Beranda blog

Program MBG Dongkrak Pendapatan Petani Sayur di Bondowoso

0
Petani memanen brokoli yang ditanam dengan metode tumpang sari di Lencoh, Selo, Boyolali, Jawa Tengah.
Petani memanen brokoli yang ditanam dengan metode tumpang sari di Lencoh, Selo, Boyolali, Jawa Tengah.

TANIMERDEKA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, sudah memberi dampak terhadap perekonomian warga sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Kondisi itu terlihat di SPPG Bondowoso Pujer Mangli. Program tersebut dinilai mampu membantu petani lokal sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.

Kehadiran MBG membuat perputaran ekonomi baru mulai tumbuh, terutama di sektor pertanian dan distribusi hasil panen.

Salah satu warga yang merasakan dampaknya adalah Aprilia Ningsih, distributor sayur asal Desa Randu Cangkring, Kecamatan Pujer. Saat ini, Aprilia rutin memasok kebutuhan sayur untuk dapur MBG di SPPG Mangli.

Jenis sayur yang dipasok cukup beragam, mulai dari sawi mie, sawi pakcoy, buncis, hingga edamame. Komoditas itu menjadi kebutuhan harian untuk menu MBG.

“Setelah ada MBG, penjualan meningkat dan sayur tidak sampai menumpuk seperti dulu,” ujar Aprilia dikutip dari kabarrakyat.id.

Menurut Aprilia, sebelum program MBG berjalan, permintaan pasar sering tidak menentu. Kondisi itu membuat hasil panen petani kerap terlambat terjual.

Situasi berubah setelah dapur MBG mulai beroperasi. Kebutuhan pasokan sayur kini berlangsung rutin setiap hari.

Kenaikan permintaan juga berdampak pada harga jual komoditas pertanian. Harga buncis yang sebelumnya sempat turun hingga Rp1.500 per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp10 ribu per kilogram.

Harga sawi pakcoy juga mengalami kenaikan. Sebelumnya, harga komoditas itu berada di kisaran Rp450 ribu per kuintal. Saat ini nilainya mencapai sekitar Rp900 ribu per kuintal.

“Kalau dihitung, peningkatan nilai ekonominya bisa sampai dua kali lipat. Dulu satu keresek hanya sekitar Rp20 ribu, sekarang bisa mencapai Rp100 ribu,” jelasnya.

Aprilia mengatakan pasokan sayur diperoleh langsung dari petani lokal di sekitar wilayah Cangkring. Ia juga membantu petani dengan menyediakan bibit tanaman.

“Saya kasih bibit ke petani, nanti saat panen hasilnya dijual ke saya. Jadi sama-sama saling membantu,” katanya.

Pola kerja sama itu membuat petani memiliki kepastian pasar. Distributor juga mendapat jaminan pasokan sayur untuk kebutuhan dapur MBG.

Selain memasok ke dapur MBG, Aprilia tetap mendistribusikan hasil panen ke pasar induk Bondowoso. Langkah itu dilakukan agar distribusi tetap berjalan dan pasar semakin luas.

Menurut Aprilia, dampak paling terasa dari program MBG adalah meningkatnya semangat petani untuk kembali menanam.

“Dulu sering sekali sayur tidak laku sampai dibuang. Sekarang hampir semua hasil panen bisa terserap. Harga juga lebih stabil dan cenderung naik,” ungkapnya.

Aprilia juga ikut membina petani agar kualitas sayur sesuai standar kebutuhan dapur MBG. Salah satunya melalui pengaturan pola tanam sawi mie agar ukuran tanaman lebih besar dan masuk kategori kualitas super.

Dari sisi distribusi, Aprilia mampu mengirim hingga dua kuintal sayur per hari. Jumlah itu terdiri dari sekitar satu kuintal buncis dan 90 kilogram labu siam.

Saat permintaan menurun, pasokan tetap berada di kisaran 60 kilogram per hari.

Dengan keuntungan sekitar Rp500 per kilogram, Aprilia memperkirakan pendapatan kotornya mencapai Rp100 ribu per hari. Dalam sepekan, penghasilannya bisa mencapai Rp500 ribu atau sekitar Rp2 juta per bulan sebelum dipotong biaya operasional.

Saat ini ada sekitar enam petani yang menjadi mitra tetap pemasok kebutuhan MBG. Mereka menanam edamame, sawi daging, sawi mie, hingga timun sesuai kebutuhan pasar.

Aprilia menilai program MBG memberi kepastian pasar bagi petani dan distributor di wilayahnya.

