TANIMERDEKA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, sudah memberi dampak terhadap perekonomian warga sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kondisi itu terlihat di SPPG Bondowoso Pujer Mangli. Program tersebut dinilai mampu membantu petani lokal sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.
Kehadiran MBG membuat perputaran ekonomi baru mulai tumbuh, terutama di sektor pertanian dan distribusi hasil panen.
Salah satu warga yang merasakan dampaknya adalah Aprilia Ningsih, distributor sayur asal Desa Randu Cangkring, Kecamatan Pujer. Saat ini, Aprilia rutin memasok kebutuhan sayur untuk dapur MBG di SPPG Mangli.
Jenis sayur yang dipasok cukup beragam, mulai dari sawi mie, sawi pakcoy, buncis, hingga edamame. Komoditas itu menjadi kebutuhan harian untuk menu MBG.
“Setelah ada MBG, penjualan meningkat dan sayur tidak sampai menumpuk seperti dulu,” ujar Aprilia dikutip dari kabarrakyat.id.
Menurut Aprilia, sebelum program MBG berjalan, permintaan pasar sering tidak menentu. Kondisi itu membuat hasil panen petani kerap terlambat terjual.
Situasi berubah setelah dapur MBG mulai beroperasi. Kebutuhan pasokan sayur kini berlangsung rutin setiap hari.
Kenaikan permintaan juga berdampak pada harga jual komoditas pertanian. Harga buncis yang sebelumnya sempat turun hingga Rp1.500 per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp10 ribu per kilogram.
Harga sawi pakcoy juga mengalami kenaikan. Sebelumnya, harga komoditas itu berada di kisaran Rp450 ribu per kuintal. Saat ini nilainya mencapai sekitar Rp900 ribu per kuintal.
“Kalau dihitung, peningkatan nilai ekonominya bisa sampai dua kali lipat. Dulu satu keresek hanya sekitar Rp20 ribu, sekarang bisa mencapai Rp100 ribu,” jelasnya.
Aprilia mengatakan pasokan sayur diperoleh langsung dari petani lokal di sekitar wilayah Cangkring. Ia juga membantu petani dengan menyediakan bibit tanaman.
“Saya kasih bibit ke petani, nanti saat panen hasilnya dijual ke saya. Jadi sama-sama saling membantu,” katanya.
Pola kerja sama itu membuat petani memiliki kepastian pasar. Distributor juga mendapat jaminan pasokan sayur untuk kebutuhan dapur MBG.
Selain memasok ke dapur MBG, Aprilia tetap mendistribusikan hasil panen ke pasar induk Bondowoso. Langkah itu dilakukan agar distribusi tetap berjalan dan pasar semakin luas.
Menurut Aprilia, dampak paling terasa dari program MBG adalah meningkatnya semangat petani untuk kembali menanam.
“Dulu sering sekali sayur tidak laku sampai dibuang. Sekarang hampir semua hasil panen bisa terserap. Harga juga lebih stabil dan cenderung naik,” ungkapnya.
Aprilia juga ikut membina petani agar kualitas sayur sesuai standar kebutuhan dapur MBG. Salah satunya melalui pengaturan pola tanam sawi mie agar ukuran tanaman lebih besar dan masuk kategori kualitas super.
Dari sisi distribusi, Aprilia mampu mengirim hingga dua kuintal sayur per hari. Jumlah itu terdiri dari sekitar satu kuintal buncis dan 90 kilogram labu siam.
Saat permintaan menurun, pasokan tetap berada di kisaran 60 kilogram per hari.
Dengan keuntungan sekitar Rp500 per kilogram, Aprilia memperkirakan pendapatan kotornya mencapai Rp100 ribu per hari. Dalam sepekan, penghasilannya bisa mencapai Rp500 ribu atau sekitar Rp2 juta per bulan sebelum dipotong biaya operasional.
Saat ini ada sekitar enam petani yang menjadi mitra tetap pemasok kebutuhan MBG. Mereka menanam edamame, sawi daging, sawi mie, hingga timun sesuai kebutuhan pasar.
Aprilia menilai program MBG memberi kepastian pasar bagi petani dan distributor di wilayahnya.
“Sekarang petani lebih semangat karena hasil panennya jelas ada yang menampung. Jadi semua sama-sama diuntungkan,” pungkasnya.[]










