TANIMERDEKA – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga menjabat Menteri Pertanian menyoroti turunnya harga telur dan ayam di tingkat peternak. Menurut dia, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan karena berpotensi mengganggu keberlangsungan usaha peternak unggas di berbagai daerah.
Amran menegaskan pemerintah harus hadir untuk menjaga harga produk peternakan tetap berada pada level yang wajar dan sesuai dengan Harga Acuan Pembelian (HAP). Salah satu langkah yang disiapkan adalah meningkatkan penyerapan telur dan daging ayam melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Harga yang turun, tidak kalah pentingnya. Ini (peternak unggas) kesulitan. Telur turun drastis. Harga di peternak itu (bisa) Rp 18.000 sampai 20.000 per kilo. Kemudian ayam juga turun drastis,” ungkap Amran dalam rapat pengendalian inflasi di Jakarta.
Penurunan harga tersebut terjadi ketika produksi unggas relatif stabil, sementara serapan pasar belum mampu mengimbangi pasokan yang tersedia. Kondisi ini membuat harga di tingkat peternak tertekan dalam beberapa pekan terakhir.
Pemerintah pun berupaya menjadikan Program Makan Bergizi Gratis sebagai instrumen untuk meningkatkan konsumsi telur dan ayam sekaligus membantu menjaga harga di tingkat produsen.
Amran mengatakan koordinasi telah dilakukan dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar penggunaan telur dan ayam dalam menu MBG dapat ditingkatkan.
“Kami sudah koordinasi. MBG agar konsumsi telur dan ayamnya dinaikkan dari satu kali per minggu, kalau bisa tiga kali per minggu. Kami komunikasi langsung dengan Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) agar segera realisasikan konsumsi telur ayam, (sehingga) bisa menjadi alat kontrol untuk mengontrol harga pangan,” kata Amran.
Menurut dia, peningkatan konsumsi melalui program pemerintah dapat membantu menyerap kelebihan pasokan yang ada di tingkat peternak. Langkah tersebut juga diharapkan mampu menjaga keseimbangan harga tanpa membebani konsumen.
Data Bapanas menunjukkan harga ayam broiler di tingkat peternak mulai bergerak positif. Rata-rata harga nasional per 15 Juni 2026 tercatat sebesar Rp 22.107 per kilogram.
Angka itu naik 0,56 persen dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di level Rp 21.984 per kilogram. Jika dibandingkan dengan sepekan sebelumnya, kenaikannya masih sangat tipis, yakni sekitar 0,02 persen.
Meski mulai membaik, harga ayam di sejumlah daerah masih berada di bawah HAP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 25.000 per kilogram.
Provinsi Sumatera Selatan tercatat memiliki rata-rata harga ayam broiler tingkat peternak paling rendah, yakni Rp 18.438 per kilogram. Sementara harga tertinggi berada di Provinsi Riau yang mencapai Rp 27.000 per kilogram atau sudah melampaui HAP.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas telur ayam ras. Harga rata-rata nasional di tingkat peternak per 15 Juni 2026 tercatat Rp 24.019 per kilogram.
Sumatera Selatan kembali menjadi daerah dengan harga terendah, yakni Rp 22.000 per kilogram. Adapun harga tertinggi tercatat di Sulawesi Utara sebesar Rp 28.000 per kilogram.
Harga tersebut telah melampaui HAP telur ayam ras di tingkat peternak yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 26.500 per kilogram.
Selain mendorong penyerapan produk unggas melalui MBG, pemerintah juga berupaya menekan biaya produksi peternak. Salah satu caranya melalui Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan.
Program tersebut mulai dijalankan sejak 9 Mei 2026. Jagung pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan ayam, sehingga stabilitas harganya dinilai penting untuk menjaga keuntungan peternak.
Bapanas telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 678 miliar untuk pelaksanaan SPHP jagung pakan tahun ini.
Total alokasi yang disiapkan mencapai 242 ribu ton dan akan disalurkan hingga akhir 2026. Program tersebut menyasar lebih dari 5.000 peternak skala mikro, kecil, dan menengah di 26 provinsi.
Jumlah populasi unggas yang menjadi sasaran program itu mencapai sekitar 53 juta ekor.
Berdasarkan data Bapanas, realisasi penyaluran SPHP jagung pakan oleh Perum Bulog hingga 15 Juni 2026 telah mencapai 42,4 ribu ton. Jumlah itu setara sekitar 19,9 persen dari target sementara sebesar 213,2 ribu ton.
Pemerintah masih memproses tambahan penerima manfaat bersama Kementerian Pertanian. Sebanyak 28,8 ribu ton sisa alokasi masih dalam tahap penyesuaian untuk memperluas jangkauan program.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tren penurunan harga telur ayam ras dan daging ayam ras juga mulai terlihat di tingkat konsumen.
Hingga pekan kedua Juni 2026, sebanyak 198 kabupaten dan kota mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) telur ayam ras. Penurunan IPH daging ayam ras tercatat terjadi di 182 kabupaten dan kota.
Data tersebut menunjukkan tekanan harga tidak hanya dirasakan peternak, tetapi juga mulai tercermin pada harga yang diterima konsumen di berbagai daerah. Pemerintah berharap peningkatan penyerapan dan program stabilisasi yang sedang berjalan dapat membantu menjaga keseimbangan harga di sepanjang rantai pasok unggas nasional.[]
