membangun kerja sama dengan berbagai pihak guna mendukung pengembangan pertanian di Kalimantan Barat.[]

Tani Merdeka Aceh Utara Resmikan Sekretariat, Salurkan Bantuan Pupuk Organik ke Kelompok Tani

0

TANIMERDEKA – DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Aceh Utara meresmikan kantor sekretariat baru di Jalan Medan–Banda Aceh, Kecamatan Syamtalira Aron, pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Peresmian diawali tradisi adat tepung tawar oleh tokoh agama setempat, Tgk. Ibnu Abbas. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pemotongan pita oleh Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh Cut Muhammad bersama Ketua DPD Tani Merdeka Aceh Utara Abdul Muthaleb dan unsur Muspika.

Kegiatan tersebut tidak hanya meresmikan sekretariat baru. Tani Merdeka Indonesia Aceh Utara juga menyerahkan bantuan Pupuk Pembenah Tanah Organik (PTOC) kepada kelompok tani binaan di Aceh Utara.

Hadir pada peresmian kantor tersebut,
Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Aceh Cut Muhammad.

Cut Muhammad mengatakan keberadaan sekretariat baru harus diikuti kegiatan yang langsung menyentuh kebutuhan petani.

Ia menyebutkan penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu fokus organisasi. Tani Merdeka juga mendorong petani memanfaatkan sarana produksi yang dinilai dapat membantu menekan biaya usaha tani.

“Penggunaan PTOC ini merupakan langkah konkret untuk memulihkan struktur kesuburan tanah sekaligus memangkas biaya pemeliharaan. Ketergantungan terhadap pupuk sintetis bisa kita tekan secara bertahap,” kata Cut Muhammad di sela kegiatan.

Cut Muhammad mengatakan Tani Merdeka Indonesia berkomitmen mengawal kebijakan pemerintah di sektor pertanian. Pendampingan petani akan diarahkan pada cara bercocok tanam yang berkelanjutan, sekaligus pemantauan pelaksanaan berbagai kebijakan pertanian.

Ia juga menyinggung kebijakan harga gabah, pupuk bersubsidi, dan peningkatan produksi pupuk yang menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga ketahanan pangan.[]

Muhammad Saleh Mustafa Dilantik Jadi Wamentan, Don Muzakir Sebut Jadi Kekuatan Baru Pertanian

0
Don Muzakir Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia
Don Muzakir Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia

TANIMERDEKA – Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir menyampaikan selamat atas pelantikan Letnan Jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wakil Menteri Pertanian oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Don Muzakir menilai kehadiran Saleh Mustafa di Kementerian Pertanian menjadi tambahan kekuatan dalam menjalankan program prioritas Presiden Prabowo Subianto di sektor pangan.

Menurut dia, hasil panen petani kini memiliki pasar melalui dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), tentu ini harus diperkuat. Kondisi ini kata Don Muzakir dapat memberi ruang bagi petani untuk mendapatkan harga yang baik dan berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani.

“Selamat kepada Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa atas amanah baru sebagai Wakil Menteri Pertanian. Ini tanggung jawab besar karena sektor pertanian berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat, masa depan petani Indonesia, dan program mbg” kata Don Muzakir.

Don Muzakir mengatakan Tani Merdeka Indonesia siap mendukung kerja Kementerian Pertanian dalam memperkuat swasembada pangan.

Dia berharap Saleh Mustafa dapat memperkuat koordinasi antara pemerintah, petani, penyuluh, kelompok tani, dan berbagai organisasi masyarakat yang bergerak di sektor pertanian.

“Yang paling penting amemastikan kebijakan pemerintah benar-benar sampai ke tingkat petani. Jangan sampai program bagus berhenti di tingkat kebijakan, tetapi tidak terasa di sawah, kebun, dan sentra produksi,” ujarnya.

Don juga berharap penguatan produksi pangan berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan pendapatan petani.

Menurut dia, petani harus ditempatkan sebagai bagian utama dalam agenda ketahanan pangan nasional. Dukungan terhadap petani perlu mencakup akses pupuk, benih, alat dan mesin pertanian, teknologi, pembiayaan, hingga kepastian pasar.

