Petani Kopi Indonesia dan Jalan Menuju Kesejahteraan

TANIMERDEKA – Indonesia kerap dijuluki surga kopi dunia. Dari Gayo di Aceh hingga Pegunungan Papua, kopi nusantara memikat penikmat global dengan aroma dan cita rasa khas.

Di balik harum secangkir kopi, masih tersimpan realitas petani kecil yang belum sepenuhnya merasakan kesejahteraan. Padahal, kopi Indonesia menyimpan potensi besar, bukan hanya sebagai komoditas ekspor, tetapi juga sebagai pintu masuk peningkatan pendapatan petani melalui inovasi, hilirisasi, dukungan kebijakan, serta peran koperasi dan generasi muda.

Indonesia kini menjadi produsen kopi terbesar keempat dunia. Produksi mencapai 758–794 ribu ton per tahun. Sekitar 78 persen berupa robusta dari dataran rendah Lampung dan Sumatera Selatan, sementara arabika tumbuh di dataran tinggi sejuk seperti Gayo, Toraja, dan Kintamani.

Keunggulan kopi Indonesia terletak pada keberagaman. Lebih dari 54 kopi nusantara telah terdaftar sebagai Indikasi Geografis. Hampir 99 persen produksi kopi berasal dari perkebunan rakyat, melibatkan lebih dari 1,8 juta petani di lahan sekitar 1,24 juta hektare. Kopi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga identitas budaya dan kebanggaan daerah.

Ekspor kopi Indonesia pada 2022 mencapai 437,6 ribu ton senilai US$1,15 miliar atau sekitar Rp19,5 triliun. Angka itu melonjak lebih dari 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Tujuan utama ekspor antara lain Amerika Serikat, Mesir, Jepang, Malaysia, dan India. Di dalam negeri, menjamurnya kedai kopi specialty turut mendorong permintaan kopi bermutu tinggi.

Produktivitas kebun rakyat relatif rendah. Banyak tanaman kopi berusia tua dan melewati puncak produktivitas. Proses peremajaan berjalan lambat. Data BPS mencatat produksi kopi nasional turun 1,4 persen pada 2022 menjadi 775 ribu ton, lalu menyusut 2,1 persen pada 2023 menjadi sekitar 759 ribu ton.

Penurunan dipicu perubahan iklim, serangan hama, keterbatasan akses teknologi, serta minimnya regenerasi petani. Program replanting perlu dipercepat untuk mengganti tanaman tua dengan bibit unggul yang lebih produktif dan adaptif. Kementerian Pertanian sejak 2025 mendorong langkah ini melalui penyediaan benih unggul, pupuk, dan pendampingan teknis.

Penerapan Good Agricultural Practices juga diperluas. Pemangkasan teratur, pemupukan berimbang, serta panen petik merah menjadi bagian penting menjaga kualitas biji.

Selain memperkuat produksi di hulu, pemerintah mendorong hilirisasi perkebunan. “Kita tidak boleh puas hanya mencapai swasembada pangan, tetapi harus menjadi lumbung pangan dunia,” tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Hilirisasi dimaknai sebagai upaya mengolah komoditas dari hulu hingga hilir di dalam negeri. Nilai tambah tidak bocor ke luar negeri, tetapi dinikmati langsung oleh petani, pelaku usaha lokal, dan perekonomian daerah.

Kopi yang semula dijual sebagai green bean berharga rendah dapat diolah menjadi kopi sangrai, bubuk, atau produk bermerek dengan nilai 3–5 kali lebih tinggi. Dampaknya tidak hanya pada pendapatan petani, tetapi juga pada penguatan ekonomi desa melalui penciptaan lapangan kerja dan tumbuhnya industri kecil.

Kementerian Pertanian berkomitmen menjadikan kopi sebagai pilar ekonomi kerakyatan. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi menjadi syarat agar kopi Indonesia kompetitif di pasar global. Standar mutu seperti SNI, sertifikasi keberlanjutan, dan Indikasi Geografis menjadi fondasi kepercayaan pasar dunia.

Kementerian Perdagangan membuka akses pasar melalui diplomasi kopi, pameran internasional, dan misi dagang. Sebanyak 50 produk kopi Indikasi Geografis Indonesia dipamerkan dalam forum WIPO di Jenewa. Pasar ekspor semakin beragam, dengan Mesir dan Aljazair muncul sebagai importir baru.

Akses pembiayaan diperkuat melalui KUR berbunga rendah, dukungan asuransi, serta investasi daerah dalam infrastruktur produksi dan logistik.

Di tingkat akar rumput, koperasi menjadi kunci. Koperasi menyatukan petani kecil agar memiliki skala ekonomi, posisi tawar, dan akses pasar lebih adil. Sejumlah koperasi kopi bahkan menembus pasar ekspor dan meningkatkan pendapatan anggota. Koperasi juga menjadi ruang regenerasi, tempat petani muda belajar bisnis kopi dari hulu hingga hilir.

Kolaborasi lintas sektor diharapkan menjaga daya saing kopi Indonesia. Harapannya, setiap cangkir kopi nusantara bukan hanya kaya rasa, tetapi juga menyimpan cerita tentang petani yang hidupnya kian sejahtera.[]

Berita Terkait

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini