Beranda blog

Petani Muda di Klaten Kembangkan Melon Sweet Lavender dan Golden Aroma

0

TANIMERDEKA – Petani muda di Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Klaten, mulai mengembangkan budidaya melon dengan sistem greenhouse. Cara tersebut dipilih untuk menjaga tanaman dari serangan hama sekaligus menghasilkan buah dengan kualitas yang lebih terjaga.

Salah satu petani yang mengembangkan usaha tersebut ialah Irfan Tri Kusuma dari Pamenang Farm. Ia membudidayakan dua varietas melon, yakni Sweet Lavender dan Golden Aroma.

Kebun melon milik Irfan menarik perhatian Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo saat kegiatan Sambung Rasa di Desa Joho.

Hamenang bersama Ketua TP PKK Klaten Fahrani Hamenang bahkan turun langsung memetik melon di Green House Pamenang Farm. Lokasi kebun tersebut tidak jauh dari tempat kegiatan Sambung Rasa.

Hamenang mengapresiasi usaha pertanian yang dikembangkan masyarakat Desa Joho. Menurutnya, pengembangan komoditas pangan tidak hanya dapat membuka peluang ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan desa.

“Maturnuwun (Terimakasih) di Joho ini luar biasa, ketahanan pangan (Ketapang) sudah bergerak dan berkembang. Ada jagungnya, ada buah-buahannya, dan sudah ada proteinnya. Kedepan semoga semakin berkembang. Ini bisa menjadi contoh bagi Desa yang lain,” ujar Hamenang.

Irfan mengatakan budidaya melon tersebut juga menjadi cara untuk mengajak anak muda melihat pertanian sebagai pilihan usaha. Ia ingin menunjukkan bahwa menjadi petani dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih modern.

“Kami budidaya melon jenis sweet lavender dan golden aroma. Perbedaannya yang sweet lavender lebih renyah dan golden aroma lebih lembut. Manisnya itu berbeda dengan melon-melon biasanya,” terangnya.

Budidaya melon tersebut sudah berjalan sekitar dua bulan. Irfan memilih sistem greenhouse karena tanaman lebih terlindungi dari hama dan kondisi pertumbuhannya dapat lebih mudah dikendalikan.

Panen perdana menjadi hasil awal dari budidaya tersebut. Irfan kemudian menyiapkan rencana untuk mengembangkan kebun melon menjadi lokasi wisata petik buah.

“Ini panen yang perdana, setelah ini kami buda wisata petik buah melon di Desa Joho, dengan membayar Rp. 35 ribu per kilo. Kemudian jika masih sisa kami akan jual ke pemborong,” terangnya.

Konsep tersebut membuat hasil panen tidak hanya bergantung pada pembeli dalam jumlah besar. Masyarakat dapat datang langsung ke kebun dan membeli melon dari hasil budidaya petani.

Pengembangan melon juga membuka peluang bagi desa untuk memiliki komoditas pertanian yang bernilai ekonomi. Sistem *greenhouse* memberi ruang bagi petani untuk mengembangkan budidaya dengan pendekatan yang lebih terkontrol.

Potensi tersebut menjadi salah satu bagian dari pengembangan pertanian Desa Joho. Pemerintah Kabupaten Klaten melihat keberagaman komoditas sebagai modal untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat desa.

Kegiatan Sambung Rasa di Desa Joho juga diisi dengan panen jagung bersama Bupati Klaten, pemberian bantuan, dialog dengan masyarakat, dan berbagai layanan Pemerintah Kabupaten Klaten.[]

Tani Merdeka Sultra Kawal Ketersediaan Air Pertanian Hadapi Dampak El Nino

0

TANIMERDEKA – Ketersediaan air menjadi salah satu persoalan yang perlu segera diantisipasi petani saat dampak El Nino mulai dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara.

DPW Tani Merdeka Indonesia Sulawesi Tenggara bersama DPD Tani Merdeka Indonesia kabupaten dan kota mendorong penguatan infrastruktur air untuk menjaga lahan pertanian tetap produktif.

Hal tersebut dibahas dalam pertemuan dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV, sekaligus membahas terkait kebutuhan petani sekaligus pengawalan program penanganan dampak El Nino.

Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Kendari Sahuriyanto mengatakan koordinasi diperlukan untuk mengetahui kebutuhan petani secara lebih rinci, terutama terkait ketersediaan air untuk lahan pertanian.

“Kita bersama TMI Sultra dan DPD Tani Merdeka kabupaten/kota dengan BWS IV Sultra mengawal program utamanya penanganan dampak El Nino,” ungkap Sahuriyanto.

Tani Merdeka Indonesia menyampaikan sejumlah usulan dalam koordinasi tersebut. Kebutuhan yang dibahas antara lain pembangunan dan penguatan jaringan irigasi pertanian, pembangunan embung, serta penambahan titik sumur bor.

Ketersediaan sumber air menjadi penting ketika curah hujan berkurang. Petani dapat kesulitan mempertahankan pola tanam jika pasokan air ke lahan tidak mencukupi.

Kondisi itu juga dapat memengaruhi luas tanam dan produktivitas pertanian. Karena itu, pembangunan infrastruktur air dinilai perlu disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah dan kebutuhan petani.

Sahuriyanto mengatakan sinergi dengan BWS Sulawesi IV dibutuhkan agar program penanganan dampak El Nino tidak hanya berhenti pada perencanaan. Program harus benar-benar menjawab persoalan air yang dihadapi petani di lapangan.

Usulan irigasi, embung, dan sumur bor diharapkan dapat menjadi bagian dari langkah antisipasi menghadapi keterbatasan air. Infrastruktur tersebut juga dapat membantu petani mempertahankan kegiatan produksi ketika musim kering berlangsung lebih panjang.

Tani Merdeka Indonesia Sulawesi Tenggara berharap koordinasi dengan BWS Sulawesi IV menghasilkan program yang bisa segera dirasakan manfaatnya. Prioritas diberikan kepada wilayah yang menghadapi keterbatasan sumber air dan membutuhkan dukungan untuk menjaga lahan pertanian tetap berproduksi.[]

BMKG Ingatkan Petani, Puncak Kemarau dan El Nino Ancam Produksi Pertanian

0

TANIMERDEKA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat, terutama pelaku sektor pertanian, meningkatkan kewaspadaan menghadapi kondisi iklim ekstrem.

Sebagian besar wilayah Indonesia saat ini memasuki puncak musim kemarau. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air dan produksi pertanian.

Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab mengatakan puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

“Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sedang dalam periode puncak musim kemarau. Kami perkirakan puncak musim kemarau terjadi pada periode Agustus hingga September 2026 ini,” kata Fachri, sebagaimana keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI yang diterima di Jakarta, pada Senin, 7 September 2026.

Fachri mengatakan kondisi kemarau tahun ini menjadi lebih berat karena dipengaruhi fenomena iklim global El Nino yang diprediksi berintensitas sangat kuat. Fenomena tersebut diperkirakan bertahan hingga awal 2027.

Puncak kemarau yang berbarengan dengan El Nino dapat menekan curah hujan secara signifikan. Kondisi itu juga berpotensi memperpanjang periode kekeringan di sejumlah wilayah.

Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat yang membutuhkan air bersih. Sektor pertanian juga menghadapi risiko penurunan produksi karena ketersediaan air untuk lahan semakin terbatas.

Kondisi kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki vegetasi mudah terbakar.

BMKG memprediksi musim penghujan belum akan datang secara serentak. Masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan diperkirakan berlangsung bertahap mulai pertengahan Oktober hingga akhir November 2026.

Perubahan musim tersebut membuat petani perlu menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi cuaca dan ketersediaan air di masing-masing wilayah.

BMKG memperketat pemantauan dinamika atmosfer untuk melihat perkembangan kondisi iklim. Informasi tersebut akan disampaikan secara berkala kepada kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

Data iklim menjadi salah satu dasar bagi pemerintah untuk mengantisipasi keterbatasan air, mengatur kegiatan pertanian, serta memperkuat pencegahan karhutla.

Langkah antisipasi diperlukan agar dampak kemarau panjang dan El Nino terhadap masyarakat, terutama petani, dapat ditekan. Pemerintah daerah juga perlu menyesuaikan kebijakan pengelolaan air dan pertanian dengan kondisi cuaca di wilayah masing-masing.[]

Tani Merdeka Indonesia Kaji Kendaraan Listrik untuk Efisiensi Distribusi Hasil Panen

0
Don Muzakir Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia berkunjung ke PT Yifang Eco Vehicle di Tangerang.
Don Muzakir Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia berkunjung ke PT Yifang Eco Vehicle di Tangerang.

TANIMERDEKA – Biaya distribusi masih menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi harga hasil pertanian.

Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir mendorong penggunaan teknologi transportasi yang lebih efisien untuk membantu petani dan pedagang menekan ongkos angkut.

Salah satunya teknologi yang tengah dikaji adalah kendaraan listrik. Kendaraan tersebut dinilai berpotensi digunakan untuk mengangkut hasil pertanian dari sentra produksi menuju pasar.

Don Muzakir bersama Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Lebak Ellen Herdyansyah mengkaji peluang tersebut melalui kunjungan ke PT YIFANG ECO VEHICLE di Tangerang.

Don Muzakir mengatakan modernisasi sektor pertanian tidak cukup hanya dilakukan pada tahap produksi. Persoalan setelah panen, termasuk pengangkutan dan distribusi, juga perlu mendapat perhatian.

Hasil panen yang melimpah tidak otomatis meningkatkan pendapatan petani jika biaya untuk membawanya ke pasar terlalu tinggi. Kondisi tersebut dapat mengurangi keuntungan petani sekaligus membuat harga komoditas lebih mahal ketika sampai ke konsumen.

Karena itu, Don Muzakir menilai kendaraan listrik sebagai salah satu pilihan yang layak dikaji. Penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan petani dan pedagang serta kondisi distribusi di setiap daerah.

Don Muzakir mengatakan teknologi tidak boleh berhenti sebagai inovasi yang hanya menarik untuk dilihat. Teknologi harus memberikan manfaat ekonomi dan bisa digunakan oleh pelaku usaha di lapangan.

Pembahasan tersebut juga melihat kemungkinan kendaraan listrik digunakan oleh pelaku usaha mikro dan kecil yang bergerak dalam perdagangan komoditas pangan. Efisiensi biaya operasional menjadi salah satu aspek yang perlu dihitung sebelum teknologi tersebut diterapkan lebih luas.

Sementara itu Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Lebak Ellen Herdyansyah mengatakan distribusi memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran rantai pangan. Menurut dia, hasil pertanian harus dapat bergerak dari sentra produksi menuju pasar dengan biaya yang masuk akal.

“Kami melihat kendaraan listrik sebagai salah satu peluang untuk mendukung modernisasi distribusi pangan. Namun, teknologi tersebut harus mampu menjawab kebutuhan di lapangan dan memberikan manfaat bagi petani, pedagang, hingga konsumen,” ujar Ellen.

Ellen mengatakan kelayakan kendaraan listrik perlu dilihat secara menyeluruh. Faktor daya angkut, jarak tempuh, kondisi jalan, biaya perawatan, dan kemampuan pengguna menjadi bagian yang harus diperhitungkan.

“Kami ingin memastikan inovasi ini bukan sekadar tren, tetapi benar-benar mampu meningkatkan efisiensi rantai pangan,” katanya.

Tani Merdeka Indonesia berharap kajian tersebut dapat menemukan model transportasi yang sesuai dengan kebutuhan distribusi pangan. Penggunaan kendaraan listrik diharapkan tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga mampu mengurangi beban biaya yang ditanggung petani dan pedagang.[]

Indonesia – Malaysia Bahas Akses Pasar Produk Pertanian dan Pangan

0

TANIMERDEKA – Pemerintah Indonesia dan Malaysia membahas akses pasar dan fasilitasi perdagangan dalam Pertemuan Tingkat Menteri ke-4 Joint Trade and Investment Committee (JTIC) Indonesia-Malaysia di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, pada Kamis,

Pembahasan secara khusus menyoroti perdagangan produk pertanian dan pangan. Kedua negara juga mencari solusi atas sejumlah persoalan yang masih menghambat perdagangan bilateral.

Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mengatakan Indonesia dan Malaysia berkomitmen menyelesaikan berbagai persoalan tersebut.

“Diskusi kami mengenai akses pasar dan fasilitasi perdagangan, termasuk untuk produk pertanian dan pangan, dengan tujuan untuk mengatasi isu-isu yang belum terselesaikan dan memfasilitasi perdagangan bilateral,” ujar Budi.

Budi mengatakan pembahasan akses pasar menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan perdagangan kedua negara. Kerja sama tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih nyata bagi Indonesia dan Malaysia.

Pertemuan JTIC ke-4 juga menghasilkan komitmen untuk memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi melalui berbagai mekanisme bilateral yang relevan.

Kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama investasi. Indonesia dan Malaysia juga mendorong terciptanya iklim investasi yang lebih kondusif.

Kerja sama perdagangan turut dilanjutkan pada sejumlah sektor yang menjadi kepentingan bersama. Sektor tersebut antara lain perdagangan elektronik atau e-commerce, pertanian, isu halal, dan standardisasi.

Pembahasan sejumlah sektor tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia-Malaysia tidak hanya bertumpu pada perdagangan barang. Kerja sama juga diarahkan pada investasi dan sektor ekonomi yang berkembang seiring perubahan kebutuhan pasar.

Budi meyakini hasil pertemuan JTIC ke-4 dapat memperkuat hubungan perdagangan dan investasi kedua negara.

“Kami yakin bahwa hasil-hasil ini akan semakin memajukan hubungan perdagangan dan investasi bilateral kita serta memperdalam kerja sama ekonomi antara kedua negara,” kata Budi.[]

Tani Merdeka Indonesia Dukung Gerakan Tanam Serempak di Hulu Sungai Tengah

0

TANIMERDEKA – Lahan yang selama bertahun-tahun sulit dimanfaatkan karena sering terendam air kini mulai digarap untuk pertanian di Desa Kayu Rabah, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Kawasan tersebut masuk dalam program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dengan target pengembangan lahan mencapai 1.366 hektare.

Hingga saat ini, sekitar 515 hektare lahan telah selesai diolah dan siap ditanami. Brigade Pangan bersama kelompok tani juga telah menanam padi di sekitar 421 hektare.

Pemanfaatan lahan ini upaya memperluas areal produksi pangan di Hulu Sungai Tengah. Sebelumnya, genangan air menjadi kendala utama bagi masyarakat untuk mengolah lahan secara maksimal.

Pembangunan tanggul keliling dan sejumlah tanggul kecil mulai mengubah kondisi kawasan tersebut. Lahan yang sebelumnya kurang produktif kini mulai dimanfaatkan untuk bercocok tanam.

Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Qut Nandra Willi Yanti, mengatakan perubahan kondisi lahan tersebut membuka peluang baru bagi petani.

Ia menghadiri gerakan tanam serempak yang digelar di lahan CSR Desa Kayu Rabah, pada Senin, 31 Agustus 2026.

“Ini merupakan langkah yang sangat baik. Lahan yang sebelumnya sulit dimanfaatkan karena sering terendam, sekarang mulai bisa digarap dan ditanami. Tentunya ini harus kita dukung bersama,” ujar Qut Nandra.

Menurut dia, pekerjaan tidak boleh berhenti setelah lahan dibuka dan benih ditanam. Petani membutuhkan pendampingan agar tanaman dapat dipelihara hingga masa panen.

“Kita berharap tidak berhenti sampai tanam saja. Setelah ini harus ada pendampingan, bagaimana pemeliharaannya, bagaimana nanti sampai panen. Petani harus benar-benar merasakan manfaat dari program ini,” katanya.

Qut Nandra menilai keberhasilan program cetak sawah baru akan terlihat dari kemampuan petani mengelola lahan secara berkelanjutan dan menghasilkan panen.

“Kami dari TMI HST tentu sangat mendukung program-program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani. Karena kalau petani maju, pertanian juga maju, dan ketahanan pangan daerah semakin kuat,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang, Andi Amal Hayat Makmur, mengatakan lahan yang telah siap harus segera dimanfaatkan untuk kegiatan tanam.

Menurut dia, musim kemarau tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan upaya pemanfaatan lahan yang sudah siap.

“Kita sekarang ada di HST. Kami sangat berharap untuk setiap tanam itu di lokasi Oplah 2024 maupun 2025 dan CSR 2025, saat ini juga ada CSR 2026, meskipun di musim kemarau kita tetap tanam,” jelas Andi.

Ia mengatakan, jajaran UPT Kementerian Pertanian yang bertugas di lapangan diminta terus mencari dan mengidentifikasi lahan yang dapat segera ditanami.

“Sebab, arahan Bapak Menteri Pertanian, di musim apa pun, di kondisi apa pun, kita diminta untuk segera mengidentifikasi lokasi-lokasi yang siap tanam,” tambahnya.

Andi juga meminta persoalan yang dihadapi petani segera dicatat dan dilaporkan. Langkah itu diperlukan agar kebutuhan di lapangan dapat diusulkan kepada pemerintah pusat.

“Sehingga, semuanya bisa tanam di lokasi Opla dan khususnya di lokasi Opla serta cetak sawah,” ujarnya.

Gerakan tanam di Desa Kayu Rabah menjadi bagian dari pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum dapat digunakan secara optimal.

Pekerjaan besar berikutnya adalah menjaga ketersediaan air, memastikan kondisi tanggul tetap berfungsi, serta mendampingi petani selama masa tanam.

Keberhasilan program ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh luas lahan yang berhasil dibuka. Hasil panen dan keberlanjutan pengelolaan lahan akan menjadi ukuran apakah perubahan kawasan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi petani.

Gerakan tanam serempak di lokasi tersebut turut melibatkan pemerintah daerah, jajaran pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, TNI-Polri, penyuluh pertanian, Brigade Pangan, kelompok tani, dan unsur terkait lainnya.[]

Aturan Baru, Mentan Amran Buka Akses Alsintan bagi Buruh Tani yang Tak Punya Lahan

0
Amran Sulaiman Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Amran Sulaiman Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas).

