TANIMERDEKA – Kementerian Pertanian memperkuat sinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi di berbagai daerah. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi penggerak utama penguatan infrastruktur air guna menopang produksi beras nasional.
Kementan bersama Kementerian PU menjalankan percepatan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi sepanjang 2025. Upaya ini berdampak langsung pada kinerja pangan. Produksi beras nasional 2025 diproyeksikan mencapai 34,79 juta ton, sementara cadangan beras pemerintah diperkirakan menyentuh 3,3 juta ton pada awal 2026.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pengelolaan air menjadi fondasi utama keberhasilan sektor pertanian.
“Faktor penentu keberhasilan ada pada peningkatan benih dan pupuk, juga dalam ketersediaan air,” kata Amran di Jakarta.
Percepatan rehabilitasi irigasi mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi untuk mendukung swasembada pangan nasional. Instruksi ditetapkan Presiden Prabowo Subianto pada 30 Januari 2025. Koordinasi antarkementerian dan pemerintah daerah menjadi pilar pelaksanaan di lapangan.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Hermanto, menyampaikan percepatan difokuskan pada daerah irigasi yang belum optimal menyediakan air bagi persawahan. Sekitar 60 persen jaringan irigasi nasional sebelumnya berada dalam kondisi kurang mendukung produksi.
“Dengan adanya Inpres Nomor 2 Tahun 2025, pemerintah mempercepat perbaikan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi pada daerah irigasi yang kondisinya kurang optimal,” ujar Hermanto.
Tahap pertama pelaksanaan Inpres menargetkan rehabilitasi 280.880 hektare dengan realisasi 99,93 persen. Tahap kedua mencakup 225.775 hektare dengan capaian 83,46 persen pada jaringan utama, 98,66 persen pada jaringan tersier, serta 92,25 persen pada jaringan irigasi air tanah.
Tahap ketiga terus berjalan dengan target 146.503 hektare. Realisasi jaringan utama mencapai 67,67 persen, jaringan tersier 87,57 persen, serta rehabilitasi irigasi air tanah 93,91 persen.
Hermanto menilai capaian tersebut lahir dari koordinasi intensif antara Kementan dan Kementerian PU, khususnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, serta dukungan Balai Besar Wilayah Sungai dan Balai Wilayah Sungai di daerah. Pemerintah daerah turut mempercepat pelaksanaan di lapangan.
“Capaian ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi lintas sektor, khususnya bersama Kementerian Pekerjaan Umum, serta dukungan kuat dari pemerintah daerah,” tuturnya.
Sinergi Kementan dan Kementerian PU akan terus diperkuat seiring pelaksanaan Inpres Nomor 2 Tahun 2025. Program lanjutan seperti optimasi lahan dan cetak sawah rakyat juga disiapkan. Langkah ini diarahkan untuk menjaga keberlanjutan irigasi pertanian sekaligus memantapkan jalan Indonesia menuju swasembada pangan.[]
