TANIMREKA – Produksi padi di Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menanjak tajam. Angka resmi menunjukkan lonjakan signifikan, menempatkan NTB sebagai salah satu penopang utama agenda swasembada pangan nasional 2026.
Setelah sempat turun pada 2024, produksi padi NTB pada 2025 melonjak hingga 1,7 juta ton gabah kering giling.
Kenaikan lebih dari 16 persen itu ditopang oleh bertambahnya luas panen puluhan ribu hektare, produktivitas yang ikut naik, serta stok benih dalam kondisi surplus.
Kenaikan ini bukan sekadar statistik tahunan. Ia menandai fase penting dalam perjalanan pertanian NTB. Dari daerah yang kerap dihantui fluktuasi iklim, keterbatasan air, dan alih fungsi lahan, NTB kini tampil lebih percaya diri sebagai basis produksi pangan.
Data menunjukkan luas panen meningkat dari 281 ribu hektare menjadi lebih dari 322 ribu hektare. Produktivitas naik tipis, dari 51 kuintal per hektare menjadi lebih dari 52 kuintal. Artinya, lonjakan produksi lebih banyak ditopang oleh perluasan area tanam, bukan semata hasil per hektare.
Program optimalisasi lahan menjadi faktor kunci. Lahan tadah hujan mulai disentuh dengan pompanisasi, sumur resapan, dan perbaikan jaringan irigasi sederhana. Indeks pertanaman perlahan meningkat. Petani yang sebelumnya hanya menanam sekali setahun kini mencoba dua kali, bahkan di beberapa lokasi bersiap menuju tiga kali tanam.
Ketersediaan benih juga berperan besar. Stok benih padi mencapai hampir dua kali lipat dari kebutuhan daerah. NTB tidak hanya aman untuk kebutuhan internal, tetapi juga mampu menyuplai provinsi lain. Sistem perbenihan mulai terkelola lebih rapi, tidak lagi menjadi titik lemah seperti tahun-tahun sebelumnya.
Namun keberhasilan ini masih rapuh. Lonjakan produksi bergantung pada program pemerintah, subsidi pupuk, harga gabah yang relatif menguntungkan, serta dukungan lintas sektor. Jika salah satu penopang goyah, capaian bisa kembali stagnan.
Sebagian besar sawah di NTB masih bergantung pada pola tadah hujan. Program optimalisasi lahan membantu, tetapi cakupannya terbatas dibanding luas baku sawah.
Kompetisi penggunaan lahan juga menjadi persoalan. Diversifikasi komoditas seperti tembakau, bawang, dan cabai memberi nilai ekonomi cepat. Namun konsekuensinya, luas tanam padi berkurang. Data menunjukkan puluhan ribu hektare sawah digunakan untuk komoditas nonpadi, menyebabkan potensi produksi hilang tidak kecil.
Lonjakan produksi juga membawa tantangan pasar. Produksi yang meningkat tanpa serapan yang baik berisiko menekan harga di tingkat petani. Penyerapan gabah dan beras menjadi krusial. Surplus tanpa manajemen stok dan distribusi efisien bisa berubah menjadi beban ekonomi.
Aspek lingkungan tak boleh diabaikan. Intensifikasi dan peningkatan indeks tanam berpotensi menekan tanah dan air. Tanpa pengelolaan berkelanjutan, produktivitas jangka panjang bisa tergerus. Swasembada yang mengejar angka tetapi mengabaikan daya dukung lingkungan akan sulit bertahan.
Menjaga Swasembada
Lonjakan produksi padi NTB harus dibaca sebagai momentum, bukan garis akhir. Tantangan ke depan adalah mengubah capaian tahunan menjadi sistem yang tahan guncangan.
Perlindungan lahan pertanian harus menjadi agenda utama. Tanpa kepastian ruang, peningkatan produksi akan selalu berhadapan dengan ancaman alih fungsi. Pengelolaan air perlu ditingkatkan dari pompanisasi darurat menuju sistem irigasi yang terencana dan adaptif terhadap iklim.
Kesejahteraan petani harus ditempatkan sebagai indikator utama. Produksi tinggi tanpa keuntungan layak akan melemahkan motivasi. Skema harga, serapan, dan akses pasar perlu diperkuat agar surplus benar-benar menjadi berkah.
Swasembada pangan harus dipahami sebagai bagian dari ketahanan nasional. Ketika NTB mampu menjaga produksi secara berkelanjutan, daerah ini tidak hanya mengamankan kebutuhan lokal, tetapi juga menopang stabilitas pangan Indonesia.
Produksi padi NTB yang melonjak adalah kabar baik. Namun ujian sesungguhnya adalah menjaga agar lonjakan itu tidak sekadar sesaat, melainkan menjadi fondasi kuat menuju kemandirian pangan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masa depan negeri.[]