Lebih lanjut Don Muzakir mengatakan momentum pergantian dan penambahan jajaran pemerintah tersebut dapat mempercepat kerja di lapangan.

Dia berharap Saleh Mustafa dapat mendampingi Amran dalam mempercepat berbagai program peningkatan produksi. Program tersebut mencakup penyediaan pupuk, benih, irigasi, mekanisasi, perluasan areal tanam, hingga penguatan akses pasar bagi petani.

“Pak Amran sudah punya pengalaman dan memahami persoalan pertanian. Pak Saleh bisa memperkuat dari sisi koordinasi dan pelaksanaan di lapangan. Kalau keduanya bekerja bersama dengan baik, kami berharap program pertanian bisa semakin kuat dan cepat dirasakan petani,” kata Don Muzakir.

Don Muzakir juga menilai peningkatan produksi harus diikuti kebijakan yang memastikan hasil panen petani terserap.

Dia menyebutkan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi salah satu pasar bagi hasil pertanian dalam negeri.

“Petani harus mendapatkan manfaat langsung dari kebijakan pangan. Ketika hasil panen terserap untuk kebutuhan dalam negeri, termasuk untuk program MBG, maka uang berputar dari petani, desa, pedagang sampai pelaku usaha lainnya. Ini yang harus kita perkuat,” katanya.[]

 

Presiden Prabowo Lantik Muhammad Saleh Mustafa Jadi Wakil Menteri Pertanian

0
Letnan Jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wakil Menteri Pertanian.
Letnan Jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wakil Menteri Pertanian.

TANIMERDEKA – Presiden Prabowo Subianto melantik Letnan Jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wakil Menteri Pertanian pada Kamis, 1 Oktober 2026. Pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, bersama sejumlah menteri dan wakil menteri baru dalam reshuffle Kabinet Merah Putih.

Nama Saleh Mustafa disebut saat pembawa acara membacakan daftar pejabat yang akan dilantik Presiden.

“Muhammad Saleh Mustafa,” kata narator.

Setelah seluruh nama dibacakan, Presiden Prabowo mengambil sumpah dan janji para pejabat yang dilantik.

Presiden Presiden lebih dulu menanyakan kesediaan para pejabat untuk mengucapkan sumpah dan janji menurut agama masing-masing.

“Bersedia,” seru mereka.

Presiden Prabowo kemudian membacakan teks sumpah jabatan. Para pejabat mengikuti ucapan Presiden secara serentak.

“Demi Allah saya bersumpah, bahwa saya akan setia kepada Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 serta akan menjalankan segala peraturan dan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya,” ucap Prabowo.

“Demi Darma Bakti kepada bangsa dan negara, bahwa saya dalam menjalankan tugas jabatan, akan menjunjung tinggi etika jabatan, bekerja sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab,” pungkas dia.

Pengangkatan Saleh Mustafa sebagai Wamentan tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 104P Tahun 2026 tentang pemberhentian dan pengangkatan menteri serta wakil menteri Kabinet Merah Putih sisa masa jabatan 2024-2029.

Saleh Mustafa mengisi posisi Wakil Menteri Pertanian yang sebelumnya dijabat Sudaryono. Posisi tersebut kosong setelah Sudaryono ditunjuk Prabowo sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.

Sebelum masuk ke jajaran kabinet, Saleh Mustafa menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad). Ia berpangkat Letjen TNI saat mendapat penugasan baru di pemerintahan.

Penunjukan Saleh Mustafa membuat Kementerian Pertanian kini memiliki pasangan pimpinan di tingkat menteri dan wakil menteri. Posisi Menteri Pertanian tetap dijabat Andi Amran Sulaiman.

Saleh Mustafa akan mendampingi Amran dalam menjalankan tugas di Kementerian Pertanian. Salah satu agenda utama kementerian tersebut berkaitan dengan produksi pangan dan penguatan sektor pertanian.

Pelantikan Saleh juga bagian dari perombakan Kabinet Merah Putih pada 1 Oktober 2026. Sejumlah jabatan lain ikut berubah, termasuk posisi menteri, wakil menteri, kepala lembaga, Kapolri, dan sejumlah pejabat pemerintahan lainnya.

Saleh Mustafa kini resmi meninggalkan posisi Wakasad dan menjalankan tugas sebagai Wamentan.[]

Don Muzakir Ungkap Dampak MBG ke Petani: Hasil Panen Makin Punya Pasar

0
Don Muzakir Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia.
Don Muzakir Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia.

TANIMERDEKA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai membuka pasar baru bagi petani melalui kebutuhan bahan pangan untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir menilai pola tersebut dapat membuat hasil panen lebih mudah terserap sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi di tingkat desa.

Kebutuhan SPPG mencakup berbagai komoditas pangan, seperti beras, sayuran, telur, daging, ikan, buah, dan bahan pangan lainnya. Peluang tersebut dinilai semakin besar seiring perluasan pelaksanaan MBG di berbagai daerah.

“Program MBG ini bukan hanya soal makanan bergizi untuk anak-anak. Ada dampak ekonomi yang ikut dirasakan masyarakat. Hasil panen petani bisa masuk ke dapur MBG. Artinya, petani memiliki pasar yang lebih dekat dan kebutuhan pangan untuk program ini juga menjadi peluang bagi produksi pertanian di daerah,” kata Don Muzakir.

Don Muzakir mengatakan dampak tersebut mulai dirasakan petani di sejumlah daerah. Ia menyebut Jawa Tengah, Kalimantan, Sumatera Utara, Banten, dan beberapa wilayah lain sebagai daerah yang mulai melihat permintaan dari dapur MBG terhadap komoditas yang diproduksi petani.

“Petani tidak lagi hanya berpikir bagaimana menghasilkan panen, tetapi juga bagaimana hasil panen itu bisa terserap. Ketika dapur MBG membeli produk petani lokal, uangnya berputar di daerah. Petani mendapatkan pendapatan, pedagang ikut bergerak, transportasi bergerak, tenaga kerja terserap. Perputaran ekonomi dimulai dari desa,” ujarnya.

Data pemerintah menunjukkan rantai pasok MBG memang melibatkan pelaku usaha dalam jumlah besar. Badan Gizi Nasional mencatat sekitar 61.857 pemasok telah terlibat dalam program hingga Januari 2026. Pemasok tersebut berasal dari koperasi, BUMDes, UMKM, perorangan, hingga Koperasi Desa Merah Putih.

Keterlibatan pemasok tersebut kata Don Muzakir kebutuhan dapur MBG tidak hanya dipenuhi oleh perusahaan besar. Pelaku usaha di tingkat daerah juga sudah masuk ke dalam rantai pasok program.

Don Muzakir menilai posisi petani perlu diperkuat dalam rantai tersebut. Menurut dia, keberadaan SPPG akan lebih terasa bagi masyarakat jika bahan pangan dibeli dari produsen yang berada di sekitar wilayah layanan.

“Kalau kebutuhan dapur MBG bisa dipenuhi dari petani di sekitar, manfaatnya akan jauh lebih besar. Petani punya pasar, masyarakat punya pekerjaan, UMKM mendapatkan pesanan, dan uang negara ikut berputar di tingkat lokal,” katanya.

Arah kebijakan pemerintah juga memberi ruang bagi pemasok lokal. BGN menyatakan SPPG tidak boleh menolak hasil pertanian, peternakan, perikanan, atau produk UMKM dari pelaku usaha kecil secara semena-mena. Produk lokal justru diarahkan menjadi bagian dari rantai pasok MBG sesuai ketentuan yang berlaku.

Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 juga menjadi salah satu landasan kebijakan tersebut. Aturan itu memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri dan pelibatan usaha mikro, usaha kecil, koperasi, koperasi desa atau kelurahan Merah Putih, serta BUMDesa dalam penyelenggaraan MBG.

Model rantai pasok tersebut sudah terlihat di sejumlah daerah. BGN, misalnya, pernah melaporkan SPPG Dulomo Utara di Gorontalo yang menggunakan sayuran, telur, dan bahan pangan segar dari petani serta pelaku UMKM setempat. BGN menyebutkan pola pasokan langsung itu dapat memperpendek rantai distribusi dan menjaga kesinambungan suplai.

Don Muzakir mengatakan pola seperti itu perlu diperluas. Ia meminta dapur MBG tidak hanya menjadi tempat memasak, tetapi juga menjadi titik pertemuan antara kebutuhan pangan dengan produksi masyarakat sekitar.

“Jangan sampai dapurnya ada di desa, tetapi bahan bakunya didatangkan dari tempat yang jauh. Kalau di sekitar dapur ada petani yang menghasilkan beras, telur, sayur, ikan atau komoditas lainnya, mereka harus mendapatkan ruang untuk menjadi pemasok. Ini yang akan membuat ekonomi benar-benar tumbuh dari bawah,” katanya.

Kebutuhan pasar tersebut menjadi semakin besar seiring bertambahnya skala program. BGN mencatat realisasi anggaran MBG mencapai Rp139,77 triliun atau 63,89 persen dari pagu Rp218,77 triliun hingga 16 September 2026. Pagu MBG tahun 2026 mencapai Rp218,77 triliun setelah dilakukan penajaman anggaran.

Jumlah penerima manfaat yang tercatat per 31 Agustus 2026 mencapai 56,99 juta orang. Angka tersebut setara dengan 76,45 persen dari target 74,56 juta penerima manfaat. BGN menyebut data penerima masih terus dimutakhirkan sejalan dengan pembenahan tata kelola program.

Skala kebutuhan tersebut membuat permintaan terhadap pangan menjadi salah satu bagian penting dari pelaksanaan MBG. Petani yang mampu memenuhi volume, kualitas, kontinuitas, serta standar keamanan pangan memiliki peluang masuk ke pasar tersebut.

Don Muzakir mengatakan peningkatan produksi harus berjalan bersama kesiapan petani memenuhi kebutuhan pasar. Petani tidak cukup hanya menghasilkan komoditas dalam jumlah besar. Kualitas dan kepastian pasokan juga menjadi bagian dari kebutuhan SPPG.

“Petani harus siap dengan pasar yang semakin besar. Kita dorong produktivitas, kualitas, kontinuitas pasokan, dan kerja sama antarkelompok tani. Jangan sampai peluang pasar sudah terbuka, tetapi petani tidak siap memasok,” katanya.

Pemerintah sebelumnya juga menyampaikan pandangan serupa mengenai hubungan MBG dan sektor pertanian. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono pada Mei 2026 menyebut kebutuhan MBG menciptakan permintaan besar terhadap susu, sayuran, telur, ayam, dan komoditas pangan lainnya. Ia menilai permintaan tersebut dapat ikut menggerakkan ekonomi pertanian di daerah.

Sementara itu Sudaryono juga mengatakan peningkatan produksi pangan dan pengurangan impor membuat perputaran ekonomi lebih banyak terjadi di dalam negeri. Pandangan tersebut disampaikan ketika ia masih menjabat Wakil Menteri Pertanian.

Dampak ekonomi MBG tidak hanya berasal dari pembelian bahan pangan. Operasional SPPG juga menciptakan lapangan kerja dan melibatkan berbagai pemasok.

BGN mencatat satu SPPG mampu menyerap sekitar 47 tenaga kerja langsung dan melibatkan sedikitnya 15 pemasok bahan pangan. Data BGN pada Desember 2025 juga mencatat sekitar 800.000 orang telah bekerja dalam operasional SPPG secara nasional.

Catatan lain BGN pada akhir 2025 menyebut jumlah pemasok dan tenaga kerja terus bertambah seiring ekspansi program. Pada Januari 2026, BGN mencatat 61.857 pemasok terlibat dalam rantai pasok MBG.

Don Muzakir melihat hubungan tersebut sebagai satu rantai ekonomi. Petani memasok bahan pangan, pekerja mengolahnya di dapur, pengemudi mengangkut bahan dan makanan, sedangkan pedagang dan UMKM ikut terlibat dalam penyediaan kebutuhan SPPG.

“Kalau satu dapur saja melibatkan puluhan pekerja dan pemasok, kemudian jumlah dapurnya terus bertambah, kita bisa melihat betapa besar efek ekonominya. Ada petani, peternak, nelayan, pedagang, pengemudi, pekerja dapur sampai UMKM yang ikut bergerak,” ujar Don Muzakir.