TANIMERDEKA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membuka akses bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) bagi buruh tani yang tidak memiliki lahan.

Kebijakan tersebut mulai berlaku pada Senin, 31 Agustus 2026. Pemerintah menyiapkan bantuan itu untuk meningkatkan pendapatan buruh tani yang selama ini belum banyak mendapat akses bantuan pertanian.

Amran mengatakan buruh tani sering tidak mendapatkan bantuan alsintan karena tidak memiliki lahan atau belum tergabung dalam kelompok tani. Pemerintah kini mengubah regulasi agar kelompok tersebut bisa menjadi penerima prioritas.

Bantuan yang disiapkan mencakup pompa, traktor, hingga alat panen. Buruh tani nantinya dapat menggunakan alsintan tersebut untuk menambah penghasilan.

“Regulasi kami ubah, sudah kami ubah, kami sudah tanda tangani. Prioritaskan alat mesin pertanian, pompa dan seterusnya pada buruh tani yang tidak punya sawah supaya kesejahteraannya meningkat,” kata Amran di Karawang, Jawa Barat, pada Senin, 31 Agustus 2026.

Amran mengatakan kebijakan itu lahir setelah dirinya menemukan kondisi buruh tani yang masih memiliki pendapatan sangat rendah. Ia menemukan ada buruh tani yang hanya memperoleh sekitar Rp30.000 per hari.

Pekerjaan tersebut juga tidak selalu tersedia setiap hari. Sebagian buruh tani hanya bekerja dua hingga tiga kali dalam sepekan.

Jika hanya bekerja dua kali dalam sepekan, pendapatan buruh tani tersebut diperkirakan sekitar Rp240.000 per bulan. Kondisi itu dinilai perlu mendapat perhatian karena buruh tani juga menjadi bagian penting dalam kegiatan produksi pangan.

Buruh tani yang belum memiliki kelompok nantinya dapat membentuk kelompok dengan pendampingan penyuluh pertanian lapangan (PPL).

PPL akan membantu proses pembentukan kelompok sekaligus melakukan verifikasi. Setelah kelompok dinyatakan memenuhi persyaratan, pengajuan bantuan dapat disampaikan kepada pemerintah pusat secara daring.

Alsintan kemudian dikirim kepada kelompok yang telah lolos verifikasi.

“Jadi buruh buat kelompok, nanti PPL yang membantu mengelompokkan, kirim ke pusat, bisa online, langsung barangnya kita kirim. Tapi verifikasi,” ujarnya.

Amran mengatakan satu kelompok dapat dibentuk dengan sedikitnya sekitar 10 orang. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada hari yang sama.

Pemerintah menyiapkan sejumlah jenis alsintan untuk mendukung program tersebut. Bantuan mencakup pompa, alat panen, serta traktor roda dua dan roda empat.

Amran menyebutkan pemerintah juga telah menyiapkan puluhan ribu pompa. Peralatan tersebut diharapkan bisa digunakan untuk membantu kegiatan pertanian sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan bagi buruh tani.

Buruh tani penerima bantuan dapat memanfaatkan alsintan untuk membantu petani yang membutuhkan. Salah satu caranya dengan menyewakan peralatan tersebut.

Skema itu membuat buruh tani memiliki sumber pendapatan lain. Mereka tidak hanya memperoleh penghasilan dari bekerja di lahan, tetapi juga dari jasa penggunaan alsintan.

Amran memperkirakan pendapatan buruh tani dapat meningkat dibandingkan kondisi sebelumnya. Ia menilai pendapatan Rp5 juta per bulan sudah menjadi capaian yang baik.

“Kalau sudah dapat Rp5 juta per bulan kan sudah bagus daripada tadi Rp240 ribu,” kata Amran.

Amran sebelumnya juga menghitung peluang pendapatan yang lebih besar jika alsintan digunakan untuk menggarap lahan dalam skala luas. Namun, perhitungan tersebut menggambarkan kondisi dengan hasil paling tinggi.

Kebijakan bantuan alsintan bagi buruh tani berjalan bersamaan dengan program pompanisasi. Program tersebut diarahkan untuk mengatasi persoalan kekeringan sekaligus meningkatkan frekuensi tanam.

Pemerintah berharap akses bantuan pertanian tidak hanya dinikmati petani yang sudah memiliki lahan atau tergabung dalam kelompok tani. Buruh tani yang selama ini bekerja di lahan milik orang lain juga diharapkan mendapat kesempatan meningkatkan pendapatan.

