TANIMERDEKA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bersama Food and Agriculture Organization (FAO) mendorong transformasi industri peternakan berkelanjutan. Upaya ini dilakukan melalui pendekatan ilmiah dan kolaborasi global.
Isu tersebut menjadi pembahasan dalam International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation. Forum ini dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas negara dan sektor.
Pertemuan ini mempertemukan peneliti, pembuat kebijakan, serta pelaku industri. Diskusi difokuskan pada perumusan arah baru sistem peternakan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.
Sektor peternakan memiliki peran penting dalam sistem agripangan global. Sektor ini menyuplai sekitar sepertiga kebutuhan protein dunia. Sektor tersebut juga menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 1,3 miliar orang, terutama peternak kecil di wilayah pedesaan.
Kebutuhan pangan yang terus meningkat menghadirkan tantangan baru. Sektor peternakan dihadapkan pada isu keberlanjutan, perubahan iklim, serta efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan sektor peternakan Indonesia memiliki posisi strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan perbaikan gizi.
“Pertemuan strategis ini menegaskan komitmen Indonesia dalam menjawab tantangan global melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi. Dengan memperkuat kapasitas riset dan mengadopsi praktik berkelanjutan, kita tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan sektor peternakan terhadap perubahan iklim,” ujarnya.
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menyampaikan kolaborasi dalam forum ini akan memperkuat sistem peternakan nasional.
“Diskusi dan kemitraan yang lahir dari pertemuan ini akan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem peternakan yang selaras dengan prioritas nasional dan tujuan global. FAO berkomitmen untuk terus mendukung Indonesia dalam transformasi ini melalui pendekatan berbasis sains dan kemitraan strategis,” jelasnya.
Forum ini menghadirkan berbagai sesi diskusi. Kegiatan meliputi pleno, panel pakar, serta forum ilmiah paralel yang membahas temuan terbaru di bidang peternakan berkelanjutan.
Kompetisi riset pemuda juga digelar dalam rangkaian acara. Kegiatan ini bertujuan mendorong inovasi dari generasi muda dalam sektor peternakan.
Salah satu agenda penting adalah peluncuran fase terbaru Global Livestock Environmental Assessment Model (GLEAM) dari FAO. Model ini menjadi kerangka analisis untuk mengukur dampak lingkungan dari sistem peternakan.
GLEAM juga memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan. Model ini diharapkan membantu pembuat kebijakan, peneliti, serta pelaku industri dalam menyusun kebijakan berbasis data.
Pemanfaatan model tersebut juga diarahkan untuk mengurangi dampak lingkungan. Upaya ini penting untuk menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
FAO sebelumnya telah menggelar pelatihan teknis bagi sekitar 100 pakar dan spesialis. Pelatihan tersebut membahas penggunaan model GLEAM serta pedoman teknis terbaru melalui kemitraan Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP).
Inisiatif tersebut membantu negara dalam menilai dan mengoptimalkan jasa ekosistem dalam sistem peternakan.
Asisten Direktur Jenderal FAO, Thanawat Tiensin, menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif global.
“Dunia membutuhkan visi bersama, tanggung jawab kolektif, dan pendekatan One Health sebagai solusi menyeluruh untuk transformasi peternakan yang berkelanjutan. Sains dan inovasi menjadi kunci dalam memastikan ketahanan pangan, gizi, serta keberlanjutan mata pencaharian masyarakat,” tegasnya.
Forum ini upaya memperkuat sinergi global dalam sektor peternakan. Kolaborasi berbasis sains diharapkan mampu menjawab tantangan saat ini sekaligus menjadi fondasi pembangunan agripangan yang lebih tangguh di masa depan.[]