Peluang tersebut tetap memiliki syarat. BGN terus memperketat standar keamanan pangan dan kepatuhan operasional SPPG. Pada September 2026, BGN sempat menghentikan sementara 1.276 SPPG yang belum memenuhi persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Kebijakan itu menunjukkan pemasok lokal bukan hanya perlu tersedia, tetapi juga harus mampu memenuhi standar yang ditetapkan. Bahan pangan yang masuk ke dapur MBG harus memenuhi persyaratan mutu dan keamanan pangan.

Don Muzakir mengatakan Tani Merdeka Indonesia akan mendorong petani menyesuaikan diri dengan kebutuhan tersebut. Penguatan kelompok tani, peningkatan produksi, kualitas hasil, serta kerja sama antarpelaku menjadi bagian yang menurut dia perlu disiapkan.

Rantai pasok yang lebih pendek juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemasok dari luar daerah. Ketika kebutuhan SPPG bisa dipenuhi dari sekitar wilayah layanan, transaksi dapat berlangsung lebih dekat dengan produsen.

Pola tersebut dapat menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas. Petani mendapatkan pasar, pekerja mendapatkan penghasilan, dan usaha kecil mendapatkan permintaan baru.

“Kalau petani sejahtera, desa bergerak. Kalau desa bergerak, ekonomi daerah ikut tumbuh. Jadi kita melihat MBG bukan hanya dari makanan yang sampai ke meja anak-anak, tetapi juga dari bagaimana program ini menciptakan permintaan terhadap hasil petani dan membuat uang berputar di desa,” kata Don Muzakir.

Skala MBG yang terus berkembang membuat hubungan antara program pangan dan sektor pertanian semakin penting. Bagi petani, peluang tersebut baru akan terasa maksimal jika tersedia akses pasar yang jelas, produksi yang konsisten, dan kemampuan memenuhi standar yang dibutuhkan dapur SPPG.

Perputaran ekonomi yang muncul juga tidak berhenti pada transaksi antara petani dan dapur. Rantai tersebut melibatkan pengangkutan, perdagangan, pengolahan bahan pangan, tenaga kerja dapur, hingga usaha pendukung lainnya.

Ruang itulah yang menjadi perhatian Don Muzakir ketika melihat MBG dari sisi ekonomi. Program pangan tersebut dinilai dapat menjadi pasar dengan permintaan rutin, sementara petani dan pelaku usaha desa menjadi salah satu pihak yang dapat mengisinya.[]

Regenerasi Petani Bergantung pada Generasi Muda, Ini Persoalannya

0

TANIMERDEKA – Minat generasi muda menjadi petani dinilai sulit tumbuh jika profesi tersebut belum mampu menjamin penghasilan dan kehidupan yang layak. Kondisi itu tidak hanya mengancam regenerasi petani, tetapi juga dapat memperbesar risiko berkurangnya lahan pertanian.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Warmadewa sekaligus pecinta pertanian I Made Gianyar mengatakan persoalan utama regenerasi bukan sekadar mengajak anak muda turun ke sawah. Petani juga harus memiliki penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak.

Ia menilai pandangan terhadap profesi petani perlu diubah. Petani harus memiliki nilai ekonomi dan sosial yang setara dengan profesi lain agar generasi muda tidak menganggap pertanian sebagai pilihan pekerjaan terakhir.

“Inilah perlu dirubah mindset-nya, bagaimana petani itu menjadi berharga sama seperti profesi-profesi lainnya. Kalau orang jadi petani tidak bisa sejahtera, tidak bisa nyekolahin anak, tidak bisa hidupnya enak, akhirnya alih fungsi itu tidak bisa terkecuali,” ujarnya.

Mantan Bupati Bangli dua periode itu mengatakan kesejahteraan petani berkaitan langsung dengan keberlanjutan lahan pertanian. Ketika bertani dianggap tidak menjanjikan, generasi muda akan lebih memilih sektor lain yang dinilai menawarkan penghasilan dan masa depan lebih baik.

Pilihan tersebut juga dapat memicu alih fungsi lahan. Petani yang tidak lagi melihat pertanian sebagai sumber penghidupan bisa meninggalkan usaha tani atau mengubah penggunaan lahannya.

