Swasembada Beras Tercapai, Pengamat Dorong Penggunaan Teknologi Pertanian

TANIMERDEKA – Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Kusnan, mengapresiasi capaian swasembada beras nasional. Ia menilai produksi beras yang mencapai sekitar 44 juta ton dipengaruhi kondisi iklim yang mendukung.

Namun, Kusnan mengingatkan ketahanan pangan tidak bisa hanya bergantung pada faktor iklim. Teknologi pertanian adaptif dibutuhkan untuk menghadapi ancaman kekeringan mendatang.

Kusnan menekankan pendekatan agroekologi dapat menjaga produktivitas sekaligus ekosistem.

“Agroekologi meningkatkan efisiensi sumber daya dan menjaga keseimbangan ekosistemnya,” katanya.

Ia menjelaskan agroekologi tidak membutuhkan banyak air karena mengandalkan beragam sumber daya. Sistem ini memanfaatkan mikrobiologi tanah dan pemantauan kondisi lahan secara presisi.

“Teknologi ini membantu petani bagaimana memahami kondisi lahan secara detail. Sehingga penggunaan air dan bumbu organiknya menjadi sangat efisien,” ucapnya.

Sementara itu Ketua Dewan Penasehat Perhimpunan Ekonomi Pertanian, Bustanul Arifin, menilai capaian swasembada beras penting secara strategis. Meski demikian, ia menekankan keberhasilan harus diukur dari dampaknya terhadap kesejahteraan petani dan masyarakat.

Bustanul menyebutkan data BPS per Senin 5 Januari 2026 menunjukkan produksi beras 2025 mencapai 34,61 juta ton. Angka itu melebihi kebutuhan konsumsi nasional sekitar 31 juta ton.

“Jadi masih lebih dibanding konsumsi CK. Jadi boleh diklaim menjadi swasembada,” katanya.

Menurut Bustanul, capaian produksi sangat dipengaruhi cuaca bersahabat sepanjang 2025. Ia mengingatkan pemerintah perlu bersiap menghadapi potensi bulan kering 2026.

“Sehingga sistem pengairan yang untuk men-support produksi padi kita tetap akan terus berjalan dengan baik,” kata Bustanul.[]

Berita Terkait

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini