Swasembada pangan selama ini hanya jadi slogan. Tiap pemerintahan bicara soal ketahanan pangan. Namun, kenyataan di lapangan masih jauh. Impor beras, gula, kedelai, dan daging tetap tinggi. Petani tetap menghadapi masalah klasik: pupuk langka, harga anjlok, dan lahan menyempit.
Kini, arah berubah. Presiden Prabowo Subianto tidak sekadar menjanjikan swasembada. Ia menunjukkan langkah konkret. Pernyataan bahwa Indonesia akan swasembada pangan dalam dua tahun bukan gimik. Ini janji politik yang sedang diwujudkan secara nyata.
Produksi beras nasional memang sempat turun. Namun, Presiden Prabowo tak mengeluh. Pemerintah justru mempercepat pencetakan lahan baru, menyiapkan teknologi pertanian modern, dan mempermudah akses pupuk bersubsidi. Volume subsidi dinaikkan menjadi 9,5 juta ton pada 2025. Regulasi rumit dipangkas. Petani bisa mengakses bantuan lebih cepat.
Program penyerapan gabah oleh Bulog diperkuat. Target dinaikkan menjadi 4 juta ton. Bulog turun langsung ke lapangan. Harga pembelian pemerintah (HPP) dinaikkan menjadi Rp6.500 per kilogram. Ini disambut gembira oleh petani. Negara benar-benar hadir.
Pemerintahan Prabowo bekerja dengan strategi. Tak lagi terjebak pada jargon politik. Pemerintah bicara melalui angka. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 4 juta ton. Ini rekor tertinggi sejak Bulog berdiri. Capaian ini bukan hasil kebetulan. Ini buah dari kebijakan yang dirancang untuk hasil, bukan pencitraan.
Modernisasi pertanian menjadi fokus utama. Mekanisasi terus didorong. Teknologi tepat guna diperkenalkan ke petani. Program pelatihan diperkuat. Pemerintah paham: alat canggih tak akan berguna jika petani tidak dilibatkan sejak awal. Pendekatan teknologi harus disertai komunikasi.
Tani Merdeka Indonesia ikut bergerak. Ketua Umum DPN Tani Merdeka, Don Muzakir, memerintahkan seluruh kadernya turun ke lapangan. Mereka mendengar langsung keluhan petani. Laporan dari bawah disampaikan ke pusat. Tujuannya satu: memastikan program Presiden Prabowo sampai ke sawah dan ladang.
Rapat Pimpinan Nasional Tani Merdeka yang akan digelar 26–28 Agustus 2025 mendatang menjadi titik penting. Forum itu bukan sekadar rapat organisasi. Ini momen konsolidasi. Semua permasalahan pertanian akan dibedah. Tani Merdeka siap menjadi mitra kritis sekaligus pendukung setia program pangan nasional.
Petani mulai merasakan hasilnya. Mereka menerima bantuan alat mesin, bibit unggul, dan pupuk tepat waktu. Harga gabah stabil. Bulog hadir saat panen tiba. Tak ada lagi cerita gabah petani dibeli tengkulak dengan harga di bawah biaya produksi.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyatakan bahwa setiap program harus menyentuh langsung kehidupan petani. Pemerintah membuka ruang dialog. Aspirasi petani tak dibiarkan mengambang. Kebijakan disusun berdasarkan suara dari bawah, bukan asumsi dari balik meja.
Kebijakan pangan Presiden Prabowo bukan wacana. Semua langkah diarahkan untuk satu tujuan: kemandirian. Pemerintah tahu, negara besar harus bisa memberi makan rakyatnya dari tanah sendiri. Ketahanan pangan bukan pilihan. Ini kebutuhan mutlak.
Pemerintah juga sadar, pangan bukan hanya soal angka. Ini soal keadilan sosial. Saat produksi naik dan harga menguntungkan, petani hidup lebih layak. Kemiskinan pedesaan bisa ditekan.
Data Bank Dunia menunjukkan, kenaikan 1 persen produktivitas beras menurunkan kemiskinan desa hingga 0,5 persen.
Indonesia tidak sedang membangun pencitraan. Indonesia sedang membangun sistem pangan yang tangguh. Pemerintahan Prabowo memimpin langsung. Ia tidak tinggal di balik meja. Ia turun, mengawasi, dan memastikan program berjalan.
Langkah-langkah yang dijalankan hari ini adalah pondasi. Jika konsisten, dua tahun cukup untuk membalikkan arah. Swasembada tak lagi mimpi. Ini bisa jadi kenyataan. Petani bisa sejahtera. Impor bisa dikurangi. Negara bisa berdiri dengan kepala tegak.
Pemerintahan Prabowo sedang mengubah sejarah. Untuk pertama kalinya, negara mengelola pangan dengan pendekatan lapangan, bukan retorika. Jika semua pihak bergerak bersama, dari petani hingga birokrat, maka swasembada bukan sekadar janji. Ini takdir baru yang sedang dibentuk.
Penulis
Zulkarnaini
Pengurus DPN Tani Merdeka Indonesia