Gianyar karena itu menilai kebijakan pertanian perlu memberi keuntungan ekonomi yang lebih jelas kepada petani. Dukungan tidak cukup hanya berupa bantuan produksi, tetapi juga harus menyentuh pengolahan hasil, pemasaran, akses pasar, dan pengembangan usaha.

Ia melihat sektor pertanian juga bisa terhubung dengan sektor pariwisata. Hubungan tersebut dapat membuka pasar baru sekaligus menambah sumber pendapatan petani.

“Sehingga orang tidak perlu berbunuh-bunuh, bersaing ke sana-sini. Ternyata jadi petani juga terhormat seperti jadi direktur, jadi manajer di pariwisata, sama juga bergengsinya dengan jadi ASN,” jelasnya.

Menurut Gianyar, perubahan citra profesi petani harus berjalan bersama peningkatan pendapatan. Anak muda akan lebih tertarik jika pertanian tidak hanya menawarkan pekerjaan, tetapi juga peluang untuk membangun usaha.

Perubahan itu bisa dimulai dari cara mengelola pertanian. Teknologi, pemasaran digital, pengolahan hasil, dan pengembangan agribisnis dapat membuka ruang baru bagi generasi muda.

Pertanian juga tidak harus selalu identik dengan pekerjaan fisik di lahan. Anak muda dapat terlibat sebagai pengelola usaha, pengolah hasil panen, pemasar produk, hingga pengembang teknologi pertanian.

Gianyar menilai peluang tersebut perlu diperkuat agar generasi muda melihat pertanian sebagai sektor yang bisa memberikan penghasilan. Pendekatan itu juga penting untuk menjaga hubungan antara petani, lahan, dan ekonomi desa.

Sektor pariwisata dapat menjadi salah satu jalur pengembangan. Produk pertanian lokal dapat masuk ke rantai pasok hotel, restoran, dan usaha wisata. Kawasan pertanian juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan wisata jika sesuai dengan kondisi daerah.

Model tersebut membuat petani memiliki lebih banyak pilihan untuk memperoleh pendapatan. Hasil pertanian tidak harus dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah.

Persoalan regenerasi petani pada akhirnya berkaitan dengan ekonomi. Anak muda membutuhkan kepastian bahwa pekerjaan tersebut mampu mendukung kebutuhan hidup dan masa depan keluarga.

Jumlah anak muda yang bersedia meneruskan usaha tani akan sulit bertambah jika persoalan kesejahteraan tidak diselesaikan. Risiko kehilangan petani sekaligus lahan pertanian pun semakin besar ketika generasi berikutnya memilih meninggalkan sektor tersebut.

Gianyar menilai pemerintah perlu melihat regenerasi petani sebagai bagian dari pembangunan ekonomi. Petani tidak hanya membutuhkan akses terhadap lahan, tetapi juga kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang layak dari usaha pertanian.

Regenerasi petani karena itu bukan sekadar mencari penerus. Persoalannya adalah membuat profesi petani cukup menarik secara ekonomi agar generasi muda bersedia menjadikannya pilihan hidup.[]

Usai Pelantikan Korcam Tani Merdeka Indonesia, Bupati Bireuen Minta Pendampingan Petani Diperkuat hingga Kecamatan

0
Mukhlis Bupati Kabupaten Bireuen
Mukhlis Bupati Kabupaten Bireuen

TANIMERDEKA – Pemerintah Kabupaten Bireuen ingin pendampingan petani diperkuat hingga tingkat kecamatan. Langkah itu dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah.

Bupati Bireuen Mukhlis mengatakan sektor pertanian menjadi salah satu penopang perekonomian daerah. Karena itu, peningkatan produksi perlu berjalan bersama dengan upaya meningkatkan kesejahteraan petani.

Pernyataan tersebut disampaikan Mukhlis saat menghadiri kegiatan Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Bireuen di Aula Hotel Bireuen Jaya, pada Kamis, 24 September 2026. Kegiatan itu bertepatan dengan Hari Tani Nasional.