“Sekarang petani lebih semangat karena hasil panennya jelas ada yang menampung. Jadi semua sama-sama diuntungkan,” pungkasnya.[]

Sektor Pertanian Disebut Bisa Jadi Kekuatan Ekonomi di Tengah Rupiah Melemah

0

TANIMERDEKA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan berpotensi menembus Rp17.522 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai tidak selalu berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia. Kondisi tersebut justru disebut bisa menjadi momentum memperkuat sektor pertanian nasional.

Menurut Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian Kadin Indonesia, Devi Erna Rachmawati, tekanan kurs memang membuat biaya impor pangan, pupuk, hingga bahan baku pertanian meningkat. Namun, situasi itu juga membuka peluang bagi penguatan produksi dalam negeri.

“Ketika dolar naik, negara pengimpor akan terpukul. Tetapi negara dengan sektor pertanian yang kuat justru bisa bangkit. Karena itu, krisis kurs harus diubah menjadi momentum memperkuat fondasi ekonomi nasional berbasis pangan dan pertanian,” ujar Devi.

Devi menilai langkah paling mendesak saat ini adalah mempercepat swasembada pangan nasional. Komoditas strategis seperti beras, kedelai, jagung, hingga sumber protein nabati lokal perlu diperkuat produksinya agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor.

Harga pangan impor yang semakin mahal akibat pelemahan rupiah dinilai bisa membebani masyarakat dan industri pangan nasional. Karena itu, pemerintah didorong meningkatkan cadangan pangan strategis untuk menjaga stabilitas harga di pasar.

Selain memperkuat produksi pangan, Devi juga menyoroti pentingnya hilirisasi sektor pertanian. Menurut dia, Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada ekspor bahan mentah.

Produk pertanian dinilai harus diolah menjadi barang bernilai tambah agar mampu meningkatkan devisa negara. Ia mencontohkan singkong yang bisa diolah menjadi tepung mocaf, kedelai menjadi protein nabati, hingga kelapa dan sawit yang dikembangkan menjadi produk bioenergi dan oleochemical.

“Ketika dolar tinggi, produk olahan ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global. Ini peluang besar untuk meningkatkan devisa dan memperkuat industri pangan nasional,” katanya.

Pelemahan rupiah juga disebut memberi keuntungan bagi eksportir karena pendapatan dalam dolar menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Sejumlah komoditas pertanian Indonesia dinilai memiliki peluang besar memperluas pasar ekspor.

Komoditas seperti kopi, kakao, rempah-rempah, sawit, produk organik, hingga hortikultura tropis disebut masih diminati pasar internasional. Pemerintah pun didorong memperluas akses pasar, mempercepat sertifikasi global, dan memperkuat branding produk pangan Indonesia di luar negeri.

Devi juga menilai ketergantungan Indonesia terhadap pupuk impor dan bahan baku pakan ternak harus segera dikurangi. Penguatan dolar AS membuat harga pupuk dan pakan melonjak sehingga biaya produksi petani ikut meningkat.

Sebagai solusi, ia mendorong pengembangan pupuk organik, biofertilizer, fermentasi pakan lokal, hingga pertanian regeneratif yang dinilai lebih efisien dan berkelanjutan.

“Momentum ini juga bisa membuka industri baru berbasis pertanian lokal dan bioeconomy,” ujarnya.

Modernisasi pertanian juga dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi produksi nasional. Devi mendorong penerapan smart farming, drone pertanian, precision agriculture, kecerdasan buatan (AI), greenhouse modern, hingga digitalisasi distribusi pangan.

Menurut dia, teknologi akan membantu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi petani.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan sejumlah kajian internasional. Food and Agriculture Organization dan World Bank menilai negara dengan basis pertanian kuat cenderung lebih tahan menghadapi gejolak global dan volatilitas mata uang dibanding negara yang bergantung pada impor pangan.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Pada kuartal I-2026, sektor pertanian tumbuh sekitar 4,97 persen secara tahunan dan berkontribusi sekitar 12,67 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Devi menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi lumbung pangan Asia jika momentum pelemahan rupiah dimanfaatkan dengan tepat.

“Strategi terbaik saat dolar tinggi adalah memperkuat produksi pangan nasional, mempercepat hilirisasi, dan membangun ekspor pertanian berbasis teknologi. Krisis kurs bisa berubah menjadi peluang besar jika pertanian dijadikan fondasi utama ekonomi nasional,” katanya.[]

Wamentan Sudaryono: Sawit Indonesia Lebih Unggul, Negara Asing Mulai Khawatir

0
Sudaryono Wakil Menteri Pertanian
Sudaryono Wakil Menteri Pertanian

HABAKITA – Sudaryono Wakil Menteri Pertanian menegaskan kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang selama ini kerap menjadi sasaran kampanye negatif dari sejumlah negara asing.