“Ini sekarang kami prioritaskan pada buruh tani supaya pendapatannya meningkat. Yang punya sawah kan sudah juga kita berikan. Tetapi prioritaskan pada yang belum dapat, sehingga pendapatannya meningkat,” ujar Amran.

Kebijakan tersebut sekaligus mengubah pendekatan penyaluran bantuan alsintan. Pemerintah tidak hanya melihat kepemilikan lahan sebagai dasar penerima bantuan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi ekonomi dan peran buruh tani dalam kegiatan produksi pertanian.

Kelompok Tani Sukabumi Kembangkan Pertanian dan Peternakan Terintegrasi

0

TANIMERDEKA – Kelompok Tani Cipicung di Desa Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengembangkan usaha pertanian dan peternakan secara terintegrasi. Kotoran kambing yang dihasilkan dari peternakan dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian anggota.

Model usaha tersebut menghubungkan kegiatan peternakan dengan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat. Rumput ditanam untuk pakan ternak, sedangkan kotoran kambing diolah menjadi pupuk bagi tanaman.

Ketua Kelompok Tani Cipicung, Apri, mengatakan pengembangan peternakan yang dimulai dari 15 ekor kambing memberikan manfaat lebih luas bagi anggota kelompok.

“Bantuan ini sangat membantu kami karena kambing yang dipelihara tidak hanya dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan, tetapi kotorannya juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan pertanian,” kata Apri.

Program tersebut dikembangkan sejak 2025 bersama Star Energy Geothermal Salak Ltd. Kelompok Tani Cipicung membangun pola produksi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

Kelompok yang beranggotakan 40 orang itu mengelola berbagai komoditas pertanian dan perkebunan. Tanaman yang dibudidayakan antara lain jeruk, cengkeh, pala, dan pisang.

Kebutuhan pakan ternak dipenuhi melalui pola tumpang sari. Rumput ditanam di sela-sela tanaman buah sehingga anggota dapat memanfaatkan kebun sekaligus menyediakan pakan untuk kambing.

Pola tersebut memudahkan anggota saat melakukan aktivitas di kebun. Rumput yang tersedia dapat langsung dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak.

Kotoran kambing kemudian dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk organik padat. Pupuk itu digunakan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian anggota kelompok.

Sejak November 2025, Kelompok Tani Cipicung telah menghasilkan sekitar 3,4 ton pupuk organik padat. Pupuk tersebut kemudian didistribusikan kepada para anggota untuk digunakan pada lahan pertanian mereka.

“Sekarang kami tidak hanya mendapatkan manfaat dari kambingnya, tetapi juga dari kotorannya yang bisa diolah menjadi pupuk. Pupuk ini kami gunakan kembali untuk tanaman anggota,” ujar Apri.

Peternakan yang dikelola kelompok juga mulai memberikan tambahan aset ekonomi. Tiga kambing betina telah berkembang biak dan menghasilkan empat ekor anakan.

Anakan kambing tersebut direncanakan dijual menjelang Idul Adha. Hasil penjualan diharapkan dapat menambah pendapatan kelompok sekaligus mendukung pengembangan usaha peternakan.

Pengelolaan ternak dilakukan secara bersama-sama. Sedikitnya dua anggota mendapat jadwal untuk merawat kambing setiap hari.

Kelompok juga menerapkan mekanisme bagi hasil. Sebanyak 60 persen pendapatan dialokasikan sebagai insentif bagi anggota yang terlibat dalam pengelolaan usaha.

Sebanyak 40 persen lainnya dimasukkan ke kas kelompok. Dana tersebut digunakan sebagai modal untuk mengembangkan kegiatan pertanian dan peternakan.

Pola tersebut membentuk siklus usaha yang saling mendukung. Kebun menyediakan rumput untuk pakan kambing. Peternakan menghasilkan pupuk untuk kebutuhan tanaman. Pertambahan populasi kambing kemudian membuka sumber pendapatan baru bagi kelompok.

Model ini juga membantu anggota memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara lebih maksimal. Limbah peternakan tidak dibuang begitu saja, tetapi diolah kembali untuk mendukung kegiatan pertanian.

Kolaborasi antara Star Energy Geothermal Salak Ltd. dan Kelompok Tani Cipicung diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengembangkan sumber penghidupan secara mandiri dan berkelanjutan.

Anggota kelompok menjadi pengelola langsung aset dan usaha yang dikembangkan. Manfaat ekonomi yang diperoleh juga diputar kembali untuk mendukung kegiatan kelompok.

Melalui sistem pertanian dan peternakan yang saling terhubung, Kelompok Tani Cipicung berupaya membangun usaha yang tidak hanya menghasilkan pendapatan dari satu sektor, tetapi memanfaatkan hasil dari setiap kegiatan untuk mendukung kegiatan lainnya.

Panen 10 Hektare di Tengah Kemarau, Petani Banjar Minta Pengairan Diperkuat

0
Hj Helda Rina Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Banjar.
Hj Helda Rina Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Banjar.

TANIMERDEKA – Kelompok Tani Sungkai Sejahtera menggelar panen raya di Desa Sungkai, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada Senin, 31 Agustus 2026. Panen dilakukan di lahan seluas sekitar 10 hektare.

Kelompok Tani Sungkai Sejahtera merupakan kelompok tani binaan Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Banjar. Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Banjar Hj Helda Rina turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Petani memanen padi varietas Inpari 32. Benih yang digunakan merupakan benih unggul bantuan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pertanian.

Panen tetap dilakukan meski petani menghadapi musim kemarau. Kondisi tersebut membuat ketersediaan air menjadi salah satu persoalan yang harus diperhatikan.

Hj Helda Rina mengapresiasi Kelompok Tani Sungkai Sejahtera yang tetap mampu melakukan panen di tengah kondisi tersebut.

Menurut dia, hasil panen menjadi hal yang patut disyukuri karena petani masih mampu menghasilkan produksi yang cukup baik.

“Alhamdulillah hari ini kita bisa hadir bersama para petani dalam kegiatan syukuran sekaligus panen raya. Ini tentu menjadi sesuatu yang patut kita syukuri, karena di tengah kondisi kemarau, petani masih bisa menghasilkan panen yang cukup baik,” ujar Hj Helda Rina.

Menurut Hj Helda, hasil panen tidak terlepas dari kerja keras petani. Dukungan pemerintah dan penggunaan benih unggul yang sesuai dengan kondisi lahan juga ikut membantu produksi.

“Tentu kita berharap ke depan dukungan kepada petani terus diperkuat, baik dari sisi benih, pupuk, pengairan maupun pendampingan. Karena petani adalah salah satu ujung tombak dalam menjaga ketahanan pangan kita,” katanya.

Hj Helda mengatakan persoalan air perlu mendapat perhatian lebih serius ketika musim kemarau. Ketersediaan air sangat menentukan keberlangsungan tanaman padi sampai masa panen.

“Kita berharap persoalan air ini bisa menjadi perhatian bersama. Kalau sumber air masih tersedia, tentu harus dimaksimalkan agar tanaman padi tetap bisa tumbuh dan petani tidak mengalami kerugian,” tuturnya.

Menurut Hj Helda, kebutuhan petani tidak hanya berkaitan dengan benih dan pupuk. Pengairan juga menjadi faktor penting yang harus dipastikan, terutama ketika curah hujan rendah.

Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Banjar, kata Hj Helda, akan terus menampung persoalan yang disampaikan petani. Aspirasi tersebut selanjutnya akan didorong agar mendapat perhatian dari pihak terkait.

“Kami dari Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Banjar tentu akan terus memberikan dukungan dan menyerap aspirasi para petani. Apa yang menjadi kebutuhan dan kendala di lapangan akan kita dorong agar mendapat perhatian, sehingga kesejahteraan petani dan produksi pangan di Kabupaten Banjar bisa terus meningkat,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Warsita mengatakan hasil ubinan pada lahan yang dipanen mencapai sekitar 5,9 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.

“Yang dipanen ini jenis Inpari 32, benih unggul bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pertanian. Hasil ubinan tadi sekitar 5,9 ton gabah kering panen,” kata Warsita.

Warsita menilai hasil tersebut masih cukup baik. Produksi sedikit turun karena kondisi cuaca, terutama kekeringan yang terjadi menjelang panen.

“Memang ada sedikit penurunan karena cuaca. Saat mau panen bertepatan dengan musim kemarau. Tapi alhamdulillah masih bisa panen sekitar enam ton per hektare,” ujarnya.

Kondisi kemarau membuat petani perlu mengatur penggunaan air dengan lebih cermat. Dinas Pertanian Kabupaten Banjar meminta kelompok tani memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di sekitar lahan.

Petani juga didorong menggunakan pompa jika sumber air memungkinkan. Cara tersebut diharapkan dapat menjaga kebutuhan air tanaman selama musim kemarau.

“Untuk musim kemarau ini, pergunakan air semaksimal mungkin. Kalau masih ada sumber air, gunakan pompa supaya tanaman tetap mendapatkan air dan nantinya bisa panen,” jelasnya.

Warsita juga mengingatkan petani agar tidak membakar sisa tanaman setelah panen. Musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga sisa tanaman sebaiknya tidak dibakar.