“Kesejahteraan masyarakat kita sangat bergantung pada produktivitas dan hasil kerja para petani,” ujarnya.

Mukhlis menilai keberadaan Koordinator Kecamatan (Korcam) Tani Merdeka Indonesia di 17 kecamatan dapat memperkuat komunikasi dengan petani. Pengurus di tingkat kecamatan juga diharapkan lebih cepat mengetahui persoalan yang muncul di lapangan.

Ia meminta pengurus Korcam tidak berhenti pada tugas organisasi. Mereka juga perlu menjadi penghubung antara petani, pengurus Tani Merdeka Indonesia di tingkat kabupaten dan provinsi, serta pemerintah.

“Jadilah jembatan komunikasi yang efektif antara petani, pengurus daerah, dan pemerintah. Dampingi petani kita agar mampu menghadapi tantangan pertanian modern, mulai dari ketersediaan sarana produksi hingga pemasaran hasil panen,” katanya.

Menurut Mukhlis, komunikasi yang berjalan baik di tingkat kecamatan akan memudahkan petani menyampaikan persoalan. Pemerintah juga dapat lebih cepat berkoordinasi untuk mencari solusi.

Persoalan pertanian saat ini, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan hasil produksi. Petani juga menghadapi persoalan sarana produksi, penerapan teknologi, pengelolaan usaha tani, hingga pemasaran hasil panen.

Kondisi tersebut membutuhkan pendampingan yang tidak hanya datang ketika masalah muncul. Petani membutuhkan akses informasi dan komunikasi yang terus berjalan selama proses produksi hingga hasil panen dipasarkan.

Pemkab Bireuen menyatakan siap bekerja sama dengan Tani Merdeka Indonesia untuk mendukung program yang berkaitan dengan pertanian.

“Pemkab Bireuen siap bersinergi dan mendukung langkah nyata Tani Merdeka Indonesia demi mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan para petani di wilayah Bireuen,” ujarnya.

Sementara itu Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh, Cut Muhammad, mengatakan pengurus Korcam yang telah terbentuk perlu segera menjalankan tugasnya. Ia berharap mereka ikut mengawal program pemerintah di bidang pertanian, terutama yang berkaitan dengan swasembada dan ketahanan pangan.

“Saya mengimbau, para penyuluh dan Tani Merdeka agar dapat bersinergi demi meningkatkan produktivitas pangan di Bireuen sebagai salah satu lumbung pangan Aceh,” imbuh Cut Muhammad.

Sebanyak tiga pengurus dari masing-masing 17 kecamatan menerima Surat Keputusan (SK) kepengurusan periode 2026–2031. Mukhlis selaku Ketua Penasihat DPD Tani Merdeka Indonesia Bireuen menyerahkan SK dan pataka kepada perwakilan Korcam.

Kegiatan tersebut juga diisi penyerahan bantuan kepada sejumlah kelompok tani. Penerimanya antara lain Kelompok Tani Makmur Jaya, Gampong Blang Dalam, Kecamatan Makmur; Kelompok Tani Tgk Kayee Lhoen, Gampong Cot Saleut, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng; Kelompok Tani Udep Beusare, Gampong Bate Raya, Kecamatan Juli; Kelompok Tani Pulo Pisang, Gampong Cot Bate, Kecamatan Kuala; serta Kelompok Tani Rindang, Gampong Cot Tunong, Kecamatan Gandapura.

Pembentukan Korcam di 17 kecamatan memperluas jalur komunikasi organisasi dengan petani di tingkat lapangan. Struktur tersebut juga mempertemukan pengurus Tani Merdeka, penyuluh pertanian, dan pemerintah dalam satu jaringan koordinasi.

Kehadiran pengurus di tingkat kecamatan diharapkan memudahkan penyampaian kebutuhan petani. Persoalan seperti pupuk, alat pertanian, teknologi, produksi, dan pemasaran dapat disampaikan lebih cepat kepada pihak terkait.

Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, Tenaga Ahli Menteri Bidang Teknologi, Inovasi Pengairan dan Irigasi Hendri Sosiawan, Kepala Pusat Peralatan dan Modernisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agus Susianto, para penyuluh pertanian, serta pengurus Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Bireuen dan Aceh.[]