Menurut Sudaryono, minyak sawit Indonesia dinilai lebih efisien dan lebih kompetitif dibanding minyak nabati lain yang diproduksi negara-negara Eropa. Kondisi itu disebut memicu munculnya berbagai narasi negatif terhadap sawit Indonesia.

“Jadi Anda semua sebagai generasi terbaik Indonesia, jangan termakan propaganda. Kenapa Asing seolah-olah anti-sawit sama kita? Karena minyak nabati dia itu tidak laku atau kurang diminati atau kurang efisien dibanding minyak sawit kita,” ujar Sudaryono.

Sudaryono menjelaskan, produktivitas sawit Indonesia jauh lebih tinggi dibanding tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Menurut dia, hasil minyak dari satu hektare kebun sawit setara dengan produksi minyak dari delapan hingga 15 hektare kebun bunga matahari.

“Kalau Anda lihat kebun bunga matahari, tidak ada pohonnya Pak. Itu sudah jelas secara ekologi, sawit itu lebih efektif dan lebih efisien. Lantas kenapa sawit seolah-olah jahat?” kata Sudaryono.

Pria yang akrba disapa Mas Dar, juga menyebutkan kebijakan European Union terkait European Union Deforestation Regulation (EUDR). Aturan itu dinilai menjadi hambatan bagi produk sawit Indonesia untuk masuk ke pasar global.

“Eropa tidak mau minyak sawit kita itu dipersulit dengan EUDR lah, deforestasi lah, inilah, itulah. Karena sawit kita itu lebih efisien,” ujarnya.

Sudaryono menilai, apabila negara-negara lain benar-benar peduli terhadap isu lingkungan global, seharusnya mereka mendukung pengembangan sawit yang memiliki produktivitas tinggi dan penggunaan lahan yang lebih hemat.

“Kalau bangsa lain begitu peduli dengan ekologi dan ekosistem dunia, maka harusnya dia investasi tanam kebun sawit satu hektar di Indonesia, dia reboisasi kebun bunga matahari di negaranya lima belas hektare. Apakah dia mau lakukan itu? Tidak mau Pak,” tegasnya.

Lebih lanjut Sudaryono mengatakan, sawit sebagai miracle crop atau tanaman unggulan Indonesia. Komoditas tersebut dinilai memiliki banyak manfaat, mulai dari kebutuhan pangan hingga sumber energi.

“Sawit ini miracle crop, ini championnya Indonesia. Tidak tumbuh di banyak negara dan kita 60 persen sawit yang beredar seluruh dunia ini berasal dari Indonesia. Bisa jadi energi, bisa jadi pangan. Jadi, konotasi atau propaganda sawit ini sudah saya dengar lama,” ujarnya.

Indonesia memang menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Industri sawit juga menyerap jutaan tenaga kerja dan menjadi salah satu penopang ekspor nasional.

Meski begitu, sektor sawit kerap mendapat sorotan terkait isu lingkungan, mulai dari deforestasi hingga perlindungan habitat satwa liar. Pemerintah dan pelaku industri beberapa tahun terakhir terus mendorong penguatan praktik sawit berkelanjutan.

Sudaryono menepis anggapan bahwa seluruh pengembangan sawit berdampak buruk terhadap lingkungan. Ia memastikan pembangunan kebun sawit tetap melalui kajian lingkungan.

“Yakinlah bahwa semua kebun sawit yang dibangun itu secara ekologi ada kajiannya,” pungkasnya.[]

Cadangan Beras Melimpah, Bulog Perkuat Ketahanan Pangan

0

TANIMERDEKA – Perum Bulog merayakan hari ulang tahun ke-59 dengan mengusung tema “Bulog Siap Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan” di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, pada Senin, 11 Mei 2026.

Perayaan digelar serentak di berbagai daerah di Indonesia. Momentum ini menjadi penegasan komitmen Bulog dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung target swasembada pangan pemerintah.

Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Utama Bulog Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, jajaran direksi, serta para pegawai Bulog.

Suasana acara berlangsung sederhana dan hangat. Musik tradisional ikut mengiringi jalannya kegiatan. Nuansa kebersamaan terlihat kuat sepanjang perayaan berlangsung.

Dalam sambutannya, Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan rasa syukur atas perjalanan panjang Bulog yang kini memasuki usia ke-59 tahun.

Ia berharap Bulog terus berkembang menjadi perusahaan yang semakin profesional dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

“Kami mohon doa restu dari seluruh rakyat Indonesia agar di usia Bulog yang ke-59 ini, Bulog ke depan semakin profesional, modern, adaptif, dan selalu memberikan pelayanan yang terbaik untuk petani dan rakyat Indonesia,” ujarnya.

Menurut Rizal, peringatan HUT kali ini menjadi semangat baru bagi seluruh insan Bulog untuk meningkatkan kontribusi kepada masyarakat dan negara.

Ia mengatakan Bulog tidak hanya berperan sebagai penyalur logistik pangan nasional. Ke depan, perusahaan juga diarahkan menjadi orkestrator logistik pangan nasional hingga internasional.

Bulog juga memaparkan capaian strategis perusahaan dalam mendukung program swasembada pangan nasional.

Setelah mencatat stok tertinggi sebesar 4,2 juta ton pada 2025, hingga 11 Mei 2026 Bulog telah mengelola Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 5,3 juta ton.

Jumlah itu diperkirakan terus bertambah dan ditargetkan menembus 6 juta ton pada akhir Mei 2026.

Capaian tersebut disebut sebagai hasil kerja sama berbagai pihak. Mulai dari petani, penggilingan padi, mitra kerja, pemerintah daerah, hingga dukungan TNI dan Polri.

Rangkaian HUT Bulog juga diisi dengan pembukaan Bulog Anniversary Festival 59. Kegiatan dibuka melalui seremoni pemotongan pita Gerakan Pasar Murah (GPM).

Melalui program itu, masyarakat bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau lewat bazar rakyat dan program tebus murah.

Bulog juga menghadirkan berbagai kegiatan sosial dan hiburan. Mulai dari stand UMKM, donor darah, hingga demo memasak.

Sejumlah produk dijual dengan harga lebih rendah, sekitar 30 sampai 40 persen di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).

Bulog turut menyalurkan 1.000 paket sembako kepada masyarakat sebagai bagian dari kegiatan sosial perusahaan.

Bantuan diberikan kepada anak yatim, personel TNI dan Polri, petugas keamanan, sopir, petugas kebersihan, mekanik, hingga warga sekitar.

Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh Direktur Utama Bulog bersama jajaran direksi dan tamu undangan.

Perayaan HUT ke-59 Bulog masih berlanjut pada malam hari melalui agenda Malam Penganugerahan dan Syukuran di Gedung Serba Guna Oryza Sativa.

Kegiatan itu meliputi pemotongan tumpeng, peluncuran buku “Bulog Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan”, pemberian penghargaan, hingga penyaluran beasiswa berprestasi.[]

Wamentan Sudaryono Silaturahmi ke Jokowi: Indonesia Tak Lagi Impor Beras

0
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono melakukan silaturahmi dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah, pada Jumat (8/5/2026) malam.(Foto: Istimewa)
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono melakukan silaturahmi dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah, pada Jumat (8/5/2026) malam.(Foto: Istimewa)

TANIMERDEKA – Wakil Menteri Pertanian Sudaryono melakukan silaturahmi dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, pada Jumat, 8 Mei 2026 malam. Pertemuan itu membahas perkembangan sektor pertanian nasional, ketahanan pangan, hingga keberlanjutan program pemerintah.

Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar mengatakan, dirinya juga melaporkan capaian swasembada pangan yang berhasil diraih pemerintah pada 2025.

Menurut dia, capaian tersebut merupakan bagian dari target yang pernah diberikan Jokowi saat dirinya dilantik menjadi Wakil Menteri Pertanian.

“Saya pernah dilantik sebagai wakil menteri di era Presiden Jokowi, waktu itu dengan tugas dan target yang jelas, bagaimana mencapai swasembada pangan secepat-cepatnya,” ujar Sudaryono dalam pernyataan tertulisnya, Sabtu (9/5/2026).

“Dan dalam kesempatan silaturahmi ini saya juga melaporkan ke Pak Jokowi bahwa swasembada telah kita raih di tahun 2025 dan akan kita teruskan,” tambahnya.

Sudaryono menjelaskan, keberhasilan swasembada pangan terlihat dari berhentinya impor beras dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi petani di sejumlah daerah juga disebut mulai membaik.

Pemerintah, kata dia, telah menaikkan harga gabah menjadi Rp 6.500 per kilogram untuk memberi nilai jual yang lebih baik bagi petani.

“Alhamdulillah, sebagaimana juga Pak Jokowi ketahui sekarang ini kita tidak lagi impor beras, kemudian harga gabah juga kita naikkan menjadi Rp 6.500 dan petani happy,” ujar Sudaryono yang juga menjabat Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah.

Selain harga gabah, pemerintah juga disebut menjaga ketersediaan pupuk bagi petani. Program subsidi dan diskon harga pupuk hingga 20 persen dinilai membantu menekan biaya produksi pertanian.

Dukungan pengairan dan penyerapan hasil panen juga disebut ikut meningkatkan semangat petani untuk terus menanam.

Dalam pertemuan tersebut, Jokowi disebut memberikan apresiasi terhadap perkembangan sektor pertanian nasional. Mantan presiden itu menilai kondisi petani saat ini lebih baik dibanding sebelumnya.

“Pak Presiden Jokowi juga mengapresiasi dan menyampaikan bahwa pengamatan beliau itu memang petani saat ini dalam kondisi yang baik, bahagia, karena hasil panennya didukung pemerintah, pupuknya cukup, pengairannya ada, dan harga panen raya juga dibeli dengan harga yang baik,” tutur Sudaryono.

Pertemuan itu tidak hanya membahas capaian pertanian. Sudaryono juga mengaku meminta arahan dan masukan dari Jokowi terkait pelaksanaan tugasnya di Kementerian Pertanian.

Menurut dia, pengalaman Jokowi selama memimpin Indonesia masih penting sebagai bahan masukan dalam menjalankan program pembangunan, terutama di sektor pangan dan pertanian.

“Saya merasa bangga dan bahagia pada hari ini bisa bersilaturahmi dengan Pak Jokowi dan bisa bertatap muka. Kami mendoakan semoga Pak Presiden Jokowi senantiasa diberikan kesehatan dan kelancaran segala urusannya,” ucap Sudaryono yang juga menjabat Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Sudaryono menegaskan, kesinambungan program pemerintah perlu dijaga agar pembangunan di sektor pangan bisa terus berjalan dan memberi dampak langsung bagi masyarakat.

“Dan sinergi terus untuk bagaimana pemerintahan berjalan ini bisa terlaksana dengan baik, program-program bisa terlaksana dengan baik. Kami mohon arahan selalu,” ucapnya.

Sengketa Lahan Memanas, Tani Merdeka Sumsel Pasang Badan Bela Petani Banyuasin

0
Tim advokasi LBH Tani Nusantara mendampingi ratusan petani di Desa Girirang dan Desa Timbul Jaya, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, yang sedang sengketa lahan dengan PT Ciptamas Bumi Subur (CBS).
Tim advokasi LBH Tani Nusantara mendampingi ratusan petani di Desa Girirang dan Desa Timbul Jaya, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, yang sedang sengketa lahan dengan PT Ciptamas Bumi Subur (CBS).

TANIMERDEKA – DPW Tani Merdeka Indonesia Sumatera Selatan mendampingi ratusan petani di Desa Girirang dan Desa Timbul Jaya, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, yang sedang sengketa lahan dengan PT Ciptamas Bumi Subur (CBS).

Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Sumatera Selatan, Medi Ahmazon, mengatakan pihaknya turun langsung mengawal perjuangan petani yang mempertahankan lahan garapan mereka.

Menurut dia, persoalan agraria yang terjadi tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut sumber penghidupan masyarakat.

“Kami dari DPW Tani Merdeka Indonesia Sumsel hadir sebagai benteng terakhir bagi para petani. Tanah ini adalah nafas hidup mereka. Jangan sampai investasi yang masuk ke daerah justru mematikan penghidupan rakyat kecil yang sudah ada sejak turun-temurun,” ujar Medi Ahmazon, dikutip pada Senin, 11 Mei 2026.

Medi menegaskan Tani Merdeka Indonesia tidak akan tinggal diam jika hak-hak petani terabaikan.

Ia juga meminta penyelesaian konflik dilakukan secara adil dan terbuka, bukan sekadar melalui janji tanpa kepastian.

“Kami instruksikan seluruh jajaran Satgas dan Tim Advokasi untuk mengawal kasus ini sampai tuntas. Jika PT CBS tidak menunjukkan itikad baik untuk berdialog dan mengembalikan hak rakyat, kami akan membawa gerakan ini ke tingkat yang lebih tinggi, baik secara hukum maupun aksi massa yang lebih besar,” tegasnya.

Pendampingan hukum terhadap petani dilakukan melalui Tim Advokasi LBH Tani Nusantara yang melibatkan sejumlah praktisi hukum.

Kehadiran pengurus DPW Tani Merdeka Indonesia Sumsel di lokasi sengketa sebagai bentuk keseriusan organisasi dalam menangani persoalan konflik lahan di Muara Sugihan.

Dalam tuntutannya, DPW Tani Merdeka Indonesia Sumsel bersama warga menyampaikan tiga poin utama perjuangan.

Pertama, meminta restitusi lahan atau pengembalian hak atas tanah ulayat dan lahan garapan petani.

Kedua, meminta penghentian sementara aktivitas alat berat milik PT CBS di area sengketa hingga persoalan selesai.

Ketiga, mendesak pemerintah melakukan audit dan evaluasi terhadap izin lokasi perusahaan.

Mereka juga meminta Kementerian Kehutanan dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan turun langsung melihat kondisi di lapangan.

