TANIMERDEKA – Di tengah deretan rumah dan jalan kota, ada satu lahan kecil yang tak sekadar hijau, tapi hidup. Griya Farm, milik Tani Merdeka Indonesia Kota Pekalongan, berdiri di atas tanah seluas 14×8 meter. Ukurannya memang mungil, tapi semangat yang tumbuh di dalamnya tak bisa diremehkan.
Dikelola bersama oleh pengurus DPD Tani Merdeka Kota Pekalongan, Griya Farm melayani penjualan bibit tanaman, sayuran berbuah, media tanam, dan pupuk organik. Semua hasilnya dirawat langsung oleh petani muda yang percaya bahwa pertanian bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tengah kota.
Ketua DPD Tani Merdeka Kota Pekalongan, Mungki Retnosari, mengatakan Griya Farm sebagai ruang belajar sekaligus ruang usaha. Ia menekankan bahwa pertanian tidak harus menunggu lahan luas atau teknologi canggih.
“Kami memulai dari yang ada. Lahan kecil ini cukup untuk menunjukkan bahwa pertanian bisa berjalan di kota. Yang penting ada kemauan, ada kerja sama, dan ada keberanian untuk mencoba,” ujar perempuan yang akrab disapa Kikie.

Kikie juga mengatakan Griya Farm bukan hanya soal produksi, tapi soal membangun kebiasaan baru. Warga mulai datang untuk belajar, membeli, bahkan sekadar melihat bagaimana tanaman tumbuh di ruang terbatas.
“Kami ingin pertanian jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan sesuatu yang jauh, tapi dekat dan bisa dilakukan siapa saja,” tambahnya.
Griya Farm kini menjadi titik kumpul warga yang ingin mengenal pertanian lebih dekat. Beberapa warga sudah mulai menjadikan tempat ini sebagai lokasi kunjungan belajar. Komunitas lokal ikut mendukung, dan petani melenial mulai terbiasa melihat sayuran tumbuh di tengah kota.

Gerakan ini menunjukkan perubahan tidak selalu datang dari pusat. Kadang tumbuh pelan-pelan, dari halaman kecil, dari tangan-tangan yang tak menunggu, tapi bergerak duluan.
Kota Pekalongan sudah memulainya. Daerah lain tinggal menyusul, bukan karena diminta, tapi karena melihat hal seperti ini memang mungkin dilakukan.[]
