Kementan Gelontorkan Rp 3 Triliun untuk Jawa Timur untuk Peternakan

TANIMERDEKA – Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan dukungan anggaran sekitar Rp 3 triliun untuk Jawa Timur sepanjang 2025–2026. Pemerintah juga menyiapkan tambahan Rp 600 miliar untuk memperkuat sektor peternakan, termasuk pengembangan pembibitan ayam.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, dukungan tersebut diberikan karena Jawa Timur menjadi salah satu daerah penopang utama produksi pangan nasional. Pemerintah berharap penguatan sektor pertanian dan peternakan di provinsi itu dapat meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani dan peternak.

“Dukungan anggaran Kementan untuk Jawa Timur mencapai sekitar Rp 3 triliun sepanjang 2025–2026. Ada tambahan Rp 600 miliar untuk memperkuat sektor peternakan, termasuk pengembangan perbenihan ayam,” kata Amran melalui keterangan tertulis yang dikutip pada Rabu, 13 Oktober 2026.

Amran menilai Jawa Timur memiliki peran strategis dalam pembangunan pertanian nasional. Provinsi ini berkontribusi besar terhadap produksi sejumlah komoditas, mulai dari padi, jagung, ayam, hingga gula.

“Kami bangga dengan Jawa Timur. Produksi padinya tertinggi, sektor ayamnya kuat, jagungnya juga besar, dan gulanya nomor satu. Karena itu, dukungan anggaran Kementan untuk Jawa Timur juga menjadi yang terbesar,” ungkap Amran.

Amran menjelaskan, tambahan anggaran Rp 600 miliar akan diarahkan untuk memperkuat sektor peternakan. Salah satu fokusnya adalah pengembangan *grandparent stock* (GPS), yaitu ayam bibit yang menjadi sumber untuk menghasilkan bibit ayam generasi berikutnya.

Pengembangan GPS diharapkan dapat memperkuat pasokan day-old chick (DOC) atau anak ayam umur sehari. Dengan dukungan tersebut, Jawa Timur diharapkan semakin berkembang sebagai pusat pembibitan ayam yang mampu memasok kebutuhan berbagai daerah di Indonesia.

Selain memperkuat pembibitan, Kementan mendorong pembangunan pabrik pengolahan telur menjadi tepung telur. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil peternakan dalam negeri.

Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Tengah diharapkan dapat berperan dalam pengembangan industri tersebut. Ketiga provinsi itu dinilai memiliki potensi untuk mendukung pengolahan telur menjadi produk yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor industri.

“Kita ingin ada pabrik pengolahan telur menjadi tepung telur supaya ke depan kita bisa menghentikan impor. Potensi produksi dalam negeri harus kita perkuat dan kita dorong agar memberikan nilai tambah,” ujar Amran.

Pada sektor tanaman pangan, Amran menyebut Jawa Timur sebagai salah satu kekuatan utama dalam menjaga swasembada pangan nasional. Pemerintah, kata dia, berhasil mencapai swasembada beras lebih cepat dari rencana awal.

Menurut Amran, pemerintah semula memperkirakan swasembada beras dapat dicapai dalam empat tahun. Namun, target tersebut berhasil dicapai dalam satu tahun. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan capaian itu agar kebutuhan beras dalam negeri tetap terpenuhi.

Amran juga menyampaikan bahwa penyerapan beras oleh Perum Bulog saat ini mencapai sekitar 4,1 juta ton untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Cadangan tersebut menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga ketersediaan beras dan mendukung stabilitas pangan.

Meski produksi meningkat, Amran menilai sektor pertanian tetap membutuhkan pembaruan kebijakan dan penerapan teknologi budi daya. Cara bertani yang digunakan puluhan tahun lalu perlu dievaluasi agar sesuai dengan kondisi saat ini, terutama dalam menghadapi perubahan iklim dan tuntutan efisiensi produksi.

Peningkatan produktivitas juga perlu diikuti dengan kenaikan pendapatan petani. Karena itu, pemerintah menyiapkan dukungan benih bagi petani yang siap menerapkan teknologi untuk meningkatkan hasil panen.

“Kami ingin pendapatan petani meningkat. Dengan teknologi yang tepat, hasil produksi bisa lebih tinggi dan pendapatan petani juga semakin baik. Benih akan kami dukung melalui anggaran yang disiapkan, terutama bagi petani yang rajin dan siap menerapkannya,” kata Amran.

Pada sektor perkebunan, Amran menyoroti kontribusi Jawa Timur terhadap produksi gula nasional. Ia menyebut sekitar 50 persen produksi gula Indonesia berasal dari provinsi tersebut.

Besarnya kontribusi itu membuat penguatan sektor tebu di Jawa Timur menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan swasembada gula. Pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas kebun dan penguatan industri pengolahan agar hasil produksi memberikan nilai tambah.

Amran menekankan pentingnya menjaga kinerja pabrik gula sekaligus mempercepat peremajaan tanaman tebu milik rakyat. Peremajaan diperlukan untuk memperbaiki produktivitas tanaman dan menjaga pasokan bahan baku bagi industri gula.

“Kita kawal gula di Jawa Timur karena kontribusinya sangat besar. Ke depan, kita dorong hilirisasi dan peremajaan tebu rakyat. Targetnya, pada 2028 peremajaan ini bisa dituntaskan,” katanya.

Selain meningkatkan produksi, Amran menilai pembenahan tata niaga perlu mendapat perhatian. Peningkatan hasil pertanian dan peternakan harus diikuti distribusi yang baik agar memberikan manfaat bagi petani, peternak, dan konsumen.

Ia mencontohkan persoalan harga telur dan pakan yang membutuhkan pengawasan terhadap rantai distribusi. Pemerintah perlu memastikan produksi dapat terserap pasar dengan baik, termasuk melalui program-program pemerintah yang membutuhkan pasokan pangan.

Menurut Amran, persoalan pertanian tidak berhenti pada peningkatan produksi. Kebijakan juga perlu memastikan petani dan peternak memperoleh manfaat yang layak dari hasil usaha mereka, sementara konsumen tetap mendapatkan produk dengan harga yang wajar.

Karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha diperlukan untuk mengatasi hambatan distribusi maupun tata niaga. Kerja sama tersebut juga dibutuhkan agar tambahan anggaran dan dukungan pemerintah dapat mendorong hasil yang nyata bagi sektor pertanian.

“Kalau seluruh Indonesia bergerak bersama seperti Jawa Timur, saya kira hasilnya bisa eksponensial. Kita ingin daerah-daerah semakin kuat, petani dan peternak semakin sejahtera, dan swasembada pangan yang sudah dicapai dapat terus kita jaga,” tutur Amran.[]

Berita Terkait

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini