TANIMERDEKA – Produksi pertanian di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, meningkat tajam. Permintaan hortikultura melonjak, terutama dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
Belum pernah sebelumnya petani kewalahan memenuhi permintaan pasar sebesar ini.
“Permintaannya banyak, petani tidak memenuhi,” ujar Gili Jenadi, petani dari Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong.
Gili bersyukur hasil tanamannya terserap dengan baik. Untuk memenuhi permintaan, ia menanam berbagai jenis tanaman di lahannya. Pertama buncis sesuai permintaan SPPG, langsung diborong habis.
Ia juga menanam tomat dan cabai keriting. Untuk jangka panjang, Gili menyiapkan brokoli.
“Tahun 2025 kemarin, saya punya bancis kurang lebih 3 ribu pohon. Terlaku habis untuk program MBG,” katanya.
Pengalaman itu membuat Gili berani menanam lebih banyak jenis hortikultura.
“Sebelumnya saya tidak berani. Kebutuhan wortel sangat tinggi sekali untuk MBG,” jelasnya.
Ia berharap program MBG terus berjalan karena memberi manfaat gizi bagi siswa sekaligus menjadi berkah bagi petani.
Pengalaman serupa dirasakan Mikael Jehudu, Ketua Kelompok Tani Harapan Baru Kelurahan Wali.
Ia menanam daun bawang, terung, dan mentimun agar terserap dapur MBG.
Mikael bercerita harga mentimun jenis baru yang ia tanam sebelumnya hanya Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram.
“Kalau di pasar umum, beberapa bulan lalu, besar-besar begini saya punya, hanya (dihargai) seribu,” kenang Mikael.
Kini harga mentimunnya naik hingga 10 kali lipat.
“Jadinya per kilogram Rp10 ribu (bahkan) Rp12 ribu,” kata dia.
Lonjakan permintaan dari program MBG membuat petani Manggarai berani memperluas jenis tanaman.
Situasi ini menunjukkan keterhubungan langsung antara kebijakan pemenuhan gizi dan peningkatan kesejahteraan petani di daerah.
