TANIMERDEKA – Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Tani Merdeka Indonesia resmi berakhir hari ini. Penutupan berlangsung di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta. Ribuan petani dari berbagai daerah hadir dalam acara yang digelar sejak 27 Agustus 2025.
Suasana rapat dipenuhi semangat. Ratusan kursi penuh. Di luar ruangan, peserta duduk dengan tertib.
Acara ini diikuti pengurus Tani Merdeka dari 30 provinsi, lebih dari 500 kabupaten/kota dan sekitar 3.000 petani hadir. Mereka datang dengan berbagai latar belakang: petani padi, pekebun sawit, petani hortikultura, nelayan, hingga pengusaha pertanian.
Acara puncak Rapimnas diisi pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Tani Merdeka Indonesia. Pelantikan dilakukan Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, yang juga Ketua Pembina Tani Merdeka Indonesia.
“Perbesar Tani Merdeka Indonesia, perluas Tani Merdeka Indonesia hingga tingkat desa, sebarkan Tani Merdeka Indonesia berlandaskan ideologi Prabowonisme,” kata Sudaryono di hadapan peserta.
Tepuk tangan panjang terdengar setelah pernyataan itu. Para pengurus berdiri. Beberapa mengangkat tangan, mengulang yel-yel Tani Merdeka.
Sudaryono menekankan kehadiran Tani Merdeka di desa sangat penting. Menurutnya, organisasi petani tidak boleh hanya berhenti di tingkat kota.
“Kalau kita ingin petani kuat, organisasi harus ada sampai desa. Jangan hanya di kabupaten atau provinsi. Kita harus masuk ke sawah, ke ladang, ke kebun. Dari situ kita mulai membangun kekuatan pangan nasional,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan kembali landasan ideologi Tani Merdeka. Prinsip itu mereka sebut sebagai Prabowonisme. Sudaryono menjelaskan, Prabowonisme bukan sekadar slogan politik. Ajaran ini mencakup kedaulatan rakyat atas tanah, air, dan pangan, serta penolakan dominasi oligarki terhadap rakyat kecil.
“Kita harus membangun Indonesia dari desa. Kita tolak dominasi oligarki. Kita pastikan petani, nelayan, dan rakyat kecil berdiri tegak di tanahnya sendiri,” katanya.
Prabowonisme menjadi istilah yang kerap muncul dalam Rapimnas kali ini. Konsep ini mengacu pada gagasan Presiden Prabowo Subianto tentang kedaulatan bangsa. Isi utamanya antara lain kedaulatan rakyat atas sumber daya, penguatan ekonomi desa, dan pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945.
Sementara itu Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, menyambut instruksi Sudaryono dengan sikap siap siaga. “Kami siap menjalankan perintah dan amanah,” tegasnya.
Menurut Don Muzakir, arahan Sudaryono bukan sekadar seremonial. Itu menjadi dasar langkah organisasi ke depan.
“Kami akan bergerak lebih luas. Kita tidak boleh berhenti di kota. Kita harus turun ke desa. Kita pastikan petani tidak berjalan sendiri. Semua program Rapimnas akan kita jalankan sampai ke akar,” kata Don Muzakir.
Ia mengingatkan Tani Merdeka lahir dari semangat kemandirian petani. Organisasi ini berdiri untuk memperjuangkan hak petani dan memastikan mereka tidak tersingkir oleh arus besar investasi yang merampas lahan.
“Petani itu bukan masa lalu. Petani adalah masa depan. Kalau kita mau Indonesia kuat, pangan harus kuat. Kalau pangan mau kuat, petani harus sejahtera,” ujarnya.
Rapimnas menghasilkan beberapa keputusan strategis. Salah satunya konsolidasi organisasi hingga tingkat desa. Semua DPW dan DPD wajib membentuk struktur sampai akar rumput.
Keputusan lain adalah dukungan penuh terhadap program pemerintah di bidang pangan. Program itu antara lain swasembada, pupuk bersubsidi tepat sasaran, pembangunan bendungan dan irigasi, serta hilirisasi produk pertanian.
Don Muzakir menegaskan bahwa Rapimnas kali ini bukan akhir, melainkan awal gerakan besar.
“Ini bukan sekadar acara. Ini langkah awal perjuangan panjang. Kita harus buktikan bahwa petani Indonesia bisa berdiri tegak dan berdaulat di negeri sendiri,” kata Don Muzakir.[]