Sisa tanaman dapat diolah menjadi kompos. Bahan tersebut kemudian bisa dimanfaatkan kembali sebagai pupuk untuk lahan pertanian.

“Sisa-sisa dari panen nanti dibuat untuk dikomposkan menjadi pupuk, sehingga bisa dimanfaatkan kembali untuk meningkatkan produksi padi,” katanya.[]

Rakerwil I Tani Merdeka Indonesia Jambi Ditutup, Rekomendasi Petani Dikawal ke Pemerintah Pusat

0
Aiman Adnan Wakil Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia.
Aiman Adnan Wakil Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia.

TANIMERDEKA – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) I DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Jambi resmi ditutup pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Penutupan dilakukan Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Tani Merdeka Indonesia, Aiman Adnan. Aiman juga menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Pertanian.

Rakerwil tersebut menjadi forum konsolidasi pengurus Tani Merdeka Indonesia dari kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Forum ini juga membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani serta langkah organisasi dalam mengawal program pemerintah di sektor pertanian.

Dalam sambutannya, Aiman mengatakan Rakerwil I memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kegiatan internal organisasi. Menurut dia, forum tersebut menjadi ruang untuk menyatukan langkah seluruh kader sekaligus membahas persoalan yang dihadapi petani.

“Pesan Ketua Umum, rakerwil ini tidak hanya melahirkan keputusan-keputusan untuk organisasi secara internal dan berdampak bagi para petani, tetapi juga menjadi ajang konsolidasi bagi seluruh kader Tani Merdeka se-Provinsi Jambi. Kita hadir justru di saat petani membutuhkan solusi,” ujar Aiman Adnan.

Menurut Aiman, Tani Merdeka Indonesia harus mampu hadir ketika petani menghadapi persoalan di lapangan. Organisasi tidak cukup hanya menggelar pertemuan, tetapi juga perlu memastikan setiap aspirasi petani mendapat tindak lanjut.

Ia mengatakan berbagai keputusan dan rekomendasi yang dihasilkan dalam Rakerwil I DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Jambi akan diteruskan kepada Dewan Pimpinan Nasional.

Rekomendasi tersebut juga akan dilihat kemungkinan untuk diselaraskan dengan program pemerintah pusat, terutama yang berkaitan dengan sektor pertanian dan kebutuhan petani.

“Apa yang menjadi keputusan dan rekomendasi hasil rapat kerja wilayah ini akan segera ditindaklanjuti oleh Dewan Pimpinan Nasional. Termasuk apa saja yang bisa disinkronisasi dengan pemerintah pusat, Dewan Pimpinan Nasional siap mengawalnya,” kata Aiman Adnan.

Aiman menilai persoalan petani di setiap daerah memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, hasil pembahasan dari tingkat wilayah menjadi penting sebagai bahan bagi organisasi untuk menyampaikan kondisi yang terjadi di lapangan.

Ia berharap komunikasi antara pengurus di tingkat wilayah, kabupaten, hingga desa terus berjalan. Aspirasi petani, kata dia, harus dapat disampaikan secara berjenjang agar persoalan yang muncul bisa segera mendapat perhatian.

Lebih lanjut, Aiman menyampaikan harapan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Tani Merdeka Indonesia agar seluruh jajaran organisasi terus bergerak hingga tingkat desa.

Menurut dia, pengurus Tani Merdeka Indonesia di daerah memiliki peran untuk mengawal program pemerintah sekaligus membantu mencari solusi atas persoalan yang dihadapi petani.

“Harapan Ketua Umum, jajaran DPW sampai tingkat desa terus bergerak dan mengawal setiap program, serta menjadi solusi bagi petani Jambi,” tegasnya.

Aiman mengatakan sektor pertanian membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah memiliki program dan kebijakan, sementara organisasi petani dapat membantu menyampaikan kondisi nyata yang terjadi di lapangan.

Karena itu, ia meminta jajaran Tani Merdeka Indonesia di Jambi terus membangun komunikasi dengan petani dan pemerintah daerah. Setiap persoalan yang ditemukan di lapangan perlu dicatat dan dicarikan jalan keluarnya bersama.

Rakerwil tersebut diharapkan menjadi dasar bagi pengurus untuk menyusun langkah kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan petani di masing-masing daerah.

Di akhir sambutannya, Aiman menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Jambi. Ia menilai para pengurus tetap aktif bergerak dan terlibat dalam upaya menyukseskan program pemerintah di sektor pertanian.

“Kami mengapresiasi seluruh jajaran pengurus yang masih terus bergerak dan setia membantu menyukseskan performa Presiden Prabowo di sektor pertanian,” pungkas Aiman Adnan.[]