TANIMERDEKA – IPB University melalui Lembaga Riset Internasional untuk Pangan, Gizi, Kesehatan, dan Halal (LRI PGKH) menjalin kerja sama ilmiah dengan Prancis untuk mengembangkan beras fortifikasi yang ditujukan mendukung program pemenuhan gizi nasional.
Kerja sama bertajuk FortRiz (Fortified Rice for Nutrition) itu berfokus pada pengembangan inovasi beras yang diperkaya vitamin dan mineral guna membantu meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak usia sekolah.
Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Kepala LRI PGKH IPB University, Prof. Erika Budiarti Laconi, bersama Duta Besar Prancis untuk Indonesia sekaligus Presiden dan CEO Institut de Recherche pour le Développement (IRD), Valerie Verdier, di Jakarta.
Prof. Erika mengatakan, program tersebut merupakan langkah konkret memperkuat riset pangan dan gizi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kolaborasi ini bertujuan mengembangkan dan menguji beras yang diperkaya vitamin dan mineral guna meningkatkan asupan zat gizi penting bagi anak usia sekolah. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya berbasis riset untuk mendukung peningkatan kualitas gizi anak Indonesia melalui penyediaan pangan yang lebih bernutrisi,” ujar Prof. Erika.
Program FortRiz diluncurkan dalam rangka Tahun Inovasi Indonesia–Prancis 2026 sekaligus memperingati 50 tahun kehadiran IRD di Indonesia. Program ini menjadi bagian dari penguatan kerja sama ilmiah kedua negara dalam bidang pangan, kesehatan, dan gizi.
Masalah kekurangan mikronutrien masih menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi tersebut dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, kemampuan belajar, hingga produktivitas di masa depan.
Valerie Verdier menilai kolaborasi ini memiliki nilai strategis karena menjawab kebutuhan nyata masyarakat Indonesia.
“Program ini sangat relevan karena defisiensi mikronutrien masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di kalangan anak-anak Indonesia,” ujarnya.
FortRiz merupakan kolaborasi antara IRD Prancis, SEAFAST Center IPB University, Savica, dan World Food Programme (WFP). Kerja sama ini menggabungkan kemampuan riset, teknologi pangan, pengalaman pelaksanaan program makanan sekolah, serta dukungan kebijakan.
Melalui program tersebut, para peneliti akan mengembangkan kernel beras terfortifikasi, mengoptimalkan proses produksi lokal, menguji ketahanan kandungan vitamin dan mineral, menilai kualitas pencampuran beras, serta mengevaluasi tingkat penerimaan produk di kalangan anak sekolah.
Penelitian juga diarahkan untuk memastikan beras fortifikasi dapat diproduksi secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Selain berfokus pada perbaikan gizi, FortRiz turut menargetkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Program ini akan memberikan pelatihan kepada petugas dapur sekolah dan pengelola makanan terkait gizi, keamanan pangan, serta teknik fortifikasi pangan.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat implementasi program makanan bergizi di lingkungan sekolah dan meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya asupan nutrisi yang seimbang.
Hasil penelitian FortRiz nantinya diharapkan menjadi dasar ilmiah bagi perluasan penggunaan beras fortifikasi dalam berbagai program pangan dan gizi nasional. Program tersebut dapat diterapkan untuk anak usia sekolah maupun kelompok rentan lainnya yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi.
Dalam jangka panjang, kolaborasi Indonesia dan Prancis ini diproyeksikan mampu memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia yang lebih sehat dan produktif.
“FortRiz lebih dari sekadar program gizi. Ini merupakan komitmen bersama Indonesia dan Prancis untuk mengubah kerja sama ilmiah menjadi dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari meningkatkan kesehatan anak, memperkuat kapasitas lokal, memberdayakan masyarakat, hingga membangun masa depan Indonesia yang lebih sehat,” jelas dia.[]











