TANIMERDEKA – Upaya mengubah sampah menjadi sumber nilai ekonomi mulai digerakkan di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas.
DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Magelang bekerja sama dengan DPD Tani Merdeka Indonesia Wilayah Khusus Masyarakat Adat Banokeling menggelar pelatihan bertajuk Sampah Kreatif dan Ramah Lingkungan: Mewujudkan Desa Pekuncen yang Mandiri.
Pelatihan berlangsung dua hari, Selasa–Rabu 27–28 Januari 2026. Sebanyak 40 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Dharma Putri Banokeling ikut serta, bersama tokoh masyarakat, pemuda adat, dan kader lingkungan setempat.
Hari pertama acara dibuka Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Banyumas, Eko Heru Surono, yang diwakili Kepala Bidang Politik Dalam Negeri dan Organisasi Kemasyarakatan, Setyo Adhi Nugroho.
Setyo mengapresiasi kolaborasi antara organisasi masyarakat dan komunitas adat. “Model seperti ini penting karena tidak hanya membangun fisik desa, tetapi juga membangun kesadaran sosial, budaya, dan kebangsaan. Ini sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat peran masyarakat sipil,” kata Setyo.
Materi awal disampaikan Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Magelang, Sri Sumirat, yang dikenal sebagai aktivis lingkungan. Ia menekankan sampah harus dipahami sebagai peluang.
“Sampah hari ini bukan sekadar limbah, tetapi sumber daya baru. Jika dikelola dengan ilmu dan kreativitas, ia bisa menjadi berkah ekonomi,” ungkap Sri Sumirat.
Malam harinya peserta menerima materi inti mengenai eco-enzym, zero waste, dan manajemen bank sampah sebagai sistem ekonomi sirkular desa.
Hari kedua dijadwalkan praktik langsung pembuatan eco-enzym dan penerapan konsep zero waste dalam rumah tangga.
Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Wilayah Khusus Masyarakat Adat Banokeling, Aris Munandar, mengatakan program ini sebagai jembatan tradisi dan modernitas.
“Bagi masyarakat Banokeling, menjaga alam adalah bagian dari laku hidup. Melalui inovasi sampah kreatif, kami ingin menunjukkan bahwa adat dan teknologi bisa berjalan berdampingan untuk kemandirian desa,” kata Aris.
Sementara itu Ketua Yayasan Dharma Putra Banokeling, Ritam, menilai kegiatan ini memperkuat peran perempuan adat dalam gerakan lingkungan.
“Ini bukan hanya soal sampah, tetapi soal menanamkan kesadaran kolektif bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Komunitas Adat Banokeling memandang Ibu Bumi sebagai sumber kehidupan dan Bapak Langit sebagai penjaga keseimbangan. Konsep spiritual itu menjadi fondasi etis dalam membangun harmoni manusia dan alam.[]
