TANIMERDEKA – Gerakan Tanam Padi Tetua Bali jenis Cicih Gonrong Sudaji digelar di Subak Uma Kumbuh, Desa Mas, Ubud, Gianyar, pada Selasa, 3 Februari 2026.
Kegiatan ini dilakukan Pemprov Bali bersama Bali Sri Organik sebagai upaya menjaga kedaulatan benih dan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.
Langkah ini menjadi cara melawan dominasi benih impor yang semakin masif. Bali memilih menghidupkan kembali varietas padi lokal sebagai strategi jangka panjang menjaga keberlanjutan pertanian dan sistem subak.
Cicih Gonrong Sudaji berasal dari Buleleng. Varietas ini tengah diproses melalui pemurnian dan persilangan. Usia panen yang sebelumnya 120 hari kini bisa dipangkas menjadi rata-rata 105 hari. Tanaman lebih kuat, tidak mudah rebah, serta tahan hama dan penyakit. Karakter bulu halus yang dulu tajam kini hilang. Beras yang dihasilkan dikenal pulen dan sesuai selera konsumen lokal.
Penanaman dimulai pukul 07.00 WITA. Petani subak, pegiat pertanian organik, dan pemangku kepentingan hadir untuk mendukung pelestarian benih lokal.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan padi lokal, agar varitas lokal tidak hilang.
“Varietas padi Bali bukan sekadar warisan sejarah, tetapi juga solusi menghadapi perubahan iklim serta ketergantungan terhadap benih dari luar daerah,” ujarnya.
Sunada menyebutkan hasil persilangan Cicih Gonrong Sudaji tengah diajukan sebagai varietas unggul nasional dengan nama Sri Sedana. Ia menekankan perlunya kolaborasi pemerintah, petani, komunitas, dan lembaga terkait. Tanpa kerja bersama, padi lokal Bali bisa terpinggirkan oleh benih komersial.
Subak Uma Kumbuh dipilih karena masih konsisten menerapkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan keseimbangan dengan alam.
Bali Sri Organik berharap gerakan ini menumbuhkan kesadaran petani dan masyarakat untuk menanam serta menggunakan benih lokal Bali secara berkelanjutan.
Padi Cicih Gonrong Sudaji ini menjadi simbol perlawanan terhadap ketergantungan benih impor sekaligus penguat ketahanan pangan daerah.[]