Saat ini, ratusan petani masih bertahan di lokasi konflik lahan.

Pengawasan dilakukan bersama DPW Tani Merdeka Indonesia Sumsel untuk memastikan tidak ada aktivitas perusahaan yang dinilai merugikan masyarakat selama proses sengketa berlangsung.[]

Tingkatkan Produksi, Kementan Tanam Padi Serentak 50.000 Hektare di 25 Provinsi

0
Petani di Kabupaten Tangerang saat menanam padi serentak.
Petani di Kabupaten Tangerang saat menanam padi serentak.

TANIMERDEKA – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat gerakan tanam serentak seluas 50.000 hektare di 25 provinsi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga produksi pangan nasional sekaligus mengantisipasi ancaman musim kemarau 2026.

Program tersebut juga menyasar percepatan pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana di sejumlah daerah.

Gerakan tanam serentak digelar pada Kamis 30 April 2026 lalu. Kegiatan ini mencakup lahan optimalisasi (oplah), cetak sawah rakyat (CSR), dan lahan rehabilitasi pascabencana. Titik utama kegiatan berada di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan total lahan yang ditanami mencapai 50 ribu hektare.

Luasan tersebut terdiri dari oplah tahun 2024 seluas 20.000 hektare, oplah tahun 2025 seluas 23.000 hektare, CSR 2025 seluas 5.000 hektare, serta rehabilitasi lahan terdampak bencana seluas 2.026 hektare.

“Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat di lapangan. Penyuluh bersama petani menjadi kunci untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan memberikan hasil optimal,” katanya.

Kementan juga mendorong pemanfaatan alat dan mesin pertanian untuk mempercepat proses tanam di berbagai daerah.

“Penggunaan alsintan seperti rice transplanter, drone pertanian, dan dukungan teknologi lainnya akan mempercepat proses tanam, meningkatkan efisiensi, serta membantu petani dalam menghadapi keterbatasan tenaga kerja,” tambahnya.

Sementara itu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mengikuti kegiatan secara daring menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, penyuluh, petani, hingga aparat di lapangan yang ikut mendukung gerakan tersebut.

“Terima kasih kepada gubernur, bupati, petani, penyuluh, hingga jajaran aparat. Ini adalah komitmen bersama untuk memperkuat swasembada pangan. Kita terus dorong tanam serempak di seluruh Indonesia,” ucapnya.

Amran menegaskan pengembangan areal tanam baru akan terus dilakukan melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan.

Langkah itu menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim dan potensi kekeringan.

Selain itu Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, mengatakan percepatan tanam menjadi strategi utama menghadapi musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncak pada Agustus 2026.

Kementan juga telah mengirim surat kepada seluruh kepala daerah untuk memperkuat langkah antisipasi kekeringan.

“Langkah-langkah mitigasi sudah kita siapkan. Mulai dari pemantauan data iklim, pemetaan wilayah rawan kekeringan, percepatan tanam, pompanisasi, hingga penguatan infrastruktur air,” jelasnya.

Sejumlah langkah yang disiapkan pemerintah antara lain percepatan tanam di akhir musim hujan, pompanisasi secara masif, serta optimalisasi lahan rawa agar produksi tetap berjalan saat lahan tadah hujan mulai mengering.

Kementan juga mendorong penggunaan benih tahan kekeringan untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cuaca panas dan keterbatasan air.

Pembangunan embung, long storage, dan sumur bor turut diperkuat untuk menjaga cadangan air di sentra pertanian.

Program percepatan tanam tersebut mendapat dukungan dari sejumlah pemerintah daerah. Salah satunya datang dari Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari.

Ia menyebutkan program oplah dan cetak sawah rakyat memberi dampak langsung terhadap peningkatan luas tanam dan produksi pertanian di daerahnya.

“Program ini menjadi berkah bagi kami. Dengan dukungan Kementan, kami optimistis meningkatkan produksi dan berkontribusi sebagai daerah penyangga pangan nasional,” ujarnya.[]

Sektor Kopi Digenjot, Kementan Siapkan Dana Rp 40 Miliar untuk Perkebunan Aceh-Sumatera

0
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono

TANIMERDEKA – Kementerian Pertanian menyiapkan anggaran Rp 30 miliar hingga Rp 40 miliar untuk program pembibitan kopi pasca bencana di wilayah Sumatera dan Aceh. Program ini menjadi bagian dari upaya pemulihan sektor perkebunan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan anggaran tersebut sudah dialokasikan. Pemerintah ingin mempercepat pemulihan produksi kopi di daerah terdampak.

“Anggarannya sudah kami siapkan tadi kurang lebih Rp 30 sampai 40 miliar untuk kopi,” kata Amran dalam keterangan tertulis yang diterima detikmerdeka.com, pada Rabu, 6 Mei 2026.

Ia menyebutkan pemerintah akan menggandeng Universitas Syiah Kuala dalam pengembangan pembibitan. Kerja sama ini diharapkan memperkuat kualitas benih kopi yang akan ditanam kembali.

“Aku sudah ketemu tadi rektor. Datang pagi-pagi dengan Pak Dijon. Kita akan kembangkan kerja sama dengan rektor Unsyiah. Bangun pembibitan. Bersama-sama bangun kembali,” ungkap Amran.

Program pembibitan menjadi langkah awal pemulihan. Pemerintah menilai ketersediaan bibit unggul sangat menentukan keberhasilan produksi jangka panjang. Wilayah Aceh, terutama Gayo, dikenal sebagai salah satu sentra kopi nasional.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyampaikan program penanaman kembali atau replanting sudah berjalan sejak dua tahun terakhir. Program ini menyasar berbagai komoditas perkebunan.

“Kalau replanting kan kami jalan sudah dari tahun lalu, ya. Kopi, kemudian kakao kami sudah, peremajaan itu semua kan?” ujar Sudaryono, pada Rabu, 29 April 2026 lalu.

Ia menjelaskan program peremajaan juga difokuskan pada kopi di wilayah Gayo. Pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk memperkuat sektor ini.

Total anggaran peremajaan sembilan komoditas perkebunan strategis mencapai Rp 9,95 triliun dalam tiga tahun. Program ini mencakup kopi, kakao, kelapa, pala, lada, mete, gambir, hingga tebu.

“Untuk bagaimana menempatkan semua sektor perkebunan kita yang tadinya juara itu kembali juara lagi. Kopi, kakao, kelapa, kemudian pala, lada, mete, kemudian gambir, termasuk tebu di situ, ya,” kata Sudaryono.

Program ini dijalankan karena banyak tanaman sudah berumur tua. Produktivitas menurun dalam beberapa tahun terakhir. Peremajaan dinilai menjadi solusi untuk meningkatkan hasil panen.

Di sisi lain, harga kopi global dan domestik mengalami kenaikan. Kondisi ini memberi peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan.

Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia mencatat harga biji kopi arabika di pasar lokal naik cukup signifikan. Kenaikan mencapai 30 persen hingga 40 persen dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu Ketua Kompartemen Industri dan Specialty Coffee AEKI, Moelyono Soesilo, menyebutkan harga saat ini berada di level tinggi.

“Sempat mencapai level tertingginya pada bulan Januari 2026 di level 10 dollar AS (per kilogram) lebih,” kata Moelyono, Jumat 24 April 2026 lalu.

Ia menjelaskan harga biji arabika naik dari sekitar 6,5 dollar AS per kilogram menjadi 9,3 hingga 9,5 dollar AS per kilogram. Tren ini dipengaruhi kondisi pasar global dan pasokan.

Kementan melihat momentum ini sebagai peluang. Pemulihan produksi kopi diharapkan bisa berjalan seiring dengan tren kenaikan harga. Petani diharapkan mendapat manfaat langsung dari kondisi tersebut.

Program pembibitan dan replanting ini menargetkan produktivitas kopi nasional kembali meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Dukungan bibit unggul dan pendampingan teknis diharapkan mempercepat pemulihan sektor perkebunan.[]

Tani Merdeka Indonesia Siap Perjuangkan Nasib Petani di Semarang

0
Pengurus Tani Merdeka Indonesia Salatiga silaturahmi dengan petani
Pengurus Tani Merdeka Indonesia Salatiga silaturahmi dengan petani

TANIMERDEKA – Tani Merdeka Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan nasib petani, peternak, dan nelayan di wilayah Semarang. Hal itu disampaikan dalam kegiatan silaturahmi bersama petani.

Koordinator Wilayah (Korwil) Keresidenan Semarang Tani Merdeka Indonesia, Beni Subagio, mengatakan Tani Merdeka Indonesia hadir sebagai wadah perjuangan nyata bagi pelaku sektor pertanian. Peran itu tidak hanya sebatas kegiatan seremonial.

“Tani Merdeka bertekad membantu petani, peternak, dan nelayan dalam memperjuangkan kebutuhan pertanian serta menyelesaikan berbagai permasalahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berbagai persoalan masih dihadapi petani di lapangan. Masalah pupuk menjadi keluhan utama. Petani sering kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Harga di tingkat kios juga kerap melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

Kondisi ini berdampak langsung pada biaya produksi. Petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjaga hasil panen tetap optimal. Situasi ini dinilai menekan keuntungan petani.

Selain pupuk, harga hasil panen juga menjadi perhatian. Beni menyebutkan harga yang diterima petani sering tidak sebanding dengan biaya produksi. Kondisi ini membuat kesejahteraan petani sulit meningkat.

Tani Merdeka Indonesia mendorong pemerintah menetapkan kebijakan harga yang lebih berpihak pada petani. Harga jual diharapkan mampu menutup biaya produksi sekaligus memberi keuntungan yang layak.

Masalah lain juga muncul di lapangan. Serangan hama tikus masih sering terjadi di sejumlah daerah. Kerusakan jaringan irigasi juga menghambat produktivitas pertanian.

Dua persoalan tersebut dinilai berisiko besar. Produksi bisa menurun bahkan berujung gagal panen jika tidak segera ditangani.

Tani Merdeka Indonesia menyatakan siap menjadi jembatan antara petani dan pemerintah. Organisasi ini membuka ruang laporan dari petani jika menemukan kelangkaan pupuk atau harga yang tidak wajar.

Laporan tersebut akan diteruskan ke pihak terkait. Tani Merdeka Indonesia juga siap mendorong penindakan jika ditemukan pelanggaran di lapangan.

Langkah ini diharapkan mempercepat penanganan masalah. Petani tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan solusi.

Organisasi ini juga menargetkan penguatan kelembagaan ke depan. Pengurus di daerah didorong lebih aktif menjangkau petani hingga tingkat desa.

Beni menegaskan Tani Merdeka Indonesia ingin berkembang menjadi organisasi yang modern dan profesional. Penguatan organisasi dinilai penting agar mampu memberi dampak nyata.

Tani Merdeka juga berupaya memperluas jaringan dengan berbagai pihak. Kolaborasi dianggap penting untuk mempercepat solusi di sektor pertanian.

Kehadiran organisasi ini diharapkan bisa membantu meningkatkan kesejahteraan petani. Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan sektor pertanian di daerah.[]

Tani Merdeka Aceh Minta BNPB Percepat Pemulihan Irigasi, Sebagian Petani Belum Bisa Turun ke Sawah

0
Cut Muhammad Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh
Cut Muhammad Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh

TANIMERDEKA – DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh mendesak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana banjir dan longsor. Desakan ini disampaikan karena banyak lahan sawah masih belum bisa digunakan.

Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh, Cut Muhammad, mengatakan kondisi di lapangan belum sepenuhnya pulih. Sejumlah wilayah terdampak masih menghadapi masalah serius pada jaringan irigasi.

“Bendungan dan sungai belum berfungsi dengan baik, fakta di lapangan, banyak sawah belum bisa digarap karena saluran irigasi masih tersumbat,” kata Cut Muhammad, pada Minggu, 3 Mei 2026.

Saluran irigasi yang tersumbat membuat aliran air tidak berjalan normal. Material lumpur, kayu, dan sisa banjir masih menutup sejumlah titik. Kondisi ini menghambat petani untuk memulai musim tanam.

Situasi tersebut berdampak langsung pada aktivitas pertanian. Banyak petani memilih menunggu karena khawatir tanaman tidak mendapat pasokan air yang cukup. Sebagian lahan bahkan masih tergenang.

Cut Muhammad menilai penanganan pemerintah masih belum menyentuh kebutuhan utama petani. Fokus penanganan dinilai masih berada pada fase tanggap darurat, sementara pemulihan infrastruktur pertanian berjalan lambat.

Menurut dia, kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut. Keterlambatan penanganan berisiko mengganggu siklus tanam dan menurunkan produksi pangan.

“Kalau irigasi tidak segera dibersihkan, petani tidak bisa turun ke sawah. Ini bukan hanya soal ekonomi petani, tapi juga ketahanan pangan daerah,” ujarnya.

Ia menegaskan petani menjadi kelompok yang paling terdampak dalam situasi pascabencana. Kerusakan lahan dan tersumbatnya irigasi membuat mereka kehilangan sumber penghasilan dalam waktu yang tidak pasti.

DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Aceh terus melakukan pemantauan di berbagai titik terdampak. Temuan di lapangan menunjukkan masih banyak saluran irigasi yang membutuhkan penanganan cepat.

Organisasi ini juga mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait untuk berkoordinasi lebih intensif. Upaya pemulihan dinilai perlu dilakukan secara terpadu agar hasilnya maksimal.

Cut Muhammad berharap BNPB segera mengambil langkah konkret. Percepatan pembersihan irigasi dan perbaikan jaringan air dinilai menjadi kunci agar petani bisa kembali beraktivitas.

Langkah cepat dianggap penting untuk menjaga stabilitas produksi pangan di Aceh. Jika tidak segera ditangani, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan pangan di tingkat daerah.